KUPANG, KOMPAS.com – Di bawah terik matahari Flores yang menyengat pada Selasa (21/4/2026), di Desa Geliting, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, seorang perempuan muda bernama Pramita Dewi (25) menunjukkan determinasi yang luar biasa. Ia melangkah mantap menuju sebuah tower Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV milik PLN, siap menjalankan tugasnya sebagai teknisi pemeliharaan jaringan transmisi di Unit Layanan Transmisi dan Gardu Induk (ULTG) Flores Timur.
Dengan mengenakan perlengkapan keselamatan lengkap—mulai dari helm panjat, sepatu khusus, full body harness, lanyard, hingga hook—Pramita bersiap menaklukkan struktur baja setinggi kurang lebih 30 meter itu. Gerakannya lincah namun penuh kehati-hatian saat ia mulai memanjat, satu per satu pijakan dilalui. Di balik postur tubuhnya yang tampak mungil di antara megahnya tower, tersembunyi tekad kuat untuk memastikan aliran listrik tetap andal bagi masyarakat.
Sempat Diragukan, Kini Jadi Inspirasi
Perjalanan Pramita ke posisi ini tidaklah instan. Bergabung dengan PLN sejak Desember 2023 setelah menyelesaikan pendidikan D3 Teknik Listrik di Politeknik Negeri Bali, penempatannya langsung di ULTG Flores Timur yang memiliki wilayah kerja sangat luas, membentang dari Maumere hingga Ende, Nagekeo, dan Ngada.
Sebagai pendatang baru, Pramita tidak hanya dihadapkan pada tantangan teknis pekerjaan yang berat, tetapi juga persepsi awal dari lingkungan sekitarnya. “Saat pertama kali masuk, banyak yang meragukan karena saya belum punya pengalaman memanjat tower,” kenangnya saat diwawancarai Kompas.com pada Rabu (22/4/2026).
Keraguan itu beralasan. Pekerjaan pemeliharaan jaringan transmisi memang identik dengan aktivitas fisik berat, risiko tinggi, dan kondisi kerja ekstrem, sebuah citra yang selama ini lebih sering melekat pada kaum laki-laki. Namun, rasa penasaran justru menjadi pemantik semangat Pramita untuk membuktikan kemampuannya.
“Saya sempat bertanya dalam hati, seperti apa rasanya memanjat tower? Dari situ saya ingin mencoba,” ujarnya. Kesempatan itu akhirnya datang. Dengan bimbingan teknisi senior dan prosedur keselamatan yang ketat, ia menjalani pengalaman pertamanya memanjat tower.
“Rasanya bangga sekali. Saya bisa melewati ketakutan dan membuktikan bahwa saya mampu,” tuturnya dengan nada penuh kepuasan.
Belajar dari Ketinggian, Bertarung dengan Alam Flores
Sejak pengalaman pertama itu, keyakinan Pramita terhadap pilihannya semakin menguat. Dukungan dari PLN, khususnya UPT Kupang, turut mempertegas langkahnya. Ia bahkan berkesempatan mengikuti pelatihan panjat tower bersertifikasi pada 2025 selama empat hari. Pelatihan ini tidak hanya mengasah fisik, tetapi juga mental dan disiplin keselamatan kerja.
“Keselamatan itu nomor satu. Semua harus sesuai standar, tidak boleh ada yang diabaikan,” tegas Pramita, menekankan pentingnya kepatuhan terhadap prosedur saat bekerja di ketinggian.
Kini, memanjat tower setinggi 30 meter bukan lagi hal yang menakutkan. Ia biasanya membutuhkan waktu sekitar 10 hingga 15 menit untuk mencapai puncak, tergantung kondisi dan ketinggian tower. Namun, pekerjaan sesungguhnya baru dimulai di atas sana, bisa berlangsung berjam-jam di bawah terik matahari atau terpaan angin kencang.
Bekerja di Pulau Flores menghadirkan tantangan unik. Kontur wilayah yang berbukit seringkali mempersulit akses menuju tower. Perjalanan menuju lokasi bisa memakan waktu dan tenaga ekstra, bahkan sebelum pekerjaan utama dimulai. Tidak jarang, Pramita dan tim harus berjalan kaki menembus medan terjal.
Selain itu, cuaca ekstrem juga menjadi faktor tak terduga. Hujan dan angin kencang kerap datang tiba-tiba, menambah tingkat risiko. “Cuaca ekstrem sering kami hadapi. Tapi dengan mitigasi risiko yang baik, kami tetap bisa bekerja dengan aman,” jelasnya.
Meski penuh tantangan, Pramita menemukan makna dalam setiap perjalanan. “Selalu ada cerita di setiap perjalanan ke lokasi. Itu yang membuat kami tetap semangat,” katanya. Ia menyadari peran besarnya dalam menjaga keandalan pasokan listrik bagi masyarakat, meski bekerja di balik layar.
“Kami mungkin bekerja di balik layar, tapi kami bangga ketika listrik tetap menyala dengan baik,” ujarnya.
Pramita juga memilih untuk tidak membatasi diri pada pekerjaan administratif. Ia tetap turun langsung ke lapangan, ingin memahami prosesnya secara langsung. “Saya ingin tahu langsung prosesnya. Dari situ saya bisa belajar lebih banyak,” katanya. Keputusan ini menjadikannya satu-satunya perempuan di PLN NTT yang aktif memanjat tower transmisi.
Dukungan dan Harapan untuk Perempuan di Sektor Energi
Perjalanan Pramita tak lepas dari dukungan keluarga, pasangan suami istri Adi Merta S. dan Santi Dewi, serta institusi tempatnya bekerja. Ia merasa PLN telah memberikan ruang yang semakin besar bagi perempuan untuk berkembang, termasuk di bidang teknis yang menantang.
“Saya merasa didukung untuk terus belajar dan berkembang,” katanya.
Ke depan, Pramita berharap semakin banyak perempuan berani keluar dari zona nyaman dan mengambil peran di berbagai bidang, termasuk ketenagalistrikan. “Saya ingin perempuan tidak merasa terbatas. Kesempatan itu ada, tinggal bagaimana kita berani mengambilnya,” ujarnya.
Ia juga berharap para “Srikandi PLN” dapat terus diberi ruang untuk berkontribusi lebih luas, tidak hanya di lapangan, tetapi juga dalam inovasi, perencanaan, hingga pelayanan kepada masyarakat.
Kartini Modern di Sektor Energi
General Manager PLN UIW NTT, F. Eko Sulistyono, menilai sosok Pramita sebagai representasi nyata “Kartini modern” di sektor energi. Menurutnya, perempuan di PLN NTT kini semakin banyak mengambil peran strategis, mulai dari pemeliharaan pembangkit, pengawasan jaringan di medan berat, hingga pelayanan pelanggan.
“Perempuan di PLN bukan sekadar pelengkap, mereka adalah penggerak utama,” ujarnya.
Eko menegaskan bahwa kontribusi para Srikandi PLN sangat penting dalam menjaga keandalan listrik di wilayah kepulauan seperti NTT, yang memiliki tantangan geografis kompleks. Peran mereka mencakup tiga pilar utama: menjaga keandalan teknis infrastruktur, memberdayakan masyarakat melalui pemanfaatan listrik, serta menghadirkan kepemimpinan berbasis empati.
“Kami melihat langsung bagaimana mereka menembus batas, menaklukkan perbukitan, menyeberangi pulau, demi memastikan listrik sampai ke masyarakat,” kata Eko.






