Regional

PKB Pati di Persimpangan: Pilih Kader atau Kekuatan Uang?

Advertisement

PATI, KOMPAS.com – Perebutan kursi ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Pati memasuki babak krusial, memunculkan aroma persaingan klasik antara kekuatan finansial dan militansi kader partai.

Di tengah proses pengusulan tujuh kandidat, sorotan tajam tertuju pada Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, yang disebut-sebut memiliki keunggulan signifikan dari sisi finansial. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan kader internal partai, seiring dengan semakin pragmatisnya lanskap politik.

Kader Senior Khawatir Politik Uang Mendominasi

Samu’in Wage, seorang kader senior PKB Pati, secara terbuka menyuarakan keresahannya. Ia mengakui bahwa sosok Chandra memang memiliki basis finansial yang kuat, namun menegaskan bahwa latar belakangnya tidak berasal dari proses kaderisasi panjang di tubuh partai.

“Kalau pak Chandra itu mungkin punya basis uang. Tetapi dia bukan kaderisasi dari awal atau yang disebut kader naturalisasi,” ujar Samu’in kepada Kompas.com pada Senin (20/4/2026).

Pernyataan ini membuka tabir dinamika internal yang selama ini beredar di kalangan terbatas. Di satu sisi, kekuatan modal besar dianggap mampu mendongkrak mesin politik partai, terutama menjelang pemilihan umum. Namun, di sisi lain, hal ini memicu kegelisahan tentang masa depan jati diri PKB sebagai partai kader.

Samu’in mengingatkan bahwa jika uang dijadikan sebagai penentu utama kepemimpinan, PKB berisiko kehilangan kepercayaan dari basis konstituennya. Ia menilai, masyarakat tidak akan tinggal diam melihat partai yang selama ini dikenal sebagai partai kader terseret arus politik uang.

Advertisement

“PKB partai kader, letakkan kader sebagai nakhoda partai untuk berlabuh menjemput masyarakat, besar dan tingginya gelombang dan badai kader sudah terbiasa ditempa dengan perjuangan,” tegasnya dengan nada serius.

Loyalitas Kader vs. Efektivitas Modal

Ketegangan dalam perebutan kursi ketua DPC PKB Pati semakin terasa nyata. Kubu yang mengedepankan kekuatan modal menjanjikan efektivitas dan daya dorong yang cepat dalam pergerakan politik. Sementara itu, kader-kader lama yang telah mengabdi bertahun-tahun menuntut penghargaan atas loyalitas dan kerja nyata mereka di akar rumput.

Bagi Samu’in, kemenangan yang dibangun semata-mata di atas kekuatan uang dianggap hanya sebagai ilusi sesaat. Ia menekankan bahwa tanpa fondasi kaderisasi yang kuat, kepemimpinan partai akan rapuh dan mudah kehilangan arah.

“Financial link sedikit agak lebih mudah ketimbang mencari sosok kader yang memiliki jati diri sebagai politikus sejati,” pungkasnya.

Advertisement