Pasar Santa, yang pernah menjadi primadona bagi anak muda Jakarta Selatan, kini dilaporkan kalah pamor dibandingkan kawasan Blok M. Sejumlah pengunjung menyebut hilangnya ruang terbuka yang nyaman untuk berlama-lama menjadi salah satu faktor utama meredupnya daya tarik pasar yang berlokasi di Jalan Cipaku I, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini.
Hafiz (25), salah satu pengunjung asal Jakarta Selatan, datang ke Pasar Santa pada akhir pekan dengan alasan nostalgia. Ia mengaku sering menghabiskan waktu di tempat itu saat masih kuliah, ketika pasar ini dikenal sebagai salah satu titik kumpul favorit anak muda.
Namun, setelah lama tidak berkunjung, Hafiz merasa suasananya kini berbeda jauh dibandingkan masa jayanya. “Dulu saya sering ke sini pas masih kuliah. Sekarang sudah jarang, ini baru datang lagi setelah lama,” kata Hafiz saat ditemui Kompas.com, Selasa (21/4/2026).
Menurut Hafiz, Pasar Santa sebenarnya masih menyimpan elemen yang dulu membuatnya populer. Tenant kopi, toko piringan hitam, hingga kios thrift masih ada dan bertahan. Namun, pengalaman ruang yang ia rasakan kini tidak lagi sama. “Kalau isi sebenarnya masih ada ya. Kopi ada, vinyl juga masih, beberapa tempat foto juga ada. Tapi rasanya sekarang beda,” ujarnya.
Hafiz menilai, salah satu faktor utama yang membuat Pasar Santa kalah pamor dibanding kawasan seperti Blok M adalah ketiadaan ruang terbuka yang bisa menjadi tempat berkumpul. Baginya, Pasar Santa lebih terasa seperti pasar dalam gedung yang tertutup, sehingga suasana keramaian sulit tercipta.
“Di Santa itu kan lebih seperti pasar dalam gedung. Tidak ada ruang terbuka yang besar, kafenya juga kecil-kecil di dalam kios,” kata Hafiz. Ia membandingkan dengan Blok M yang lebih mudah membangun atmosfer hidup karena ruang publiknya lebih terbuka. Di sana, orang bisa berjalan kaki, duduk di luar, berpindah dari satu titik ke titik lain, sekaligus menikmati keramaian.
Bagi Hafiz, Blok M saat ini lebih terasa sebagai destinasi, bukan sekadar tempat singgah. Keramaian di sana menciptakan efek domino yang membuat orang betah lebih lama. Sebaliknya, Pasar Santa menurut Hafiz kini lebih sering terbaca sebagai pasar modern biasa. Walaupun masih ada tenant kreatif, semuanya terasa terpecah di dalam gedung tanpa area komunal yang besar.
“Kalau Santa sekarang, jujur ya, lebih kayak pasar modern saja. Masih ada kopi, tapi kecil-kecil di dalam,” ujar Hafiz.
Ia menilai, karena ruangnya tertutup dan tidak ada area terbuka yang menjadi pusat aktivitas, pengunjung cenderung tidak bertahan lama. Orang datang, membeli sesuatu, melihat-lihat sebentar, lalu keluar. “Jadi orang datang, beli, lihat-lihat, habis itu keluar. Tidak ada tempat buat benar-benar nongkrong lama,” kata Hafiz.
Hafiz menegaskan, persoalan Pasar Santa bukan terletak pada kualitas tenant. Ia masih melihat beberapa kios memiliki konsep yang menarik. Namun, pengalaman ruang yang tidak mendukung membuat suasana Pasar Santa sulit berkembang sebagai destinasi anak muda. “Bukan berarti tenant-nya jelek ya. Masih ada yang bagus. Tapi pengalaman ruangnya itu yang beda,” ujar Hafiz.
Bagi Hafiz, Blok M berhasil membentuk pengalaman “wisata anak muda” yang lebih jelas, sementara Pasar Santa kehilangan positioning. “Blok M itu dari awal sudah terasa seperti tempat tujuan. Santa sekarang lebih seperti tempat lewat,” kata Hafiz.
Pengunjung Lain Rasakan Hal Serupa
Pengunjung lain, Andra (27), karyawan swasta, juga mengaku kini jarang datang ke Pasar Santa. Ia menyebut kunjungannya hanya terjadi sesekali, terutama ketika ingin nostalgia atau ada teman yang mengajak.
“Enggak sering sih sekarang. Paling kalau lagi lewat atau lagi pengin nostalgia aja. Dulu sekitar 2016–2019 saya cukup sering ke sini, hampir tiap minggu,” kata Andra.
Ia masih mengingat masa ketika Pasar Santa terasa hidup, meski bukan keramaian yang bising. Dulu, menurut Andra, suasana di sana punya vibes yang sangat berbeda. Tempatnya ramai, tetapi bukan keramaian yang bising. Justru terasa lebih hidup, dengan orang-orang mengantre kopi, musik yang sesekali terdengar, serta deretan tenant unik yang membuat kawasan itu semakin menarik.
Namun kini, menurut Andra, perubahan tenant yang cepat dan banyak kios tutup membuat pengunjung kehilangan tujuan spesifik. Jika dulu ia sudah hafal harus mampir ke kios tertentu, sekarang banyak yang sudah tutup atau pindah.
“Sekarang lebih sepi, itu jelas. Terus tenant juga banyak yang berubah-ubah. Dulu kan sudah hafal mau ke mana, sekarang agak bingung karena beberapa tutup atau pindah,” kata Andra.
Andra menilai Blok M saat ini lebih menarik karena kawasan itu terasa lebih rapi dan dinamis. Banyak tempat baru bermunculan, sehingga pengunjung selalu punya alasan untuk kembali. “Kalau Blok M sekarang lebih hidup sih. Saya juga sering ke sana. Lebih rapi, lebih banyak pilihan baru, dan selalu ada hal yang bikin orang balik lagi,” ujar Andra.
Vivian (23), mahasiswi yang datang bersama temannya, juga mengaku merasakan kesan serupa. Ia sudah beberapa kali datang ke Pasar Santa sejak 2022, tetapi tidak rutin. Ia mengatakan, kunjungan kali ini membuatnya merasa Pasar Santa semakin sepi dibanding sebelumnya.
Vivian datang karena ingin mencari tempat yang berbeda dari coffee shop biasa. Ia penasaran dengan cerita Pasar Santa sebagai tempat anak kreatif. Namun, setelah tiba, ia merasa suasana yang ditemuinya tidak sesuai ekspektasi. “Tapi sekarang beberapa lantai ada yang kosong, jadi kesannya kurang hidup,” ujar Vivian.
Vivian menilai anak muda kini lebih memilih kawasan seperti Blok M karena lebih nyaman untuk duduk lama. Selain itu, suasana di Blok M terasa lebih konsisten. “Soalnya lebih banyak pilihan, lebih enak buat duduk lama, dan suasananya lebih konsisten,” kata Vivian.
Bara (30), seorang freelancer yang dulu menjadi pengunjung rutin Pasar Santa pada 2015-2018, menyebut Blok M kini mengambil peran yang dulu dipegang Pasar Santa. Ia mengaku sudah jarang datang ke Pasar Santa karena suasananya tidak lagi sehidup dulu.
Menurut Bara, Blok M berkembang lebih aktif karena terus menghadirkan hal baru. Sementara Pasar Santa, menurutnya, seolah berhenti di satu fase. “Blok M sekarang kayak mengambil peran yang dulu dipegang Santa. Lebih ramai, lebih aktif, dan terus ada hal baru. Santa itu sekarang lebih diam,” ujar Bara.
Sheila (25), pekerja kreatif yang datang karena ajakan teman, menyebut Pasar Santa kini lebih terasa seperti tempat bersejarah. Ia masih menganggapnya menarik, tetapi bukan lagi pilihan utama. “Saya tahu ini dulu tempat hype, tapi sekarang lebih tenang. Ada beberapa bagian yang ramai, tapi tidak menyatu,” kata Sheila.
Ia menilai Blok M lebih hidup karena punya banyak spot yang saling terhubung. Pengunjung bisa berpindah-pindah tempat tanpa merasa suasananya terputus.
Pasar dalam Gedung, Ruang Terbuka Terbatas
Pantauan Kompas.com di Pasar Santa, Jalan Cipaku I No. 1, Petogogan, Kebayoran Baru, Selasa (21/4/2026) siang, menunjukkan suasana pasar yang lengang. Begitu memasuki pintu utama, lorong-lorong tampak sepi dengan deretan kios yang banyak tertutup rolling door.
Bangunan Pasar Santa berdiri dalam bentuk gedung tiga lantai yang lebih menyerupai pasar modern dalam ruangan. Ruang terbuka yang bisa menjadi tempat berkumpul tidak banyak tersedia. Area yang relatif terbuka justru lebih terasa di lantai tiga, sementara lantai dasar dan lantai dua didominasi kios pedagang serta lorong pasar yang sempit.
Di lantai dasar, pengunjung masih dapat menemukan kios yang menjual kebutuhan fungsional seperti perlengkapan rumah tangga, pakaian, hingga toko emas. Beberapa jasa seperti tukang jahit, toko ponsel, alat tulis, dan peralatan ulang tahun masih bertahan. Namun, aktivitas perdagangan berlangsung dalam ritme lambat. Banyak pedagang lebih sering duduk menunggu pelanggan.
Saat naik ke lantai dua, suasana sedikit berbeda karena tenant kopi, thrift, hingga toko piringan hitam masih bertahan. Meski begitu, kesan sepi tetap terasa karena banyak kios kosong dan beberapa tenant yang tidak buka pada siang hari.
Pasar Santa memiliki karakteristik jam operasional yang unik. Secara bangunan, pasar terbuka selama 24 jam. Namun, jam buka tenant bergantung pada kebijakan masing-masing. Sebagian besar tenant lantai atas baru beroperasi mulai pukul 11.00 hingga 20.00 WIB, sementara kios kebutuhan harian di lantai dasar biasanya buka lebih pagi.
Meredupnya pamor Pasar Santa terlihat jelas dari banyaknya kios terbengkalai. Beberapa pedagang meninggalkan pasar karena pemasukan tidak lagi mampu menutupi biaya operasional. Kini, hanya tenant dengan pelanggan setia yang masih bertahan.
Pedagang Bertahan di Tengah Sepinya Pengunjung
Di lantai dua, Fathan (27), pemilik kedai kopi yang sudah berjualan sejak 2016, menjadi saksi hidup masa ketika Pasar Santa berada dalam “golden era“. Ia menyebut masa itu sebagai periode paling stabil sekaligus paling ramai.
“Dulu itu bisa dibilang golden era. Sehari omzet bisa Rp2 juta sampai Rp3 juta, bahkan lebih kalau ada event atau weekend panjang,” kata Fathan saat ditemui di kiosnya.
Namun kini situasinya berubah jauh. Ia mengaku omzet hariannya turun drastis. “Sekarang rata-rata harian itu di Rp500 sampai Rp1 juta. Kadang bisa di bawah itu kalau weekday sepi,” ujar Fathan.
Penurunan menurut Fathan bukan hanya soal jumlah pengunjung, melainkan juga soal perubahan perilaku. Pengunjung yang datang kini lebih cepat dan tidak lagi betah duduk lama seperti dulu. Ia menilai perubahan ekosistem tempat nongkrong anak muda menjadi faktor besar. Dulu Pasar Santa menjadi salah satu pusat, tetapi kini banyak tempat baru yang lebih rapi dan lebih nyaman.
“Sekarang sudah banyak pilihan, coffee shop standalone, mal baru, tempat yang lebih rapi, lebih nyaman, lebih konsisten branding-nya,” ucap Fathan.
Fathan juga menyoroti hilangnya kurasi tenant yang dulu membuat identitas Pasar Santa kuat. Saat itu, konsep yang diusung jelas, seperti kopi, vinyl, thrift, dan zine, sehingga karakter tempatnya terasa khas. Namun kini, menurutnya, konsep tersebut mulai bercampur tanpa arah yang tegas sehingga membuat orang bingung melihat Pasar Santa sebenarnya ingin dikenal sebagai apa.
Ia tidak menampik bahwa perubahan tren di media sosial juga membuat Pasar Santa kehilangan sorotan. Meski demikian, Fathan masih melihat peluang jika ada pembaruan konsep yang serius. “Kalau ada rebranding yang serius, masih bisa hidup lagi. Lokasi ini sebenarnya masih strategis,” ujar Fathan.
Theo (28), penjual kaos dan barang thrift di lantai dua yang sudah berjualan sejak 2017, juga merasakan kondisi serupa. Ia mengaku pendapatan hariannya turun ekstrem dibanding masa ramai. “Dulu saya bisa dapat Rp800 sampai Rp1,5 juta sehari, terutama kalau weekend. Anak-anak datang memang buat cari barang unik,” kata Theo saat ditemui.
Namun sekarang, omzet yang ia dapat jauh lebih kecil. Penghasilan harian yang berkisar Rp 200.000 hingga Rp 400.000 sudah dianggap cukup baik. Bahkan, dalam beberapa hari tertentu, ia hanya membawa pulang sedikit di atas Rp 100.000.
Theo menilai penurunan terjadi bertahap. Setelah pandemi sempat ada harapan, tetapi lama-lama jumlah pengunjung terus berkurang. Menurutnya, perubahan pola belanja juga memukul pedagang thrift karena banyak transaksi beralih ke platform online.
“Sekarang thrift juga banyak online. Jadi orang tidak perlu datang langsung. Mereka tinggal scroll, pilih, bayar,” ujar Theo.
Theo menilai Pasar Santa kini kehilangan magnet utamanya. Tidak ada lagi satu hal yang benar-benar kuat untuk menarik orang datang. Ia menambahkan banyaknya kios kosong ikut memberi efek psikologis. Pengunjung yang naik ke lantai atas sering langsung enggan melanjutkan ketika melihat lorong-lorong yang sebagian besar tutup.
“Kalau orang naik ke atas dan lihat banyak yang tutup, ya mereka malas lanjut jalan,” ujar Theo.
Di lantai dasar, Warni (52), pedagang perlengkapan plastik rumah tangga yang sudah berjualan sejak 2010, mengatakan sepinya pengunjung tidak hanya dirasakan tenant kreatif, tetapi juga pedagang kebutuhan rumah tangga. “Dulu awal saya jualan di sini masih rame banget. Orang keluar masuk terus, jadi ikut keangkat juga jualan di bawah,” kata Warni saat ditemui.
Ia mengingat masa 2014 hingga sebelum pandemi sebagai periode ketika efek keramaian tenant anak muda menular ke lantai bawah. Namun beberapa tahun terakhir, suasana berubah cukup signifikan. “Sekarang lebih sepi. Masih ada yang belanja, tapi bukan yang ramai seperti dulu. Orang sekarang lebih cepat, datang langsung beli lalu pulang,” ucap Warni.
Warni mengaku pendapatannya ikut turun. Ia menyebut belanja online ikut memengaruhi kebiasaan masyarakat. Meski pendapatan menurun, Warni memilih bertahan karena tidak banyak pilihan. “Sewa tetap jalan, jadi ya mau tidak mau bertahan. Pindah juga belum tentu lebih laku,” kata Warni.
Di lantai dua, Kusnadi (49), penjahit yang mulai membuka jasa permak pakaian pada 2019, menyebut ia sempat merasakan masa transisi sebelum Pasar Santa benar-benar sepi. “Sehari bisa Rp400 ribu sampai Rp700 ribu. Masih ada yang datang khusus ke sini,” kata Kusnadi.
Namun kini, ia menyebut pengunjung semakin jarang naik ke lantai atas. Kusnadi menyebut banyak pengunjung kini hanya beraktivitas di lantai bawah, lalu langsung keluar tanpa menelusuri lantai dua dan tiga. “Sekarang orang jarang naik ke atas. Banyak yang cuma di bawah atau langsung keluar,” tutur Kusnadi.
Sepi tapi Pasar Masih Berjalan
Di pintu masuk Pasar Santa, Agus (bukan nama sebenarnya) (55), satpam yang sudah bertugas beberapa tahun terakhir, mengakui kondisi pasar memang tidak seramai dulu. Ia menjadi salah satu orang yang melihat langsung naik-turunnya aktivitas di pasar tersebut.
“Iya sekarang lebih sepi dibanding dulu. Kalau dulu kan rame terus, terutama lantai atas. Sekarang ya lebih pelan,” kata Agus saat ditemui.
Menurutnya, keramaian masih ada, tetapi lebih terasa saat akhir pekan. Namun sejumlah kios yang tutup membuat pasar terlihat kosong. Meski begitu, tidak semua kios benar-benar berhenti, melainkan ada tenant yang buka tidak setiap hari. “Memang ada beberapa yang tutup. Ada yang sementara, ada juga yang sudah lama tidak buka lagi,” ujar Agus.
Menurutnya, pergantian tenant yang cepat membuat lorong pasar tampak tidak stabil. “Kadang buka, kadang tutup. Jadi kelihatan kosong di beberapa titik,” kata Agus.
Ruang Terbuka dan Viral Menentukan Hidupnya Ruang Kota
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat menilai meredupnya Pasar Santa merupakan bagian dari perubahan sosial di ruang kota. Ia mengatakan, Pasar Santa sebelumnya dikenal sebagai ruang kreatif anak muda Jakarta Selatan dan sempat menjadi landmark ikonik, tetapi kini mengalami penurunan meski masih memiliki banyak tenant serta produk berkualitas.
Menurut Rakhmat, pada awalnya Pasar Santa berhasil membangun komunitas erat antara pengunjung dan pedagang, sekaligus menawarkan ruang ekspresi kultural dan kreatif. Namun, daya tarik sosial itu perlahan memudar karena tren anak muda berubah dan kebutuhan konsumsi ikut bergeser.
“Pasar Santa dalam hal ini meskipun memiliki banyak tenant dan produk berkualitas mungkin sudah kehilangan daya tarik sosial karena tidak mampu mengikuti perubahan tren konsumsi dan kebutuhan sosial tersebut,” ujar Rakhmat saat dihubungi.
Ia menilai keterbatasan ruang fisik Pasar Santa juga memengaruhi daya tariknya. Berbeda dengan Blok M yang lebih luas dan terintegrasi, ruang yang terbatas dinilai membuat pengalaman sosial pengunjung tidak sekuat kawasan yang memiliki lebih banyak ruang terbuka.
Selain itu, Rakhmat menyebut momentum viral dan jejaring sosial turut menentukan hidup-matinya sebuah ruang kota. Ia menilai Blok M mendapat keuntungan karena lebih dulu viral, sementara Pasar Santa tidak memperoleh eksposur yang cukup untuk menciptakan buzz baru.
“Nah memang secara sosiologis ya momentum viral dan jejaring sosial itu memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan mati hidupnya sebuah ruang kota,” ujar Rakhmat.






