Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI, Mochamad Irfan Yusuf, memastikan bahwa biaya katering untuk jemaah haji Indonesia tidak akan mengalami kenaikan meskipun terjadi gejolak geopolitik di Timur Tengah. Pihak penyedia layanan katering pun tidak mengajukan permintaan perubahan harga.
“Tidak ada perubahan. Pihak-pihak katering juga tidak ada minta pertambahan perubahan-perubahan harga,” ujar Gus Irfan saat ditemui di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, pada Selasa (21/4/2026).
Gus Irfan mengakui adanya fluktuasi harga bahan baku di pasar domestik Arab Saudi. Namun, hingga kini, para penyedia jasa katering belum menginformasikan adanya penyesuaian harga.
“Tapi kita juga memang melihat di pasar di lokal sana memang ada fluktuasi harga. Mudah-mudahan itu tidak berpengaruh pada kualitas makanan,” katanya.
Kesiapan Katering di Madinah
Sebelumnya, Kepala Seksi Konsumsi Daerah Kerja (Daker) Madinah, Beny Darmawan, menjelaskan bahwa sebanyak 23 dapur katering dikerahkan untuk melayani jemaah haji Indonesia di Madinah. Selama kurang lebih sembilan hari berada di Madinah, setiap jemaah akan mendapatkan 27 kali makan, atau tiga kali sehari, yang disesuaikan dengan pola makan masyarakat Indonesia.
“Tidak hanya jumlah, kualitas makanan juga menjadi perhatian utama agar tetap sesuai dengan selera jemaah,” ujar Beny.
Untuk menjaga cita rasa khas Indonesia, seluruh bumbu masakan didatangkan langsung dari Tanah Air dalam bentuk pasta racikan. Selain itu, setiap dapur diwajibkan memiliki minimal dua koki utama dan empat asisten yang berasal dari Indonesia.
“Ketentuan ini wajib dipenuhi dan seluruh dapur telah melaksanakannya,” tegas Beny.
Beny menambahkan bahwa kesiapan layanan konsumsi telah mencapai 100 persen menjelang kedatangan gelombang pertama jemaah haji pada Rabu (22/4/2026).






