Regional

Lakon Kartini Muda dari Bandung, Keteguhan Zahra Memeluk Masa Depan Adik-adiknya

Advertisement

BANDUNG, KOMPAS.com – Di usianya yang baru menginjak 21 tahun, Fatimah Azzahra, warga Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, terpaksa memanggul tanggung jawab besar sebagai tulang punggung keluarga. Ia menjadi sosok ibu sekaligus kepala keluarga bagi kedua adiknya, Muhamad Raihan Nur Wahid (18) dan Muhamad Fadel Ramdan (13), setelah ayah mereka meninggal dunia dan sang ibu menikah lagi.

Zahra, begitu ia akrab disapa, telah menjalankan peran ini sejak duduk di bangku kelas satu Sekolah Menengah Atas. Ia secara sigap mengambil alih tugas merawat kedua adiknya yang saat itu masih duduk di bangku SMP dan SD.

“Sejak saya SMA kelas satu, adik-adik sudah saya yang merawat. Waktu itu yang kedua masih SMP dan yang bungsu masih SD,” ujar Zahra saat ditemui di kediamannya, Rabu (22/4/2026).

Pilar Keluarga yang Runtuh

Ujian berat mulai dihadapi Zahra pada tahun 2020 ketika sang ayah, yang merupakan pilar utama keluarga, meninggal dunia. Kepergiannya tidak hanya menyisakan duka mendalam, tetapi juga kekosongan struktural dalam hal ekonomi dan emosional keluarga.

Situasi semakin pelik ketika sang ibu memutuskan untuk menikah lagi dan pindah ke Lembang bersama suami barunya. Sejak saat itu, rumah sederhana mereka di Maruyung menjadi saksi bisu perjuangan tiga bersaudara ini untuk bertahan hidup.

Zahra, yang saat itu belum memiliki pekerjaan tetap, harus berjuang keras setiap hari demi memastikan kedua adiknya tetap bisa melanjutkan pendidikan. “Sudah lima tahun ayah meninggal dan mama sudah menikah lagi. Sekarang kami tinggal bertiga saja,” tuturnya dengan nada tegar.

Persoalan ekonomi kerap kali memaksa mereka menghadapi situasi yang sulit. Tak jarang, dapur mereka tak terisi makanan. “Kadang kalau ada rezeki dari pemberian ibu atau kerabat, kami makan. Kalau tidak ada, ya kami berpuasa bersama adik-adik,” ungkapnya tanpa nada keluhan.

Ujian di Tengah Bencana

Beban yang dipikul Zahra semakin bertambah ketika rumah mereka dilanda musibah bencana alam pada Oktober 2025. Hujan deras, angin kencang, serta getaran sisa gempa dari wilayah Kertasari meruntuhkan atap dan dinding rumah yang sudah lapuk dimakan usia.

Advertisement

“Kami sedang tidur saat itu. Tiba-tiba ada suara gemuruh dan genteng langsung jatuh menimpa saya, kena di bagian pinggang,” kenang Zahra, menceritakan detik-detik mengerikan saat bencana terjadi.

Demi keselamatan, Zahra segera memboyong kedua adiknya untuk menumpang di rumah sang paman. Rumah lama mereka terpaksa dirobohkan total karena kondisinya yang sudah tidak aman.

Meski demikian, secercah harapan mulai muncul seiring dengan komitmen dari pemerintah daerah, relawan, dan yayasan sosial yang berencana membangun kembali rumah mereka.

Harapan yang Tetap Tegak

Bagi Zahra, memastikan Raihan dan Fadel tetap bersekolah adalah prioritas utama yang tidak boleh gagal. Ia rela menomorduakan mimpinya sendiri demi memberikan “senjata” berupa ilmu pengetahuan kepada adik-adiknya agar dapat menghadapi masa depan.

Bantuan dari bibinya, adik dari sang ibu, menjadi penyambung kehidupan sehari-hari mereka. Meskipun hidup dalam ketidakpastian ekonomi, Zahra tetap berdiri tegak sebagai pelindung, tidak hanya menyediakan tempat bernaung, tetapi juga menanamkan nilai-nilai ketabahan kepada adik-adiknya.

“Saya hanya ingin punya rumah yang nyaman dan aman supaya bisa tenang tinggal bersama adik-adik,” ucapnya lirih.

Di atas puing-puing rumahnya, Zahra tetap menatap langit dengan harapan. Ia percaya, masa depan adik-adiknya akan tetap cerah, secerah semangat Kartini yang ia warisi.

Advertisement