Regional

Keluh Sopir Truk di Palangka Raya Usai Dexlite Naik: Mending Tidur, Uang Hasil Kerja Cuma Habis di Minyak

Advertisement

PALANGKA RAYA – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Dexlite yang signifikan sejak Sabtu (18/4/2026) dilaporkan memukul sektor transportasi di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Para sopir truk mengeluhkan operasional yang membengkak dan antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang memangkas waktu kerja mereka secara drastis. Kondisi ini membuat sebagian sopir merasa frustrasi karena pendapatan harian mereka terancam habis hanya untuk menutupi biaya bahan bakar.

“Lebih baik kita enggak usah kerja, mending tidur. Capek kerja enggak ada hasil, habis di minyak saja,” keluh Acep (29), seorang sopir truk minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), saat ditemui di SPBU Jalan Tjilik Riwut Km 2, Palangka Raya, Senin (20/4/2026).

Lonjakan Harga dan Penurunan Produktivitas

Acep menjelaskan bahwa harga Dexlite yang sebelumnya berkisar Rp 14.500 per liter, kini melonjak hingga Rp 24.150 per liter. Kenaikan yang hampir mencapai 100 persen ini diperparah dengan durasi antrean di SPBU yang bisa memakan waktu seharian penuh. Akibatnya, produktivitas para sopir dilaporkan menurun tajam.

Jika sebelumnya mereka mampu menyelesaikan satu rit pengantaran dalam sehari, kini satu rit membutuhkan waktu hingga tiga hari. “Dampaknya otomatis return terhambat. Belum lagi antre minyak begini, sekali pengantaran butuh waktu tiga hari karena kami harus menunggu dari pagi sampai sore hanya untuk mengisi tangki,” ujarnya.

Uang Jalan Tak Cukup dan Stok Terbatas

Meskipun pemilik perusahaan telah menaikkan uang jalan dari Rp 1,5 juta menjadi Rp 2,5 juta, para sopir mengaku jumlah tersebut tetap tidak mencukupi. Dana tersebut tidak hanya tersedot untuk biaya BBM, tetapi juga untuk kebutuhan makan dan operasional selama menunggu antrean panjang.

Persoalan ketersediaan stok juga menjadi kendala serius. Tak jarang, setelah mengantre berjam-jam, petugas SPBU menginformasikan bahwa stok telah habis. Hal ini memaksa sopir untuk berkeliling mencari SPBU lain atau terpaksa membeli BBM di tingkat eceran dengan harga yang jauh lebih mahal.

Advertisement

“Kadang habis 10 liter cuma buat keliling nyari minyak. Di SPBU juga dibatasi, ada yang cuma boleh isi 70 liter, bahkan ada yang cuma 40 liter, padahal tangki kami kapasitasnya 100 liter,” imbuh Acep.

Dugaan Penimbunan dan Dampak Global

Sopir senior lainnya, Bambang (61), menyebut bahwa antrean panjang yang terjadi selama sebulan terakhir dipicu oleh isu kelangkaan stok akibat konflik global. Namun, ia juga tidak menampik adanya dugaan penimbunan oleh oknum tertentu yang memperkeruh situasi di lapangan.

“Katanya dampak perang, sampai buat pasokan ke kita berkurang. Tapi biasanya ada juga yang menimbun, mereka beli banyak kemudian disimpan,” tutur pria asal Kereng Bangkirai tersebut.

Kondisi ini diharapkan segera mendapat perhatian dari pihak terkait, mengingat kelancaran distribusi logistik seperti CPO sangat bergantung pada kestabilan harga dan ketersediaan BBM nonsubsidi di wilayah Kalimantan Tengah.

Advertisement