Tren

Intelijen AS Sebut Iran Masih Punya 40–60 Persen Alat Tempur Jelang Akhir Gencatan Senjata

Advertisement

Iran dilaporkan terus memperkuat stok rudal dan drone mereka menjelang berakhirnya periode gencatan senjata dengan Amerika Serikat dan Israel. Intelijen Amerika Serikat menyebutkan cadangan persenjataan Iran masih tersisa 40 hingga 60 persen dari jumlah awal sebelum serangan dilancarkan.

Gencatan senjata yang dimediasi Pakistan di Islamabad pada Rabu, 8 April 2026, itu rencananya akan berakhir dalam dua hari ke depan, tepatnya pada Rabu, 22 April 2026. Konflik antara Iran dengan koalisi AS-Israel sendiri bermula dari serangan yang dilancarkan pada Sabtu, 28 Februari 2026, yang kemudian dibalas Iran dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Cadangan Senjata Iran Disebut Masih Melimpah

Pejabat intelijen dan militer Amerika Serikat menyatakan bahwa Iran masih mempertahankan sebagian besar persenjataan militernya meskipun telah menjadi sasaran serangan selama berminggu-minggu. Iran disebut masih menyimpan sekitar 40 persen drone pra-perangnya dan lebih dari 60 persen peluncur rudalnya.

Lebih dari 100 sistem peluncur rudal yang disembunyikan di gua dan bunker dilaporkan telah ditemukan sejak gencatan senjata dimulai. Hal ini mengindikasikan bahwa Iran secara aktif memulihkan kapasitas operasionalnya. Iran juga dilaporkan berupaya mengevakuasi rudal yang terkubur di bawah reruntuhan setelah serangan terhadap gudang dan fasilitas bawah tanah.

Perkiraan menunjukkan Iran dapat merebut kembali hingga 70 persen persenjataan pra-perangnya setelah upaya pemulihan rampung. Meskipun infrastruktur manufaktur senjatanya mengalami kerusakan parah, para pejabat AS meyakini Iran masih memiliki persenjataan yang cukup untuk mengancam jalur pelayaran di Selat Hormuz di masa mendatang.

Analis menilai strategi pencegahan Teheran semakin mengandalkan geografi dan kemampuan asimetris. “Sekarang semua orang tahu bahwa jika terjadi konflik di masa depan, menutup selat itu akan menjadi hal pertama yang ada dalam rencana Iran,” ujar Danny Citrinowicz, mantan pejabat intelijen militer Israel.

Meskipun kapal perang AS mampu mencegat ancaman yang datang, para pejabat mencatat bahwa “kapal tanker komersial memiliki sedikit pertahanan.”

Iran Bangun Kembali Cadangan Rudal dan Drone Selama Gencatan Senjata

Media Iran, Tasnim, melaporkan pada Minggu, 19 April 2026, bahwa Komandan Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Majid Mousavi, menyatakan bahwa mereka sedang membangun kembali cadangan rudal dan drone. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kesiapan operasional Iran selama periode gencatan senjata.

Advertisement

Dalam unggahan media sosialnya, Mousavi merilis cuplikan pemeliharaan dan rekonstruksi persediaan rudal dan drone. Ia menyebutkan momentum pengisian platform peluncur rudal dan drone bahkan telah melampaui tingkat sebelum perang.

“Kita memiliki informasi bahwa musuh tidak mampu menciptakan kondisi seperti itu untuk dirinya sendiri dan terpaksa mendatangkan amunisi dari belahan dunia lain secara bertahap,” kata Mousavi.

Mousavi juga menekankan bahwa Amerika Serikat dan Israel telah kalah dalam perang agresi terhadap Iran, dan akan kembali kalah dalam tahap perang ini. “Mereka juga kalah dalam tahap perang ini! Mereka telah kehilangan Selat Hormuz, dan mereka juga telah kehilangan Lebanon dan kawasan ini,” tegasnya.

Tanggapan Rusia dan Media Israel

Menurut sebuah laporan, Rusia juga telah memberikan tanggapannya mengenai implikasi strategis dari situasi tersebut. Wakil Kepala Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, menyatakan, “Satu hal yang pasti, Iran telah menguji senjata nuklirnya. Itu disebut Selat Hormuz. Potensinya tak terbatas.”

Hingga kini, Iran masih menahan diri untuk tidak melakukan eskalasi langsung terhadap tindakan angkatan laut AS, termasuk blokade yang telah mengganggu perdagangan maritim. Para pejabat mencatat bahwa perdagangan maritim menyumbang sekitar 90 persen dari aktivitas ekonomi Iran, diperkirakan sebesar 340 juta dolar AS per hari, yang sebagian besar telah terhenti dalam beberapa hari terakhir.

Sementara itu, media Israel, The Jerusalem Post, menanggapi pernyataan Iran dengan menyebutkan bahwa video dalam unggahan Mousavi tidak dapat diverifikasi dan diduga merupakan hasil editan. Meski demikian, AS maupun Israel belum secara resmi memberikan tanggapan atas klaim tersebut.

Media Israel tersebut juga melaporkan adanya penemuan peluncur rudal yang diarahkan ke Israel pada Sabtu, 18 April 2026. Peluncur rudal tersebut diklaim siap menyerang jika gencatan senjata tidak tercapai antara Israel dan Lebanon. Ancaman dari Iran juga mendorong Presiden AS Donald Trump untuk meningkatkan tekanan terhadap Israel agar mencapai kesepakatan dengan Lebanon, dan mengumumkan pada Jumat, 17 April 2026, bahwa Israel dilarang mengebom Lebanon lagi.

Advertisement