Pakistan terus berupaya mempertemukan kembali Amerika Serikat dan Iran di meja perundingan, menyusul kegagalan putaran pertama negosiasi yang digelar akhir pekan lalu. Seorang sumber yang mengetahui jalannya perundingan menyebutkan bahwa kedua negara berpeluang melanjutkan kembali pembicaraan paling cepat pada Kamis (23/4/2026), meskipun belum ada rencana pasti yang ditetapkan.
Upaya diplomasi ini menghadapi tantangan baru setelah Amerika Serikat menyita kapal kargo berbendera Iran, yang diidentifikasi sebagai kapal Touska. Tindakan AS tersebut memicu respons keras dari Iran, yang mengancam akan melakukan aksi balasan. Teheran bahkan menyatakan tidak akan menghadiri negosiasi kecuali AS mencabut blokade Selat Hormuz.
Perang yang telah berlangsung selama tujuh minggu ini telah menimbulkan gejolak di pasar global dan mengganggu ekonomi dunia akibat terputusnya jalur pengiriman melalui Selat Hormuz. Serangan udara yang terjadi juga dilaporkan telah menghancurkan infrastruktur militer dan sipil di kawasan tersebut.
Progres Signifikan dalam Putaran Pertama
Meskipun diwarnai ketegangan, putaran pertama negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat di Islamabad, Pakistan, dilaporkan mencapai kemajuan signifikan. Sumber menyebutkan bahwa kedua belah pihak hampir mencapai kesepakatan, dengan progres mencapai sekitar 80 persen. Kemajuan ini dicapai hanya empat hari setelah pengumuman gencatan senjata.
Pertemuan tersebut merupakan kontak langsung pertama antara pejabat kedua negara dalam lebih dari satu dekade dan menjadi yang paling tinggi tingkatannya sejak Revolusi Iran. Amerika Serikat diwakili oleh Wakil Presiden JD Vance, sementara Iran dihadiri oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya memuji “pekerjaan hebat” yang dilakukan oleh Panglima Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, dalam memediasi putaran pertama pembicaraan. Trump juga memberi sinyal bahwa tim AS kemungkinan akan kembali ke Islamabad untuk melanjutkan negosiasi. “Saya rasa Anda akan menyaksikan dua hari yang luar biasa ke depan,” ujar Trump, mengisyaratkan bahwa perpanjangan gencatan senjata setelah 21 April mungkin tidak diperlukan.
Sejumlah pejabat dari Pakistan, Iran, dan negara-negara Teluk menyatakan bahwa delegasi negosiasi dari kedua pihak berpeluang kembali ke Pakistan pada akhir pekan ini. Namun, seorang sumber senior Iran menegaskan bahwa jadwal pastinya belum ditentukan.
“Kami telah menghubungi Iran dan mendapat respons positif bahwa mereka akan terbuka untuk putaran kedua pembicaraan,” kata seorang pejabat senior di pemerintahan Pakistan. Para pejabat Pakistan telah mengirimkan proposal kepada AS dan Iran untuk mengirimkan kembali delegasi mereka guna melanjutkan pembicaraan.
Vance mengakui bahwa AS ingin membuat kesepakatan besar, namun hubungan kedua negara masih diliputi ketidakpercayaan. “Anda tidak akan menyelesaikan masalah itu dalam semalam,” katanya.
Pakistan Terus Mendorong Perundingan
Papan reklame bertuliskan “Perundingan Islamabad” masih terpampang di luar Hotel Serena, ibu kota Pakistan, menandakan upaya berkelanjutan negara tersebut dalam memfasilitasi dialog.
“Belum ada tanggal pasti yang ditetapkan, dengan delegasi-delegasi tersebut tetap membuka waktu dari Jumat hingga Minggu,” kata seorang sumber senior Iran kepada Reuters. Desas-desus di kalangan diplomatik Islamabad menyebutkan bahwa pemerintah Pakistan terus mendorong Amerika dan Iran untuk kembali duduk bersama demi mencapai kesepakatan dan perpanjangan gencatan senjata, atau bahkan resolusi penuh.
“Ada pasang surut (putaran pertama]. Ada momen-momen menegangkan. Orang-orang meninggalkan ruangan, lalu kembali lagi,” kata sumber keamanan yang enggan disebutkan namanya. Perwakilan Pakistan, termasuk Panglima Angkatan Darat Asim Munir dan Menteri Luar Negeri Ishaq Dar, dilaporkan bolak-balik antara kedua pihak sepanjang malam untuk menjaga agar proses negosiasi tetap berjalan sesuai rencana.
Direktur Pelaksana Pakistan Institute for Conflict and Security Studies, Abdullah Khan, kepada The Independent menyatakan, “Para pejabat Pakistan terlibat dengan kedua negara tersebut dan masih terus berupaya. Meskipun belum ada terobosan, upaya ini telah membuahkan hasil, kita telah melihat bahwa belum ada serangan udara yang dilanjutkan dari Israel atau Amerika terhadap Iran hingga saat ini.”
Khan menambahkan bahwa Pakistan juga membujuk Iran untuk tidak lagi menargetkan negara-negara Teluk. Menurutnya, kemajuan ini cukup untuk menunjukkan bahwa putaran kedua layak dilakukan. “Amerika Serikat jelas telah memberikan daftar mereka kepada Iran dan hanya sedikit yang perlu disepakati. Kita dapat mengatakan bahwa sebagian besar isu telah disepakati, termasuk isu nuklir dan beberapa isu penting lainnya yang perlu disepakati,” kata Khan.
Isu-isu utama yang menjadi perhatian Vance meliputi pembukaan kembali Selat Hormuz, program nuklir Iran, dan sanksi internasional. Jalur transit vital bagi pasokan energi global tersebut diblokir oleh Iran setelah AS menyerang Republik Islam dan menewaskan pemimpin tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei.
Tawaran AS dan Tuntutan Iran
Amerika Serikat telah mendesak Iran untuk menghentikan ambisi nuklirnya. AS mengusulkan moratorium pengayaan uranium selama 20 tahun oleh Iran sebagai bagian dari usulan perjanjian nuklir. Namun, pejabat Iran dilaporkan menanggapi dengan periode yang jauh lebih pendek, yakni pembekuan program selama 5 tahun, menurut laporan Axios.
Vance menginstruksikan pejabat Iran untuk membongkar semua fasilitas pengayaan nuklir utama, menyerahkan uranium yang sangat diperkaya, serta menerima kerangka kerja keamanan yang lebih luas. Kerangka kerja tersebut mencakup sekutu regional, penghentian pendanaan untuk proksi regional, dan pembukaan penuh Selat Hormuz tanpa pungutan biaya yang tinggi.
Sebagai imbalannya, Iran meminta jaminan gencatan senjata permanen dari AS, larangan serangan di masa mendatang terhadap Iran dan sekutunya di kawasan itu. Teheran juga menuntut pencabutan sanksi primer dan sekunder, pencairan seluruh aset, pengakuan atas haknya untuk memperkaya uranium, dan kelanjutan kendali Iran atas Selat Hormuz, demikian dilaporkan oleh sumber-sumber kepada Reuters.
Ketegangan meningkat pada Selasa (14/4/2026) ketika AS menyatakan telah memblokade pelabuhan Iran, dan Teheran mengancam akan menyerang target di seluruh wilayah tersebut. Namun, Trump, yang juga berupaya mencari jalan keluar dari konflik ini, menyatakan bahwa kesepakatan lebih baik daripada kembali melakukan serangan udara.
“Hasilnya bisa beragam, tetapi saya pikir kesepakatan lebih baik karena dengan begitu mereka [Iran] dapat membangun kembali,” kata Trump, menurut unggahan reporter ABC News Jonathan Karl di X.






