Tren

Belajar dari Kasus Balita Tewas di Kediri, Tidak Bolehkah Menitipkan Anak ke Neneknya?

Advertisement

Kasus tragis balita berinisial MAM (4) di Kediri, Jawa Timur, yang meninggal dunia dengan luka lebam akibat dugaan penganiayaan oleh neneknya sendiri, S (64), memicu pertanyaan mengenai praktik pengasuhan anak oleh kakek-nenek di Indonesia. Peristiwa ini menyoroti kompleksitas di balik keputusan menitipkan anak kepada orang tua.

Menurut Kasatreskrim Polres Kediri Kota, Achmad Elyasarif Martadinata, kejadian bermula ketika pelaku kesal karena korban dan cucunya yang lain tidak patuh terhadap perintah makan dan tidur siang. Dalam kondisi emosi, S dilaporkan memukul korban menggunakan gagang sapu dan pipa paralon hingga menyebabkan kematian. “Akibat kekerasan tersebut, korban akhirnya meninggal dunia,” ujar Achmad, seperti dilansir Kompas.com, Jumat (17/4/2026). Setelah kejadian, korban sempat ditemukan oleh ibu kandungnya yang baru pulang bekerja dalam kondisi berada di dalam timba berisi air.

Polisi telah menetapkan S sebagai tersangka dan menahannya. Ia terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara. Kasus ini menjadi cerminan dari praktik umum di Indonesia, di mana banyak orang tua menitipkan anak kepada kakek-nenek karena berbagai alasan, termasuk tuntutan pekerjaan.

Psikolog: Bukan Nenek yang Salah, Tapi Kondisi Pengasuhan

Psikolog sekaligus Dosen Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Ratna Yunita Setiyani Subardjo, menekankan bahwa kasus ini tidak seharusnya digeneralisasi sebagai larangan mutlak bagi nenek untuk mengasuh cucu. “Turut berduka untuk anak yang menjadi korban. Kasus seperti ini berat. Dari perspektif psikologi, jawabannya tidak sesederhana ‘nenek enggak boleh ngasuh cucu’,” kata Ratna saat dihubungi Kompas.com pada Minggu (19/4/2026).

Ratna menjelaskan bahwa pengasuhan oleh kakek atau nenek tidak secara inheren salah. Secara psikologis, praktik grandparenting justru dapat memberikan banyak manfaat, seperti mempererat ikatan lintas generasi, transmisi nilai, dan menjaga kelekatan anak dengan keluarga inti. “Banyak penelitian menunjukkan anak yang diasuh nenek-kakek dengan secure attachment (kelekatan yang aman) justru tumbuh stabil,” ujarnya.

Inti permasalahan, menurut Ratna, bukanlah siapa yang mengasuh, melainkan bagaimana kualitas dan kondisi pengasuhannya.

Advertisement

Faktor Risiko Pengasuh Lansia

Ratna mengidentifikasi beberapa faktor risiko yang perlu diwaspadai ketika lansia menjadi pengasuh anak:

  • Beban Pengasuhan Tidak Proporsional: Nenek yang sudah lanjut usia dan diminta mengasuh balita secara penuh waktu tanpa dukungan yang memadai dapat mengalami kelelahan fisik dan emosional. “Fisiknya gampang capek karena memang lanjut usia sudah lemah, emosi gampang meledak. Ini namanya beban dan stres pengasuhan,” jelas Ratna.
  • Riwayat Pola Asuh dan Regulasi Emosi: Jika pengasuh memiliki riwayat pola asuh yang menganggap kekerasan sebagai hal wajar dan kurangnya pembelajaran mengenai regulasi emosi, respons otomatis saat anak rewel bisa berupa kekerasan. “Ini bisa jadi soal siklus kekerasan antargenerasi,” tuturnya.
  • Absennya Edukasi dan Dukungan: Banyak kakek-nenek yang belum mendapatkan pengetahuan terkini mengenai parenting anak. “Cara asuh 40 tahun lalu belum tentu aman untuk standar proteksi anak saat ini,” kata Ratna.
  • Faktor Situasional: Masalah ekonomi, konflik keluarga, kesehatan mental pengasuh, atau anak dengan kebutuhan khusus juga dapat menjadi pemicu stres dalam pengasuhan. “Kekerasan anak 90 persen terjadi karena impuls dan stres, bukan niat membunuh,” tegas Ratna.

Pertimbangan Nenek Bisa Mengasuh Cucu

Menjawab pertanyaan apakah nenek tidak seharusnya mengasuh cucu, Ratna menegaskan bahwa hal tersebut tidak dapat digeneralisasi. “Yang tepat adalah tidak semua nenek siap dan mampu mengasuh penuh waktu tanpa dukungan,” katanya. Ini serupa dengan tidak semua orang tua biologis otomatis siap menjadi orang tua.

Beberapa faktor yang menentukan kesiapan nenek dalam mengasuh cucu meliputi:

  • Kapasitas fisik dan mental pengasuh.
  • Keberadaan sistem pendukung yang memadai, termasuk keterlibatan orang tua biologis, adanya jeda istirahat, dan bantuan finansial.
  • Kesamaan pola asuh antara orang tua dan nenek, serta komitmen untuk tidak menggunakan kekerasan.

Saran Psikolog untuk Penitipan Anak ke Nenek

Ratna memberikan sejumlah saran bagi keluarga, masyarakat, dan sistem terkait pengasuhan anak oleh nenek:

  • Untuk Keluarga: Sebelum menitipkan anak, penting untuk memeriksa kesanggupan, kesediaan, dan kesehatan calon pengasuh. Orang tua juga disarankan membuat kesepakatan dengan kakek-nenek mengenai pengasuhan tanpa kekerasan. Selain itu, orang tua harus tetap menjadi pengasuh utama, meskipun dari jarak jauh, dengan rutin berkomunikasi, melibatkan kakek-nenek dalam pengambilan keputusan, dan tidak lepas tangan.
  • Untuk Sistem: Kasus ini mencerminkan krisis childcare di Indonesia. Ratna menyarankan negara untuk hadir melalui penyediaan PAUD terjangkau, cuti orang tua yang fleksibel, dan edukasi parenting positif untuk semua generasi.
  • Untuk Masyarakat: Penting untuk menghentikan normalisasi perilaku kekerasan dengan dalih mendisiplinkan anak. “Intinya, yang membunuh bukan status ‘nenek’ tapi kombinasi stres berlebih, ketidaktahuan manajemen emosi, dan absennya sistem pendukung,” jelas Ratna.

Solusi terbaik, menurut Ratna, bukanlah melarang nenek mengasuh cucu, melainkan memastikan bahwa siapa pun pengasuhnya memiliki kapasitas, dukungan, serta komitmen nol kekerasan dan terpantau. “Kasus ini tragis, dan semoga jadi pengingat kita semua bahwa mengasuh anak itu kerja tim. Tidak bisa dibebankan ke satu orang lansia saja,” pungkas Ratna.

Advertisement