Regional

Farhan Targetkan Kawasan Asia Afrika Masuk Warisan Dunia UNESCO dalam 4 Tahun

Advertisement

Pemerintah Kota Bandung secara resmi mengusulkan kawasan Jalan Asia Afrika kepada United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) untuk diakui sebagai warisan budaya dunia. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pelestarian kawasan bersejarah yang memegang peranan krusial dalam sejarah modern, terutama terkait Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Usulan ini sekaligus menegaskan komitmen Pemkot Bandung dalam menjaga nilai historis serta meningkatkan daya tarik kawasan tersebut sebagai destinasi budaya dan edukasi.

Kawasan Jalan Asia Afrika Diusulkan Menjadi Warisan Dunia UNESCO

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyatakan bahwa usulan tersebut mencakup area Jalan Asia Afrika, membentang dari Simpang Lima hingga ruas Otista. “Kami mengajukan agar memulai proses untuk mendaftarkan kawasan Jalan Asia Afrika dari Simpang Lima sampai ruas Otista itu sebagai kawasan warisan dunia dari UNESCO,” ujar Farhan di Bandung, Jawa Barat, Senin (20/4/2026), dikutip dari Antara. Ia menambahkan bahwa usulan ini tidak hanya terbatas pada ruas jalan, tetapi juga mencakup bangunan-bangunan bersejarah yang memiliki nilai penting, termasuk Gedung Dwi Warna. Kawasan ini dinilai memiliki nilai historis yang sangat tinggi karena pernah menjadi saksi bisu peristiwa penting dalam sejarah dunia, khususnya momentum solidaritas negara-negara Asia dan Afrika dalam perjuangan melawan kolonialisme.

Proses Penetapan UNESCO Membutuhkan Waktu dan Kajian Mendalam

Farhan menjelaskan bahwa proses pengajuan kawasan menjadi warisan dunia UNESCO memerlukan kajian mendalam dan analisis akademis yang kuat. “Prosesnya memang panjang, kami harus memastikan bahwa ada kajian dan analisis yang sangat tajam dan kuat secara akademis untuk menentukan wilayah Asia Afrika ini sebagai kawasan yang layak,” tuturnya. Ia menargetkan dalam kurun waktu empat tahun ke depan, kawasan tersebut dapat resmi masuk sebagai kandidat warisan dunia. Sebagai catatan, Kota Bandung sebelumnya telah memperoleh pengakuan sebagai Memory of the World untuk peristiwa Konferensi Asia Afrika tahun 1955 pada tahun 2015.

Strategi Pemkot Bandung untuk Mendukung Usulan

Dalam rangka mendukung proses pengajuan ini, Pemerintah Kota Bandung akan melaksanakan berbagai program penataan kawasan. Beberapa langkah strategis yang akan diambil antara lain:

Advertisement

  • Revitalisasi kawasan Simpang Lima.
  • Perbaikan bangunan-bangunan yang mengalami kerusakan akibat vandalisme.
  • Optimalisasi fungsi gedung-gedung bersejarah.

“Kami juga akan berkoordinasi dengan pemilik gedung agar dapat difungsikan secara optimal dan mendukung kawasan ini sebagai destinasi bersejarah,” tambah Farhan. Beberapa gedung yang menjadi fokus perhatian adalah Gedung Jiwasraya, Suarha, dan Gedung Karya Nusantara, yang dinilai belum dimanfaatkan secara maksimal.

Keberlanjutan Aktivitas Kawasan Menjadi Syarat Penting

Farhan menekankan bahwa salah satu syarat krusial dalam penetapan warisan dunia adalah keberlanjutan aktivitas di kawasan tersebut. Oleh karena itu, Pemkot Bandung berencana untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan di kawasan Jalan Asia Afrika agar tetap hidup dan menarik bagi masyarakat maupun wisatawan. “Itu sebabnya saya sangat bahagia sekali Pak Menteri Kebudayaan, Pak Fadli Zon datang ke Bandung membuat acara khusus seperti ini (peringatan KAA). Ini luar biasa, memberikan nilai tambah yang sangat tinggi sekali,” ujarnya, dikutip dari TribunJabar.id. Kegiatan budaya dan peringatan sejarah dinilai mampu memperkuat identitas kawasan sekaligus meningkatkan nilai tambah dalam proses pengajuan ke UNESCO.

Peran Pemerintah Pusat dalam Proses Pengajuan

Pengajuan kawasan Jalan Asia Afrika sebagai warisan dunia ini dilakukan melalui jalur pemerintah pusat sejak Agustus 2025 dan saat ini masih dalam tahap kajian. Pemerintah pusat, melalui kementerian terkait, akan melakukan evaluasi terhadap kelayakan kawasan berdasarkan berbagai aspek, termasuk nilai sejarah, keaslian, serta keberlanjutan pengelolaannya. “Ditambah lagi nanti dengan satu gedung yaitu Gedung Dwiwarna. Nanti dari Kemenlu akan update, ini menjadi bagian-bagian dari kawasan warisan dunia untuk sejarah modern dari UNESCO,” pungkas Farhan.

Advertisement