Sebanyak 14 dari 16 kecamatan di Kabupaten Bandung Barat berpotensi tinggi mengalami bencana kekeringan pada musim kemarau 2026. Kondisi ini dipicu oleh dampak fenomena El Nino yang diperkirakan akan menurunkan curah hujan secara signifikan di wilayah tersebut.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat mencatat hanya dua kecamatan, yakni Batujajar dan Saguling, yang berada pada kategori risiko sedang. Sementara itu, mayoritas wilayah lainnya berpotensi menghadapi krisis air bersih hingga terganggunya sektor pertanian.
Strategi Mitigasi BPBD Bandung Barat
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bandung Barat, Dedi Supriadi, menyatakan bahwa BPBD telah mulai mematangkan strategi mitigasi untuk menekan dampak kekeringan yang diprediksi meluas.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Mitigasi harus dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan seluruh stakeholder, mulai dari pengelolaan air, pertanian, hingga kesiapsiagaan kebakaran,” kata Dedi saat dikonfirmasi, Senin (20/4/2026).
BPBD menyiapkan langkah mitigasi lintas sektor. Salah satu fokus utamanya adalah optimalisasi pengelolaan sumber daya air di waduk dan bendungan untuk menjaga ketersediaan air bersih selama musim kemarau.
Selain itu, skenario tanggap darurat juga telah disusun, termasuk perencanaan distribusi air bersih menggunakan tangki ke wilayah-wilayah prioritas yang diprediksi terdampak kekeringan.
“Kami siapkan skenario distribusi air bersih dan pemetaan wilayah prioritas. Jangan sampai saat krisis terjadi, kami terlambat bergerak,” ujar Dedi.
Penyesuaian Sektor Pertanian
Di sektor pertanian, BPBD berkoordinasi dengan dinas terkait untuk melakukan penyesuaian kalender tanam. Tujuannya adalah untuk menggunakan varietas benih yang lebih tahan terhadap kondisi kering, guna menekan risiko gagal panen.
“Penyesuaian pola tanam harus dilakukan. Ini untuk menghindari kerugian besar di sektor pertanian,” tegas Dedi.
Peningkatan Kewaspadaan Karhutla
Selain ancaman kekeringan, BPBD juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang cenderung meningkat saat musim kemarau ekstrem.
Koordinasi dengan dinas pemadam kebakaran dan Perhutani telah dilakukan untuk memastikan kesiapan personel dan peralatan dalam merespons potensi kebakaran. BPBD juga akan melakukan edukasi kepada masyarakat terkait dampak asap.
“Kami siagakan petugas dan peralatan untuk mengantisipasi karhutla serta melakukan edukasi kepada masyarakat terkait dampak asap,” paparnya.
Seluruh langkah mitigasi ini akan dijalankan melalui skema koordinasi terpadu lintas sektor, termasuk penguatan kesiapsiagaan dan penyebaran informasi peringatan dini kepada masyarakat.
“Koordinasi menjadi kunci. Kami ingin semua pihak siap, mulai dari pemerintah daerah hingga masyarakat agar dampak El Nino bisa diminimalkan,” tandasnya.
Prediksi mengenai musim kemarau 2026 di Jawa Barat datang lebih cepat dengan curah hujan di bawah normal ini sebelumnya telah disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yang secara keseluruhan meningkatkan potensi kekeringan di berbagai wilayah, termasuk Bandung Barat.





