Regional

Diolok-olok 9 Siswa, Ibu Guru Syamsiah di Purwakarta Pilih Memaafkan

Advertisement

PURWAKARTA, KOMPAS.com – Syamsiah, seorang guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di SMAN 1 Purwakarta, menunjukkan sikap mulia dengan memaafkan sembilan siswanya yang mengolok-olok dirinya hingga videonya viral di media sosial. Guru yang akrab disapa “Bu Atun” ini memilih fokus pada pembimbingan akhlak ketimbang menempuh jalur hukum.

Keputusan ini didasari keyakinan Syamsiah bahwa peran utama pendidik adalah membimbing dan memperbaiki moral generasi muda. Ia merasa cukup melihat para siswa menyadari dan menyesali perbuatan mereka.

“Saya sudah sangat memaafkan, bahkan mendoakan. Mereka juga menangis menyadari kesalahannya. Kewajiban saya sebagai guru adalah memaafkan agar mereka bisa menjadi generasi yang berakhlak,” ujar Syamsiah saat memberikan keterangan pada Senin (20/4/2026).

Syamsiah, yang telah mengabdikan diri sebagai pendidik sejak tahun 2003, memegang teguh prinsip bahwa kenakalan siswa merupakan fase yang dapat diatasi melalui pendidikan yang konsisten dan penuh kesabaran. Ia menegaskan tidak akan membawa masalah ini ke ranah hukum.

“Saya tidak akan pernah melapor. Mindset saya adalah ingin mengubah anak didik menjadi orang yang berakhlak tinggi dan selamat dunia akhirat. Yang salah tidak selamanya salah, yang nakal tidak selamanya nakal. Perubahan itu butuh proses,” tuturnya.

Kronologi di Balik Video Viral

Insiden yang berujung pada viralnya video tersebut terjadi pada Kamis (16/4/2026) di kelas XI IPS, usai kegiatan belajar mengajar mata pelajaran pengolahan makanan. Syamsiah mengaku tidak menyadari bahwa tindakan provokatif siswa tersebut direkam.

“Saya tidak tahu kalau direkam. Awalnya mereka salaman, bahkan mau foto bersama. Saya hargai mereka, padahal saya harus mengajar di kelas lain,” jelasnya.

Advertisement

Meskipun sempat merasakan kesedihan secara personal, Syamsiah memilih untuk menguatkan diri melalui keikhlasan. Ia meyakini bahwa luka hati yang dirasakannya dapat disembuhkan dengan komitmennya untuk menyelamatkan masa depan anak didiknya.

Sanksi Pembinaan, Bukan Skorsing

Meskipun Syamsiah telah memberikan maaf secara pribadi, proses evaluasi di tingkat institusi tetap berjalan. Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, memastikan bahwa kesembilan siswa tersebut tidak akan dikeluarkan dari sekolah. Mereka akan menjalani masa pembinaan intensif selama tiga bulan.

Langkah ini sejalan dengan saran Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang menekankan pentingnya sanksi yang bersifat mendidik. Pemberian sanksi seperti kerja sosial membersihkan fasilitas sekolah dinilai lebih efektif daripada skorsing yang justru menjauhkan siswa dari lingkungan pendidikan.

Melalui kejadian ini, Syamsiah berharap pendidikan karakter dan adab kembali menjadi prioritas utama dalam dunia pendidikan.

“Adab itu hal utama. Tugas guru adalah terus sabar dan membimbing,” ujar Syamsiah.

“Saya sayang kepada siswa. Semakin mereka salah, semakin saya ingin membimbingnya. Saya ingin mereka menjadi generasi yang berilmu dan berakhlak,” sambungnya.

Advertisement