Money

Di Balik Gejolak Harga, Emas Tetap Jadi Aset Diversifikasi

Advertisement

JAKARTA, KOMPAS.com — Lonjakan harga emas yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir memicu pertanyaan di kalangan pelaku pasar keuangan global mengenai potensi perubahan struktural dalam kinerja aset mulia tersebut. World Gold Council (WGC) dalam analisis terbarunya mencoba mengurai dinamika ini, menyimpulkan bahwa volatilitas yang meningkat lebih mencerminkan kondisi pasar jangka pendek daripada pergeseran fundamental jangka panjang.

Dalam laporan bertajuk “You asked, we answered: Has gold’s performance structurally changed?” yang dirilis pada Selasa (21/4/2026), WGC mengamati bahwa lonjakan volatilitas emas, yang menembus kisaran historis atasnya dan mencapai persentil tertinggi sejak 1971, dipicu oleh kombinasi faktor makroekonomi dan geopolitik.

Volatilitas Meningkat, Namun Bukan Fenomena Baru

Faktor-faktor pemicu tersebut antara lain perubahan ekspektasi mengenai pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, penguatan dolar AS, serta aksi ambil untung oleh investor setelah reli harga emas yang dinilai terlalu cepat. Dinamika teknikal pasar, seperti eksekusi stop-loss orders, turut memperbesar pergerakan harga ketika emas menembus level-level kunci.

Namun, WGC menekankan bahwa lonjakan volatilitas semacam ini bukanlah hal baru dalam sejarah emas. Periode krisis serupa, seperti krisis keuangan global 2008 dan pandemi COVID-19, juga diwarnai dengan peningkatan volatilitas harga emas. Kala itu, investor kerap menjual emas bukan karena hilangnya kepercayaan, melainkan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas mendesak.

Kondisi ini, menurut WGC, menunjukkan bahwa volatilitas yang terjadi bersifat sementara dan cenderung bersifat mean reverting, yaitu kembali ke rata-rata jangka panjang setelah mengalami lonjakan.

Karakteristik Mean Reverting Emas

Secara historis, volatilitas tahunan emas umumnya berada di kisaran 10 hingga 18 persen. WGC memperkirakan waktu paruh (half-life) dari guncangan volatilitas emas sekitar 1,6 bulan. Temuan ini menjadi dasar kuat bagi WGC untuk menilai bahwa tidak ada perubahan struktural yang mendasar pada perilaku emas.

Artinya, meskipun volatilitas dapat melonjak tajam dalam waktu singkat, dampaknya cenderung mereda dalam hitungan bulan dan kembali ke pola normalnya.

Likuiditas Tetap Kuat di Tengah Tekanan Pasar

Di tengah gejolak harga yang terjadi, likuiditas pasar emas justru menunjukkan kekuatan yang signifikan. Data WGC mencatat bahwa aktivitas perdagangan emas melonjak tajam selama periode koreksi harga. Pada akhir Januari 2026, volume perdagangan harian rata-rata mencapai 965 miliar dollar AS, sebuah rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Lonjakan serupa juga terlihat pada perdagangan over-the-counter (OTC), bursa berjangka, dan ETF emas. Perdagangan ETF emas dilaporkan melonjak hingga 137 persen dalam satu minggu. Fenomena ini menegaskan posisi emas sebagai aset dengan likuiditas tinggi, bahkan ketika pasar menghadapi tekanan.

Kondisi ini, menurut WGC, memperkuat peran emas sebagai sumber likuiditas yang andal saat krisis, di mana emas seringkali menjadi aset yang dapat dicairkan dengan cepat untuk memenuhi kebutuhan dana darurat.

Korelasi Aset Meningkat, Peran Diversifikasi Tetap Relevan

Laporan WGC juga menyoroti perubahan penting dalam lanskap investasi global, yaitu meningkatnya korelasi antara saham dan obligasi. Dalam kondisi normal, kedua aset ini cenderung bergerak berlawanan arah, memberikan manfaat diversifikasi yang optimal. Namun, dalam beberapa periode terakhir, keduanya justru bergerak searah, terutama saat volatilitas pasar meningkat.

Dalam konteks ini, emas tetap dipandang sebagai aset strategis. WGC menyebut emas masih efektif berfungsi sebagai diversifier portofolio, bahkan dalam lingkungan pasar yang volatil. Hal ini menjadi salah satu alasan utama mengapa emas terus diminati oleh investor institusi maupun bank sentral.

Advertisement

Tekanan Geopolitik dan Faktor Global Memperkuat Dinamika Harga Emas

Ketegangan geopolitik juga menjadi faktor signifikan yang memengaruhi pergerakan harga emas. Konflik di Timur Tengah, misalnya, dilaporkan berdampak pada pusat perdagangan dan permintaan utama seperti Dubai, yang pada gilirannya meningkatkan kebutuhan likuiditas di pasar global dan menambah tekanan terhadap harga emas.

Di sisi lain, penguatan dolar AS juga memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas, mengingat hubungan terbalik yang historis antara keduanya. Kombinasi faktor-faktor ini menjelaskan mengapa pergerakan harga emas menjadi lebih tajam dalam jangka pendek.

Emas Bukan Satu-Satunya Aset yang Bergejolak

WGC menegaskan bahwa peningkatan volatilitas pada tahun 2026 tidak hanya dialami oleh emas. Pasar saham dan obligasi juga menunjukkan peningkatan volatilitas yang signifikan, terutama pada Maret 2026. Fenomena ini mengindikasikan bahwa lonjakan volatilitas lebih merupakan refleksi dari kondisi pasar global secara keseluruhan, bukan perubahan spesifik pada emas.

Dalam berbagai episode krisis sebelumnya, seperti krisis keuangan global dan pandemi, pola serupa juga terjadi di berbagai kelas aset.

Peran Ganda Emas dalam Portofolio Investasi

Salah satu poin penting dalam analisis WGC adalah peran ganda emas dalam portofolio investasi. Di satu sisi, emas berfungsi sebagai sumber likuiditas saat pasar mengalami tekanan. Di sisi lain, emas juga memiliki kemampuan untuk memberikan imbal hasil yang kuat setelah kondisi pasar kembali stabil.

Karakteristik ganda ini membuat emas tetap relevan sebagai aset strategis jangka panjang, terlepas dari fluktuasi jangka pendek yang terjadi.

Struktur Pasar Emas Tetap Solid

Dari sisi fundamental, struktur pasar emas dinilai tetap kuat. Pasar emas didukung oleh kombinasi permintaan investasi dan konsumsi, serta pasokan yang berasal dari tambang dan daur ulang. Struktur ini menciptakan keseimbangan alami yang membantu menjaga stabilitas pasar.

Selain itu, emas memiliki basis permintaan global yang luas, mulai dari investor individu hingga bank sentral. Bank sentral sendiri memegang sekitar 39.000 ton emas, atau setara dengan 26 persen dari cadangan global, yang menunjukkan peran penting emas dalam sistem keuangan internasional.

Belum Ada Perubahan Struktural yang Signifikan

Berdasarkan berbagai indikator tersebut, WGC menyimpulkan bahwa kinerja emas belum mengalami perubahan struktural. Lonjakan volatilitas yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor siklus dan kondisi pasar jangka pendek, bukan perubahan mendasar pada karakter emas sebagai aset.

Secara historis, emas telah melalui berbagai periode volatilitas tinggi dan tetap kembali ke pola jangka panjangnya. Dengan demikian, meskipun dinamika pasar saat ini terlihat ekstrem, WGC menilai perilaku emas masih konsisten dengan karakteristik historisnya sebagai aset likuid, diversifier portofolio, dan penyimpan nilai dalam jangka panjang.

Advertisement