BEKASI, Kompas.com – Menggenggam erat semangat Kartini, Beti Anggraeni (51), seorang ibu di Bekasi, membuktikan keteguhan hati dalam mendampingi putranya, Gemilang Putra Rasdika (20), yang menyandang Down Syndrome. Perjuangan Beti bukan sekadar merawat, melainkan mengantarkan Dika meraih berbagai prestasi.
Kisah ini berawal dari kelahiran Dika pada tahun 2005. Dua hari setelah persalinan, Beti harus menerima kenyataan pahit. Dokter menyampaikan bahwa putranya diduga mengalami Down Syndrome. “Saat itu saya berpikir, ‘Ya Allah kenapa saya? Apa dosa saya?’,” ujar Beti saat ditemui Kompas.com, Senin (20/4/2026). Ia mengakui, fase tersebut adalah masa berkabung yang cukup berat, berlangsung sekitar satu minggu.
Namun, di tengah keterpurukan, Beti perlahan bangkit. Ia belajar menerima kenyataan dan menyadari bahwa tidak ada anak yang memilih untuk terlahir dengan kondisi disabilitas. Kebingungan awal dalam merawat anak dengan Down Syndrome perlahan teratasi berkat nasihat seorang dokter yang menjadi pegangannya.
“Dokter bilang, ‘Treatment-lah dia seperti Ibu memiliki anak normal. Cuma memang durasinya yang panjang’,” tutur Beti, mengutip perkataan dokter. Sejak saat itu, Beti membulatkan tekad untuk fokus pada tumbuh kembang Dika. Ia tak segan membawa putranya berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain demi menjalani terapi intensif.
“Dika mulai menjalani terapi sejak usia dua bulan. Itu terus saya lakukan hingga dia usia 13 tahun,” ungkap Beti. Dalam kesehariannya, ia harus lihai membagi waktu antara pekerjaan sebagai staf marketing di Jakarta dan mendampingi Dika. Beti bahkan berangkat sejak subuh dari Tambun demi memastikan kebutuhan terapi putranya terpenuhi.
Bagi Beti, setiap perkembangan sekecil apa pun adalah pencapaian besar. “Kalau orangtua dengan anak berkebutuhan khusus itu hampir setiap hari wisuda. Waktu Dika bisa merangkak saja, saya sudah bersyukur,” katanya. Perjuangan dan pengorbanan Beti perlahan membuahkan hasil. Dika tumbuh menjadi anak yang aktif dan menunjukkan berbagai perkembangan positif.
Sejak kecil, Beti telah mengenalkan berbagai aktivitas kepada Dika, mulai dari membaca, berenang, hingga keterampilan lainnya. Ketekunan ini membawa Dika menjadi atlet renang yang bahkan pernah berkompetisi di tingkat nasional. Beti menekankan bahwa keberhasilan ini bukan semata soal kemampuan, melainkan semangat dan keyakinan.
“Meskipun Dika perlu waktu lebih lama, tapi bukan berarti tidak bisa. Perlu komitmen dari orangtua, semangat, juga husnuzan sama Allah,” ujarnya.
Tak hanya di bidang olahraga, Dika juga mendapatkan kesempatan luas untuk mengembangkan diri melalui komunitas Persatuan Orangtua Anak dengan Down Syndrome (POTADS). Ia bahkan pernah menjalani magang di sejumlah perusahaan dan instansi pemerintahan.
Kini, Dika tidak hanya piawai di arena renang. Ia juga telah membangun usahanya sendiri dan aktif bekerja sebagai barista di Mi-Caf 13%. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa anak dengan Down Syndrome mampu mandiri dan berkarya.
Di balik seluruh perjuangannya, Beti justru mengaku mendapatkan cinta yang berlimpah dari sang anak. Dika tumbuh menjadi pribadi yang penuh kasih sayang, lembut, dan memiliki empati tinggi. Meski tak selalu mampu mengungkapkannya lewat kata-kata panjang, kehangatan itu terpancar melalui tindakan sederhana.
“Dika itu hangat banget. Sering bilang ‘I love you’, ‘terima kasih’, dan hal-hal sederhana lainnya yang membuat saya bahagia,” ungkap Beti. Momen-momen kecil seperti itulah yang menjadi penguat Beti dalam menjalani perjalanan panjang sebagai orang tua.
Beti berharap, para orang tua lain yang memiliki anak dengan kondisi serupa tidak berkecil hati. Menurutnya, penerimaan adalah langkah pertama yang paling krusial. “Semua anak berkebutuhan khusus itu tidak ingin dilahirkan spesial. Tapi Allah pasti punya rencana terbaik. Karena dari situ kita bisa menentukan langkah ke depan,” pungkasnya.






