Regional

BPBD DIY Dilema Perpanjang Status Siaga Darurat Hidrometeorologi di Tengah Ancaman “El Nino Godzilla

Advertisement

YOGYAKARTA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dihadapkan pada pilihan sulit. Status siaga darurat bencana hidrometeorologi yang seharusnya berakhir pada Minggu (19/4/2026) kini memicu perdebatan internal, terlebih menyusul curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut dalam sepekan terakhir. Kondisi ini membuat BPBD DIY mempertimbangkan kembali perpanjangan status tersebut di tengah ancaman fenomena “El Nino Godzilla”.

Kepala Pelaksana BPBD DIY, Agustinus Ruruh Haryata, mengungkapkan bahwa keputusan strategis ini diambil setelah pihaknya menyaksikan hujan lebat yang tak terduga. “Seminggu kemarin itu kita agak dikagetkan dengan hujan yang cukup lama dengan curah hujan yang cukup tinggi,” ujarnya pada Senin (20/4/2026). BPBD DIY kini tengah menunggu sinyal alam dan berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memastikan keamanan jika status tersebut tidak dilanjutkan.

Antisipasi Masa Pancaroba dan “Hujan Dadakan”

Menurut prediksi BMKG, Mei 2026 diperkirakan menjadi awal masuknya musim kemarau di DIY. Namun, saat ini wilayah tersebut masih berada dalam masa pancaroba, periode transisi yang rentan memicu perubahan cuaca ekstrem secara mendadak. Situasi ini menuntut kesiapsiagaan BPBD DIY.

“Kita harus tanggap karena bisa muncul hujan dadakan. Ini yang sedang kami pikirkan, apakah akan dilakukan perpanjangan hidromet atau mulai mempersiapkan diri untuk kekeringan,” tambah Ruruh.

Persiapan Menghadapi “El Nino Godzilla”

Selain menghadapi ketidakpastian cuaca transisi musim, BPBD DIY juga mulai memetakan potensi wilayah terdampak kekeringan panjang. Pemetaan ini dilakukan dengan mempertimbangkan isu fenomena “El Nino Godzilla” yang diprediksi akan melanda pada tahun 2026. Berbeda dengan penanganan kekeringan sebelumnya yang hanya mengandalkan dropping air bersih, BPBD DIY berencana mengimplementasikan solusi yang lebih berkelanjutan.

Pihak BPBD DIY tengah berdiskusi intensif dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk melakukan kajian mendalam. Rencananya, distribusi air akan dilakukan langsung dari sumber mata air ke masyarakat yang terdampak kekeringan.

Advertisement

“Kita ingin tidak hanya dropping saat kekeringan, tetapi juga melakukan evaluasi sumber mata air agar penyelesaian masalah bisa berkelanjutan. BNPB kelihatannya tertarik dengan hal itu,” ungkap Ruruh.

Meluruskan Istilah “El Nino Godzilla”

Istilah “Godzilla” yang merujuk pada prediksi intensitas El Nino yang sangat kuat pada tahun 2026, diketahui bukanlah terminologi ilmiah resmi yang dikeluarkan oleh BMKG. Dalam ilmu klimatologi, El Nino hanya dikategorikan menjadi tiga tingkatan: lemah, moderat, dan kuat.

Profesor Bidang Agroklimatologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Bayu Dwi Apri Nugroho, menjelaskan bahwa meskipun El Nino merupakan siklus alami, dampaknya kini terasa lebih cepat dan kuat. Hal ini diduga berkaitan dengan perubahan iklim akibat pemanasan global.

“Kalau intensitasnya sudah sangat kuat, dampaknya pasti terasa ke pertanian, terutama dari sisi produksi,” ujar Bayu. Fenomena El Nino yang kuat dikhawatirkan memicu kekeringan ekstrem dan berpotensi mengganggu ketahanan pangan nasional.

Advertisement