Megapolitan

BBM Tembus Rp 23.900, Warga Dihadapkan Pilihan: Bertahan atau Turun Kelas

Advertisement

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi kembali membebani konsumen kendaraan di perkotaan. Lonjakan harga yang menembus hingga Rp 23.900 per liter memaksa sebagian pengguna dihadapkan pada pilihan sulit: tetap menggunakan BBM berkualitas tinggi atau beralih ke jenis yang lebih terjangkau.

Penyesuaian harga yang dilakukan PT Pertamina (Persero) telah menaikkan sejumlah produk BBM nonsubsidi secara signifikan. Pertamax Turbo kini dijual Rp 19.400 per liter, melonjak Rp 6.300 dari harga sebelumnya Rp 13.100. Kenaikan lebih dramatis terjadi pada Dexlite yang mencapai Rp 23.600 per liter, naik Rp 9.400 dari Rp 14.200. Pertamina Dex juga mengalami kenaikan sebesar Rp 9.400, menjadi Rp 23.900 per liter dari Rp 14.500. Sementara itu, harga Pertamax dan Pertamax Green 95 relatif stabil di angka Rp 12.300 dan Rp 12.900 per liter.

Kenaikan tajam ini tidak hanya menambah beban biaya langsung bagi pengguna kendaraan, tetapi juga berpotensi mengubah pola konsumsi masyarakat akibat jurang harga yang semakin lebar antar jenis BBM.

Konsumen Mulai Menghitung Ulang

Kenaikan harga BBM ini langsung dirasakan oleh para pengguna kendaraan. Rizki (25), seorang pengendara di Jakarta Pusat, mengaku terkejut karena berdampak pada pengeluaran hariannya. “Tadi saya baca berita. Waduh, saya ngelus dada juga BBM naik. Saya pakai Pertamax Turbo,” ujarnya saat ditemui di Petamburan, Sabtu (18/4/2026).

Ia memperkirakan pengeluaran bahan bakarnya bisa meningkat dari kisaran Rp 80.000 per hari menjadi Rp 90.000 hingga mendekati Rp 100.000. “Kalau naik nanti bisa Rp 90.000 atau mendekati Rp 100.000 sehari,” tuturnya.

Rizki, yang juga bekerja sebagai pengemudi ojek daring, berencana menambah jam kerjanya untuk menutupi kenaikan biaya tersebut.

Menyesal Tidak Mengisi Penuh

Pengendara lain, Ihsan (28), mengungkapkan penyesalannya karena tidak mengisi penuh tangki bahan bakarnya sebelum harga BBM mengalami kenaikan. “Asli, pas tahu harganya naik langsung kepikiran, harusnya semalam isi full ya,” kata Ihsan di Pancoran, Jakarta Selatan.

Meskipun demikian, Ihsan belum berencana beralih dari Pertamax Turbo. Ia menilai kualitas pembakaran jenis BBM tersebut lebih baik dibandingkan jenis lainnya. “Menurut saya (jenis bbm lain) juga pembakarannya lebih kotor dibanding Turbo,” ungkapnya.

Bertahan di Tengah Kenaikan

Sementara itu, Yusuf (33) memilih untuk tetap menggunakan Pertamax Turbo meskipun harganya melonjak. Menurutnya, fluktuasi harga BBM adalah konsekuensi yang harus diterima oleh pengguna BBM nonsubsidi. “Karena naiknya lumayan tinggi. Tapi di sisi lain, saya sudah pakai Turbo dari awal, jadi ya siap enggak siap juga,” kata Yusuf.

Advertisement

Ia menilai dari sisi konsumsi, Pertamax Turbo masih tergolong efisien sehingga belum ada alasan baginya untuk berpindah ke jenis BBM lain. “Kalau dihitung-hitung, pakai Turbo itu sebenarnya lebih hemat dikonsumsi,” ujarnya.

Tekanan ‘Turun Kelas’ Konsumen

Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi, menilai kenaikan harga Pertamax Turbo dan BBM nonsubsidi lainnya membuka peluang terjadinya pergeseran konsumsi di masyarakat. “Pengguna Pertamax Turbo bisa turun kelas dengan memilih BBM jenis Pertamax atau jenis lain yang setara,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya menjaga ketersediaan pasokan BBM di level yang lebih murah agar migrasi konsumen tidak menimbulkan gangguan di pasar. “Untuk saat ini yang terpenting pasokan tersedia, mengingat gejolak di Timur Tengah belum mereda,” kata Tulus.

Selisih harga yang semakin lebar antara BBM nonsubsidi tertinggi dan jenis di bawahnya memperkuat potensi terjadinya migrasi konsumen dengan tren “turun kelas” konsumsi.

Risiko Pergeseran Konsumsi

Pengamat ekonomi Universitas Pasundan Bandung, Acuviarta Kartabi, berpendapat kenaikan BBM nonsubsidi tidak akan berdampak langsung pada harga pangan. Hal ini dikarenakan BBM subsidi dan yang umum digunakan masyarakat tidak ikut mengalami kenaikan. “Seharusnya tidak berdampak, karena BBM yang digunakan untuk logistik dan masyarakat luas tidak naik,” ujar Acuviarta.

Namun, ia mengingatkan adanya potensi pergeseran konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM yang lebih murah seperti Pertamax atau Solar jika selisih harga terlalu lebar. “Kalau selisihnya terlalu besar, ada kemungkinan konsumen berpindah. Ini yang perlu diantisipasi,” kata Acuviarta.

Menurutnya, jika migrasi ini tidak diantisipasi dengan baik, dapat berimbas pada distribusi BBM tertentu hingga memicu gangguan logistik. “Kalau distribusi terganggu, tentu bisa berimbas ke logistik dan harga barang,” ujarnya.

Advertisement