Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih menjadi persoalan serius dengan total kumulatif mencapai lebih dari 36.000 kasus. Data terbaru menunjukkan AKI di Indonesia berada di kisaran 189 kematian per 100.000 kelahiran hidup, menempatkan negara ini pada posisi yang membutuhkan perhatian medis intensif.
Perkiraan menunjukkan bahwa setiap jam, satu ibu meninggal di Indonesia akibat komplikasi yang timbul selama kehamilan, persalinan, maupun masa nifas. Ironisnya, 80 persen dari kasus kematian ini terjadi di dalam fasilitas kesehatan. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi ibu yang meninggal sudah dalam keadaan kritis saat tiba di fasilitas tersebut.
“Hampir 80 persen kematian ibu terjadi di rumah sakit karena berbagai macam faktor,” ungkap Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG, Subsp. FER, dalam keterangan pers di Rumah POGI Nasional, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Faktor Kematian Ibu di Indonesia
Prof. Budi Wiweko menyoroti dua faktor utama yang berkontribusi terhadap tingginya AKI di Indonesia. Pertama adalah masalah sistem rujukan yang belum berjalan optimal, serta keterlambatan dalam pengambilan keputusan medis di tingkat layanan primer. Kedua faktor ini menyebabkan hilangnya waktu krusial dalam penanganan kasus kegawatdaruratan.
Pendarahan dan Waktu Respons Bedah Kritis
Pendarahan hebat pascapersalinan masih menjadi penyebab kematian ibu terbesar. Kondisi ini sering kali datang secara mendadak dan memerlukan ketersediaan fasilitas pendukung yang memadai, termasuk bank darah yang siap, serta kesiapan tenaga ahli anestesi di rumah sakit. Prof. Budi menekankan bahwa penanganan bedah untuk kasus darurat tidak dapat ditunda jika nyawa ibu ingin diselamatkan.
“Standar pelayanan, terutama adalah bedah obstetri emergensi, yang seharusnya time response-nya 30 menit,” tegasnya. Kehilangan volume darah yang signifikan menjadi penyebab medis utama yang sulit dikendalikan, terutama jika ibu sudah mengalami anemia sejak masa kehamilan. Tanpa penanganan cepat dan tepat, pendarahan ratusan hingga ribuan mililiter dapat berakibat fatal dalam waktu kurang dari dua jam.
Keterlambatan Rujukan Memperburuk Situasi
Masalah sistem rujukan menjadi mata rantai yang sering terputus dalam pelayanan kesehatan ibu di Indonesia, menurut dr. Budi. Banyak kasus kematian yang tercatat di rumah sakit berakar dari keterlambatan deteksi dini di fasilitas kesehatan primer, seperti puskesmas, praktik dokter umum, maupun bidan.
Kualitas penanganan sejak di tingkat primer sangat menentukan apakah seorang ibu akan sampai ke rumah sakit dalam kondisi yang masih memungkinkan untuk diselamatkan. Oleh karena itu, penguatan kapasitas petugas kesehatan di tingkat bawah sangat krusial. Mereka perlu dibekali kemampuan untuk mengenali tanda bahaya secara dini.
“Kapan dia mesti dirujuk secara cepat, kemudian kualitas penanganan kehamilan, sampai dengan penanganan persalinan,” ujar Prof. Budi, menekankan pentingnya deteksi dini dan penanganan yang tepat di lini terdepan.
Menjaga Nyawa Ibu untuk Generasi Berkualitas
Penguatan intervensi berbasis keluarga dianggap sebagai titik masuk strategis untuk menekan AKI. Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menyatakan bahwa ibu yang kuat akan melahirkan generasi berkualitas, dan keluarga berkualitas merupakan fondasi bagi pencapaian Indonesia Emas 2045.
Selain perbaikan sistem rujukan medis, aspek edukasi mengenai pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan risiko komplikasi juga terus digalakkan. Sinergi antara organisasi profesi seperti POGI dan pemerintah diharapkan mampu menciptakan standar layanan yang terintegrasi di seluruh wilayah Indonesia.
“Menyelamatkan perempuan Indonesia adalah menyelamatkan masa depan bangsa Indonesia,” pungkas Isyana.






