Ancaman perubahan iklim kian nyata bagi Thailand. Para ilmuwan memprediksi, pada tahun 2070, beberapa wilayah di negara Gajah Putih itu berpotensi memiliki tingkat kepanasan ekstrem yang setara dengan Gurun Sahara saat ini, sehingga membuat kehidupan manusia di sana menjadi sangat sulit.
Peringatan keras ini disampaikan oleh Tara Buakamsri, direktur program Climate Connectors, merujuk pada studi “Future of the Human Climate Niche” yang dipublikasikan pada tahun 2020 oleh Xu dan timnya, serta artikel “Too-Hot-to-Live-In” karya Owen Mulhern. Kedua penelitian tersebut menyoroti bagaimana pemanasan global terus mengikis batas toleransi manusia terhadap suhu, sebagaimana dilaporkan The Nation Thailand pada Rabu (22/4/2026).
Pergeseran Menuju Iklim Gurun
Jika laju emisi karbon global tidak segera dikendalikan, Thailand terancam bertransformasi menjadi zona dengan suhu yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia.
Data menunjukkan bahwa tren kenaikan suhu bumi berlangsung sangat cepat. 19 dari 20 tahun terpanas dalam catatan sejarah terjadi setelah tahun 2001. Fenomena ini berkaitan erat dengan konsep “niche iklim manusia”, yaitu rentang suhu rata-rata yang relatif sempit di mana peradaban manusia telah berkembang dan bertahan selama ribuan tahun.
Umumnya, manusia nyaman hidup di wilayah dengan suhu tahunan rata-rata berkisar antara 11 hingga 15 derajat Celsius. Saat ini, suhu rata-rata tahunan di Thailand sudah menyentuh angka 26 derajat Celsius, yang dikategorikan sebagai zona yang mendekati batas bahaya.
Proyeksi pada tahun 2070 menyebutkan suhu rata-rata Thailand bisa melampaui ambang batas 29 derajat Celsius. Suhu setinggi itu saat ini hanya ditemukan di sekitar 0,8 persen permukaan daratan bumi, dan sebagian besar wilayah tersebut adalah Gurun Sahara.
Tanda-tanda awal perubahan drastis ini sudah mulai terlihat. Setiap tahun, antara bulan Maret hingga Mei, Thailand rutin dilanda suhu di atas 40 derajat Celsius. Pada gelombang panas tahun 2016, NASA Earth Observatory mencatat suhu permukaan tanah di Thailand melonjak hingga 12 derajat Celsius di atas rata-rata. Kota Mae Hong Son bahkan pernah mencatatkan rekor suhu udara tertinggi mencapai 44,6 derajat Celsius.
Dampak Luas bagi Kesehatan dan Ekonomi
Peningkatan suhu ekstrem membawa konsekuensi serius bagi kesehatan masyarakat. Risiko penyakit jantung dan gangguan pernapasan diprediksi meningkat, sementara penyebaran penyakit menular juga berpotensi semakin mudah.
Kelompok yang paling rentan terdampak adalah masyarakat berpenghasilan rendah, para pekerja yang beraktivitas di luar ruangan, serta penduduk pedesaan yang memiliki akses terbatas terhadap fasilitas pendingin ruangan.
Meskipun demikian, penggunaan pendingin ruangan (AC) bukanlah solusi jangka panjang yang ideal. Kebutuhan energi untuk AC akan melonjak drastis, dan jika sumber listrik masih bergantung pada bahan bakar fosil, hal ini justru akan memperparah krisis iklim.
Sektor pertanian juga diproyeksikan akan mengalami pukulan telak. Kekeringan yang berkepanjangan dapat menyebabkan penurunan hasil panen secara signifikan, yang pada gilirannya mengancam ketahanan pangan nasional.
Lebih lanjut, panas ekstrem di Thailand dapat diperparah oleh bencana lain yang saling terkait, seperti kekeringan parah, banjir besar, dan kenaikan permukaan air laut. Tumpang tindih berbagai risiko ini akan membuat upaya adaptasi menjadi semakin mahal.
Namun, penting untuk dicatat bahwa prediksi Thailand menyerupai Gurun Sahara merupakan sebuah peringatan, bukan takdir yang pasti. Keputusan kolektif yang diambil hari ini akan sangat menentukan nasib Thailand di tahun 2070. Jika emisi gas rumah kaca dapat dipangkas secara signifikan, dampak buruk yang mengintai masih bisa dibatasi. Investasi besar dalam ekonomi rendah karbon menjadi kunci utama dalam upaya mitigasi ini.






