Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026 di sejumlah perguruan tinggi negeri di Indonesia diwarnai temuan berbagai bentuk kecurangan, mulai dari penggunaan alat bantu tersembunyi hingga dugaan praktik perjokian.
Kasus-kasus pelanggaran ini terdeteksi sejak hari pertama pelaksanaan ujian di berbagai pusat UTBK, sebagaimana dilaporkan oleh panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB). Temuan pelanggaran dilaporkan terjadi di Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Airlangga (Unair), hingga Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar).
Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Eduart Wolok, menyatakan bahwa kecurangan sudah terdeteksi sejak pagi pelaksanaan ujian. “Pada pagi hari ini sampai dengan pukul 09.00 WIB kita telah mendapatkan informasi berbagai macam kecurangan yang coba dilakukan peserta UTBK di beberapa Pusat UTBK,” kata Eduart dalam konferensi pers di Media Center UTBK UNJ, Senin (21/4/2026).
Beragam Modus Kecurangan UTBK 2026 Terungkap
Salah satu kasus yang mencolok terjadi di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang. Seorang peserta berinisial M kedapatan menggunakan alat bantu elektronik yang diselipkan di telinga saat pemeriksaan sebelum ujian dimulai.
Wakil Rektor I Undip, Heru Susanto, mengonfirmasi kejadian tersebut dan menyatakan bahwa peserta bersangkutan telah diserahkan kepada pihak kepolisian. “Kami serahkan ke Polsek Tembalang sesuai prosedur. Undip sudah melaporkan dan menyampaikan bukti-bukti terkait,” ujar Heru kepada Kompas.com, Rabu (22/4/2026).
Sementara itu, di Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), panitia menemukan modus perjokian yang cukup unik. Eduart Wolok menjelaskan bahwa ditemukan upaya mengganti peserta, di mana satu orang mengikuti UTBK dalam dua tahun berbeda dengan menggunakan identitas yang berbeda pula. “Ditemukan upaya perjokian dengan mengganti peserta. Jadi orang yang sama mengikuti UTBK 2025, itu ikut lagi di 2026 dengan nama yang berbeda,” ungkapnya.
Ribuan Data Anomali dan Pola Kecurangan Berulang
Selain kasus per individu, SNPMB juga mencatat adanya sekitar 2.940 data anomali yang tersebar di berbagai pusat UTBK 2026. Temuan ini mengindikasikan adanya pola kecurangan yang lebih luas dan terstruktur di beberapa wilayah.
Menyikapi hal tersebut, panitia telah meningkatkan pengawasan di sejumlah kampus, termasuk Universitas Negeri Malang, Unesa, Undip, UPN Veteran Jawa Timur, hingga Universitas Airlangga. Direktur Pendidikan Universitas Negeri Malang, Prof. Evi Eliyanah, menegaskan bahwa setiap temuan akan ditindaklanjuti sesuai prosedur. “Kami akan dalami informasi dari kasus tersebut yang kemudian kita laporkan ke panitia pusat SNPMB, sebab yang berwenang mengambil keputusan adalah panitia pusat itu,” ujarnya.
Modus Manipulasi Identitas di Ruang Ujian
Di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), panitia mengungkap modus baru berupa manipulasi identitas peserta. Pelaku diduga memodifikasi dokumen asli, khususnya pada bagian foto.
“Modusnya menggunakan identitas yang dijoki. Namanya tetap nama peserta asli, tetapi fotonya diganti dengan orang yang mengerjakan ujian,” kata Wakil Rektor Unesa, Prof. Martadi. Modus ini terungkap setelah panitia melakukan verifikasi data lintas tahun dan menemukan kesamaan foto pada pendaftar yang berbeda tahun.
Pengawasan Diperketat untuk Menjaga Integritas Seleksi
Menanggapi berbagai temuan tersebut, SNPMB memastikan pengawasan akan terus diperketat selama pelaksanaan UTBK 2026 berlangsung. Langkah ini diambil untuk menjaga integritas seleksi masuk perguruan tinggi negeri agar tetap berjalan adil dan transparan bagi seluruh peserta.
Panitia juga menegaskan bahwa peserta yang terbukti melakukan kecurangan akan diproses sesuai ketentuan yang berlaku.






