Regional

Pengusaha Laundry Banyuwangi: Parfum, Plastik, LPG Naik, Rasanya Mau Pingsan

Advertisement

BANYUWANGI, Indonesia — Sejumlah pengusaha kecil di Banyuwangi, Jawa Timur, kini menghadapi dilema pelik akibat kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok operasional. Lonjakan biaya mulai dari parfum, plastik kemasan, hingga gas LPG non-subsidi memaksa mereka menaikkan tarif layanan, sementara daya beli pelanggan justru merosot.

Wulan Lestari, pemilik Q-ta Laundry di Jalan Kolonel Sugiyono, menjadi salah satu yang merasakan dampak signifikan. Bisnis laundry yang dikelolanya kini harus membebankan biaya lebih kepada pelanggan. “Yang reguler sebelumnya Rp 7.000 per kilo, sekarang jadi Rp 8.000. Tidak bisa kalau tidak naik,” ujar Wulan, mengungkapkan keputusasaan yang melanda.

Biaya Operasional Melonjak Tajam

Kenaikan tarif layanan ini, menurut Wulan, merupakan imbas langsung dari lonjakan biaya operasional yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Rinciannya, harga bahan baku parfum yang menjadi ciri khas laundry-nya melonjak drastis hingga 80 persen, dari kisaran Rp 400.000 menjadi hampir Rp 800.000 per jerigen. Tak hanya itu, harga plastik kemasan pun ikut meroket hingga 70 persen.

Pukulan telak lainnya datang dari kenaikan harga gas LPG non-subsidi, yang merupakan komponen krusial untuk operasional setrika uap dan pengeringan pakaian. “Sudah naik semua. Parfum naik duluan, plastik naik, sekarang LPG. Rasanya mau pingsan,” keluh Wulan, menggambarkan beban ganda yang harus ditanggungnya.

Dalam sepekan, Wulan menghabiskan dua hingga tiga tabung LPG ukuran 12 kilogram untuk melayani sekitar 200 kilogram cucian. Kebutuhan yang terus-menerus ini membuat kenaikan harga LPG terasa begitu memberatkan.

Daya Beli Pelanggan Menurun Drastis

Ironisnya, kenaikan tarif yang terpaksa dilakukan ini tidak serta-merta diimbangi dengan peningkatan pendapatan. Sebaliknya, Wulan justru mencatat penurunan daya beli pelanggan hingga 30 persen. “Kalau dinaikkan lagi, pelanggan pasti komplain. Daya beli sekarang juga turun,” jelasnya.

Advertisement

Situasi ini menciptakan tekanan ganda pada margin usaha laundry-nya, membuat operasional semakin sulit untuk dijalankan.

Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi

Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, Wulan mengaku masih berusaha keras mempertahankan bisnisnya. Ia bertekad untuk tidak mengurangi jumlah karyawannya. “Masih di posisi bertahan. Karyawan belum dikurangi, jangan sampai,” katanya dengan nada prihatin.

Wulan juga menyuarakan harapannya agar pemerintah lebih bijak dalam menerapkan kebijakan terkait penggunaan LPG non-subsidi bagi pelaku usaha kecil. Ia menilai perlu adanya pertimbangan skala usaha sebelum kebijakan tersebut diterapkan secara merata. “Jangan dipukul rata,” tegasnya.

Dengan terus naiknya harga kebutuhan operasional, Wulan mengaku belum memiliki banyak opsi. Untuk saat ini, ia memilih untuk bertahan semampunya dalam kondisi yang kian berat. “Kalau naik lagi, jujur saja, susah sekali. Sekarang saja sudah berat,” pungkasnya.

Advertisement