Cahaya

Mengintip Menu Jemaah Haji di Dapur Katering Madinah, Tempe Jadi Andalan

Advertisement

MADINAH, KOMPAS.com — Jemaah haji Indonesia yang akan berada di Madinah selama sembilan hari tahun 2026 akan merasakan sentuhan kuliner Nusantara di tanah suci. Total 27 kali makan disiapkan dengan fokus pada cita rasa otentik Indonesia, bahkan tempe akan menjadi menu andalan yang hadir hingga lima kali dalam sepekan.

Kepala Seksi Pelayanan Konsumsi Daerah Kerja (Daker) Madinah, Benny Darmawan, menjelaskan bahwa pihaknya telah menjalin kerja sama dengan 23 dapur katering yang telah melalui seleksi ketat oleh Kementerian Haji dan Umrah. “Insya Allah, jemaah akan mendapatkan makan tiga kali sehari. Tahun ini kami menekankan pada cita rasa otentik Indonesia,” ujar Benny pada Selasa (21/4/2026).

Bumbu Pasta Khas Nusantara untuk Jaminan Rasa

Untuk memastikan konsistensi rasa di seluruh dapur penyedia, penggunaan bumbu pasta asli yang didatangkan langsung dari Indonesia menjadi kunci. Langkah ini diambil agar cita rasa makanan tetap terjaga, terlepas dari dapur mana makanan tersebut dimasak.

“Bumbunya sudah tiba di dapur-dapur, tinggal pakai. Ada 23 jenis bumbu pasta yang kami siapkan. Jadi, meski dimasak di dapur berbeda, rasanya akan tetap sama,” tambah Benny. Tidak hanya bumbu, kualitas sumber daya manusia di dapur juga menjadi prioritas. Setiap dapur wajib memiliki minimal dua koki utama dan empat asisten masak yang berasal dari Indonesia untuk memastikan teknik memasak sesuai dengan selera jemaah.

Tempe dan Ragam Kuliner Lintas Wilayah

Tempe diposisikan sebagai salah satu primadona dalam daftar menu tahun ini, dijadwalkan hadir hingga lima kali dalam sepekan. Kehadirannya tidak hanya sebagai lauk, tetapi juga sebagai pengobat rindu bagi jemaah akan kampung halaman.

Salah satu penyedia katering, Meez Marry, yang tahun ini melayani sekitar 10.000 jemaah, bahkan memproduksi tempe sendiri untuk menjaga kualitasnya. Selain tempe, jemaah juga akan disuguhi ragam kuliner khas dari berbagai daerah di Indonesia, seperti rendang daging, ayam woku, serta olahan khas dari Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Sunda.

Advertisement

Layanan Khusus untuk Jemaah Lansia

Menyadari banyaknya jemaah lanjut usia (lansia), layanan konsumsi juga menyediakan opsi menu khusus berdasarkan permintaan. Tekstur makanan dapat disesuaikan, misalnya mengubah nasi menjadi bubur atau membuat lauk pauk menjadi lebih lunak agar lebih mudah dicerna.

“Untuk lansia, sesuai kontrak jemaah bisa request menu khusus. Menunya sebenarnya sama, tapi nasinya dibuat bubur atau dibuat lebih lunak lagi,” jelas Benny.

Pengawasan Ganda untuk Keamanan Pangan

Pemerintah menerapkan sistem pengawasan ganda yang sangat ketat untuk menjamin keamanan makanan yang disajikan kepada jemaah. Setiap sampel makanan akan diuji di tiga titik lokasi sebelum sampai ke tangan jemaah.

Pengujian dilakukan di dapur produksi untuk pengecekan kualitas bahan, di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) untuk uji medis, serta di sektor pemondokan oleh petugas konsumsi lokal. Benny menegaskan bahwa seluruh bahan baku dan juru masak telah siap di gudang masing-masing dapur setidaknya 10 hari sebelum operasi puncak haji dimulai. “Kami pastikan semua siap melayani jemaah dengan standar terbaik,” pungkasnya.

Advertisement