PYONGYANG – Korea Utara mengklaim telah berhasil menguji coba rudal balistik jarak pendek yang dilengkapi hulu ledak bom klaster, sebuah pengembangan senjata yang memicu kekhawatiran di kawasan. Peluncuran yang dilaporkan terjadi pada Minggu (19/4/2026) ini merupakan bagian dari serangkaian unjuk kekuatan militer yang terus dilakukan Pyongyang dalam beberapa pekan terakhir, dan dipimpin langsung oleh Pemimpin Tertinggi Kim Jong Un.
Verifikasi Kemampuan Serang
Kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, melaporkan bahwa tujuan utama dari uji coba tersebut adalah untuk memverifikasi karakteristik dan daya hancur dari hulu ledak bom klaster serta hulu ledak ranjau fragmentasi yang dirancang untuk rudal balistik taktis. Rudal yang digunakan dalam uji coba ini adalah tipe Hwasongpho-11 Ra, sebuah rudal balistik taktis permukaan-ke-permukaan.
Sebanyak lima proyektil diluncurkan dan dilaporkan menghantam area target seluas 12,5 hingga 13 hektare di sekitar sebuah pulau, yang berjarak sekitar 136 kilometer dari lokasi peluncuran. KCNA mengklaim rudal-rudal tersebut menghantam target dengan “kepadatan sangat tinggi, sepenuhnya menunjukkan kekuatan tempur mereka.”
Kim Jong Un dilaporkan menyatakan “kepuasan besar atas hasil uji coba” dan menilai pengembangan hulu ledak bom klaster tersebut akan “meningkatkan kemampuan serangan berkepadatan tinggi untuk melumpuhkan area target tertentu serta kemampuan serangan presisi tinggi.”
Ancaman terhadap Seoul dan Pangkalan AS
Para analis menilai bahwa pengembangan hulu ledak bom klaster pada rudal balistik jarak pendek ini berpotensi meningkatkan ancaman Korea Utara terhadap Seoul dan instalasi militer Amerika Serikat di Korea Selatan. Hong Min, seorang peneliti senior di Korea Institute for National Unification, menyatakan bahwa jangkauan rudal tersebut dapat menempatkan ibu kota Korea Selatan dan pangkalan-pangkalan militer utama AS dalam radius serangan.
“Sistem ini tampaknya dirancang untuk mengisi celah antara peluncur roket ganda dan rudal balistik jarak pendek,” ujar Hong Min.
Sementara itu, Yang Moo-jin, profesor di University of North Korean Studies di Seoul, menyoroti kehadiran para komandan korps garis depan dalam uji coba tersebut. “Ini menunjukkan sistem tersebut mendekati tahap operasional, dengan kemampuan diluncurkan langsung dari posisi depan terhadap Korea Selatan dan pangkalan AS,” katanya.
Amerika Serikat saat ini menempatkan sekitar 28.000 personel militernya di Korea Selatan sebagai bagian dari upaya pertahanan kolektif terhadap ancaman dari Korea Utara.
Kecaman dari Korea Selatan
Militer Korea Selatan mengonfirmasi telah mendeteksi peluncuran “beberapa rudal balistik jarak pendek” dari wilayah Sinpo, pantai timur Korea Utara. Seoul menegaskan komitmennya untuk mempertahankan “postur pertahanan gabungan yang kuat” bersama Amerika Serikat dan berjanji akan “merespons secara luar biasa terhadap setiap provokasi.”
Kementerian Pertahanan Korea Selatan juga mendesak Pyongyang untuk “segera menghentikan provokasi rudal berturut-turut yang meningkatkan ketegangan” serta “secara aktif terlibat dalam upaya pemerintah Korea Selatan untuk membangun perdamaian.” Namun, para analis berpendapat bahwa uji coba ini mengindikasikan penolakan Korea Utara terhadap upaya Seoul untuk memperbaiki hubungan bilateral yang sempat memburuk.
Penguatan Militer dan Sanksi Internasional
Korea Utara terus menghadapi berbagai sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang melarang pengembangan senjata nuklir dan penggunaan teknologi rudal balistik. Kendati demikian, negara tersebut dilaporkan terus melanggar larangan tersebut.
Pada awal April lalu, Kim Jong Un juga dilaporkan mengawasi uji coba rudal jelajah strategis yang diluncurkan dari kapal perang, termasuk dari kapal perusak Choe Hyon, salah satu dari dua kapal berbobot 5.000 ton yang dimiliki Korea Utara. Pyongyang diketahui sedang membangun dua kapal perusak tambahan dengan kelas yang sama untuk memperkuat armada lautnya.
Seorang anggota parlemen Korea Selatan, mengutip citra satelit dari perusahaan intelijen AS, menyebutkan bahwa Korea Utara “mempercepat modernisasi angkatan laut dengan dukungan bantuan militer dari Rusia.” Laporan tersebut mengindikasikan bahwa Pyongyang kemungkinan menerima bantuan teknologi militer dari Moskow sebagai imbalan atas pengiriman pasukan darat dan amunisi artileri untuk mendukung invasi Rusia ke Ukraina.






