MALANG – Puluhan perempuan di Kota Malang terdeteksi positif kanker serviks berdasarkan hasil skrining yang digelar sepanjang tahun 2025. Dinas Kesehatan setempat mencatat sebanyak 50 kasus positif, namun mayoritas masih dalam stadium awal dan dapat ditangani di puskesmas.
Penanganan dini untuk kasus stadium 1 dilakukan menggunakan metode cryotherapy, sebuah prosedur yang dinilai efektif untuk kondisi tersebut. Pemerintah Kota Malang terus berupaya menekan angka kanker serviks melalui program deteksi dini yang rutin digelar setiap tahun.
Program Deteksi Dini Digelar Serentak
Tahun ini, sebanyak 1.800 perempuan berpartisipasi dalam skrining kanker serviks yang dilaksanakan serentak di 16 puskesmas di Kota Malang. Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menekankan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya nasional untuk mencegah kanker serviks di kalangan perempuan.
“Ini kegiatan rutin yang harus kita lakukan. Kita punya target dan ini juga merupakan tindak lanjut dari program nasional untuk mencegah ibu-ibu terkena kanker serviks,” ujar Wahyu, Senin (20/4/2026).
Wahyu menambahkan, program skrining ini dapat diikuti oleh seluruh masyarakat secara gratis. Biaya pelaksanaan ditanggung oleh Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat.
Meskipun pada pelaksanaan kali ini peserta didominasi oleh ibu-ibu Persit di bawah Rindam, program ini tetap terbuka untuk seluruh warga Kota Malang di 16 puskesmas yang berpartisipasi.
Metode Pemeriksaan dan Penanganan
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif, menjelaskan bahwa pemeriksaan dilakukan secara bertahap selama enam hari, mulai Senin hingga Sabtu. Metode yang digunakan meliputi tes HPV DNA dan IVA (Inspeksi Visual Asetat).
Peserta skrining umumnya berusia antara 29 hingga 40 tahun. Sebelum menjalani tes IVA, terdapat beberapa persyaratan medis yang harus dipenuhi.
Jika terdeteksi adanya indikasi kanker, penanganan akan disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit. Untuk kasus grade 1, pasien dapat langsung ditangani di tiga puskesmas rujukan: Kedungkandang, Ciptomulyo, dan Cisadea.
“Kalau terdeteksi, langkah selanjutnya adalah pemeriksaan lanjutan. Kalau grade 1 bisa ditangani di puskesmas, kalau lebih dari itu dirujuk ke rumah sakit,” terang Husnul.
Melalui program skrining massal ini, pemerintah berharap kesadaran perempuan akan pentingnya deteksi dini kanker serviks dapat meningkat. Diharapkan kasus dapat terdeteksi lebih cepat dan ditangani sebelum berkembang menjadi lebih serius.
Husnul menekankan pentingnya kesadaran perempuan terhadap kesehatan mereka. Faktor-faktor seperti kebersihan sanitasi, gaya hidup, dan pola makan turut memengaruhi risiko kanker serviks.
“Harapannya melalui skrining awal, perempuan bisa lebih aware dengan kondisi kesehatan. Karena salah satu faktor yang mempengaruhi adalah hygiene sanitasi, lifestyle atau gaya hidup,” pungkas Husnul.


