Global

AS Batal Pindah Pilar Pertahanan Korsel ke Timteng, Seoul Bisa Napas Lega

Advertisement

WASHINGTON DC – Kekhawatiran Korea Selatan atas potensi pemindahan sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) ke Timur Tengah akhirnya mereda. Seorang pejabat militer Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan utama tersebut belum dipindahkan dari Semenanjung Korea.

Sebelumnya, laporan dari The Washington Post bulan lalu sempat memicu keresahan di Seoul. Mengutip pejabat anonim, media tersebut memberitakan bahwa Washington memindahkan sebagian sistem THAAD dari Korea Selatan untuk digunakan dalam potensi konflik dengan Iran. Keputusan ini menjadi sorotan tajam mengingat THAAD merupakan pilar pertahanan krusial bagi Korea Selatan dalam menghadapi ancaman rudal balistik dari Korea Utara yang memiliki senjata nuklir.

Namun, keraguan tersebut ditepis oleh Komandan Pasukan AS di Korea Selatan, Jenderal Xavier Brunson. Dalam sidang komite Senat AS di Washington, Brunson menegaskan, “Kami belum memindahkan sistem THAAD apa pun dari Korea Selatan.” Ia menambahkan, “THAAD masih berada di Semenanjung Korea saat ini.”

Brunson menjelaskan bahwa yang dikirim ke Timur Tengah adalah amunisi, bukan sistem THAAD secara keseluruhan. “Kami mengirimkan amunisi, dan amunisi tersebut saat ini menunggu untuk dipindahkan,” ujarnya tanpa merinci lebih lanjut. Ketika ditanya mengenai kemungkinan sistem tersebut tetap berada di lokasinya, Brunson menjawab singkat, “Ya.”

Respons Seoul dan Konteks Penempatan THAAD

Isu pemindahan sistem THAAD ini memang sempat menimbulkan ketidaknyamanan bagi pemerintah Korea Selatan. Presiden Lee Jae Myung sebelumnya telah menyatakan bahwa Seoul tidak senang dengan isu tersebut, meskipun mengakui keterbatasan daya tawar negara itu.

Advertisement

Kementerian Pertahanan Seoul sendiri optimistis bahwa sistem THAAD mampu mencegah ancaman dari Korea Utara, bahkan jika AS memindahkan sebagian aset militernya. Penempatan sistem THAAD di Korea Selatan dimulai pada tahun 2017, sebagai bagian dari komitmen AS untuk melindungi sekutunya di kawasan tersebut. Saat ini, AS memiliki sekitar 28.500 tentara yang ditempatkan di Korea Selatan.

Penempatan THAAD di Korea Selatan sebelumnya memang sempat memicu protes keras dari China. Beijing memandang sistem pertahanan rudal tersebut sebagai ancaman terhadap keamanan nasionalnya karena jangkauan radar AN/TPY-2 yang dinilai dapat memantau wilayah udara China.

Mengenal Sistem Pertahanan THAAD

Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) adalah sistem pertahanan rudal balistik canggih yang dirancang untuk mencegat rudal pada tahap akhir penerbangannya. Sistem ini beroperasi dengan teknologi “hit-to-kill”, yang berarti pencegatnya menghancurkan rudal musuh melalui tabrakan langsung, bukan ledakan.

Menurut laporan CNN, THAAD merupakan salah satu senjata anti-rudal paling ampuh milik militer AS. Ia mampu mencegat rudal balistik pada jarak 150 hingga 200 kilometer dengan tingkat keberhasilan yang sangat tinggi dalam pengujian. Keakuratan THAAD sangat bergantung pada sistem radar AN/TPY-2 (Army Navy/Transportable Radar Surveillance), yang memberikan informasi penargetan krusial bagi rudal pencegatnya.

Advertisement