Lifestyle

7 Tips Orangtua Membangun Self-Esteem Anak Perempuan

Advertisement

Membangun kepercayaan diri dan penghargaan diri pada anak perempuan sejak dini merupakan fondasi krusial agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dalam menghadapi berbagai tekanan sosial di masa depan. Konsep diri positif yang tertanam sejak usia balita, kata psikolog, menjadi kunci utama.

Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga, Farraas Afiefah Muhdiar, M.Sc., M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa pembentukan self-esteem atau penghargaan diri dimulai dari konsep diri yang berkembang sejak usia dini. “Kalau self-esteem anak positif, self-concept-nya juga harus positif. Maka, hati-hati menggunakan kalimat-kalimat untuk mendeskripsikan anak,” ujar Farraas saat diwawancarai Kompas.com, Senin (20/4/2026).

Tujuh Langkah Membangun Self-Esteem Anak Perempuan

Orang tua memegang peranan penting dalam menanamkan rasa percaya dan penghargaan terhadap diri sendiri pada anak perempuan. Berikut adalah tujuh cara yang dapat diterapkan:

1. Bangun Konsep Diri Positif Sejak Dini

Sejak usia balita, anak mulai membentuk konsep diri. Apa yang didengar dari lingkungan terdekat, terutama orang tua, akan membentuk cara mereka menilai diri sendiri. Penting bagi orang tua untuk memastikan anak sering mendengar hal-hal positif tentang dirinya.

2. Gunakan Pujian yang Berfokus pada Proses

Cara memberikan pujian juga perlu diperhatikan. Pujian yang hanya menyoroti hasil atau label tertentu dinilai kurang efektif dalam membangun self-esteem jangka panjang. “Usahakan kita menggunakan kalimat-kalimat yang sifatnya proses. Bukan cuma sekedar bilang cantik atau pinter, tapi bisa dengan ‘dia peduli akan kebersihan’, itu lebih menunjukkan ke proses,” ujar Farraas. Orang tua dapat menekankan pada usaha dan sikap anak, seperti ketelitian, kemauan untuk mencoba, atau kebiasaan berbagi.

3. Biasakan Anak Mendengar Afirmasi Positif Setiap Hari

Selain pujian berbasis proses, anak juga perlu secara konsisten mendengar kalimat positif yang menggambarkan dirinya. Hal ini penting untuk memperkuat citra diri yang sehat. Anak perlu mendengar bahwa dirinya adalah pribadi yang suka membantu, peduli, dan memiliki niat baik. Pengulangan afirmasi seperti ini akan tertanam dalam pikiran anak dan membentuk keyakinan positif terhadap dirinya.

Advertisement

4. Fokus pada Perilaku Saat Anak Gagal

Momen kegagalan menjadi waktu penting bagi orang tua untuk membentuk self-esteem anak. Cara orang tua merespons kegagalan akan menentukan bagaimana anak memaknai dirinya. “Ketika anak mengalami kegagalan, pastikan orang tua juga berfokus pada perilakunya bukan pada labelnya,” jelas Farraas. Alih-alih memberikan label negatif, orang tua disarankan untuk membantu anak memahami apa yang bisa diperbaiki. Pendekatan ini membuat anak melihat kegagalan sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai cerminan nilai dirinya.

5. Hindari Memberikan Label Negatif

Pemberian label negatif dapat merusak self-esteem anak dalam jangka panjang. Farraas mengingatkan agar orang tua lebih bijak dalam memilih kata. “Jangan bilang anak payah, tapi berikan kalimat yang membuat anak sadar apa yang harus diperbaiki selanjutnya. Dibandingkan melabeli anak tidak sabaran, lebih baik bilang kalau dia masih perlu belajar menunggu,” imbau dia. Dengan pendekatan ini, anak tetap mendapatkan arahan tanpa merasa direndahkan, membantu mereka tetap percaya pada diri sendiri meskipun sedang melakukan kesalahan.

6. Orang Tua Menjadi Contoh dalam Memandang Diri

Anak perempuan belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan orang tua, tetapi juga dari bagaimana orang tua, terutama ibu, memandang dirinya sendiri. “Untuk anak perempuan, bagaimana ibu membahasakan atau menggambarkan dirinya sendiri itu juga ngaruh banget.. Jadi bukan cuma ibu berbicara dengan anak perempuan tapi ibu menggambarkan dirinya,” jelas Farraas. Sikap ibu terhadap diri sendiri akan menjadi cermin bagi anak dalam membentuk self-esteem-nya.

7. Bangun Lingkungan Keluarga yang Sehat

Dinamika hubungan dalam keluarga turut berperan besar dalam membentuk self-esteem anak. Cara orang tua berinteraksi satu sama lain akan menjadi contoh langsung bagi anak. “Lalu, bagaimana ibunya membangun relasi dengan orang lain, bagaimana bersikap ketika ada konflik rumah tangga, dan juga bagaimana ayahnya juga memperlakukan ibunya, itu semua berpengaruh,” ujar Farraas. Lingkungan keluarga yang suportif dan penuh penghargaan akan membantu anak perempuan tumbuh dengan rasa percaya diri yang kuat serta kemampuan menghadapi berbagai tantangan hidup.

Advertisement