Warta

Warisan Kartini: Keberanian Berpikir Kritis di Tengah Krisis

Advertisement

Suara perempuan yang dahulu dianggap sebagai pelengkap kini semakin lantang terdengar dan menjadi denyut perubahan. Dari ruang kerja hingga ruang publik, perempuan tampil sebagai penggerak, membawa keberanian yang diperjuangkan oleh Raden Ajeng (RA) Kartini.

Kartini sering dimaknai sebagai simbol emansipasi. Namun, Pemimpin Redaksi Kompas.com Amir Sodikin menilai gagasan Kartini melampaui itu, menjadikannya sosok yang kritis terhadap dunia yang kala itu kerap membatasi perempuan.

Di tengah dominasi patriarki, Kartini menyuarakan ketidakadilan terhadap perempuan, bahkan ketika ruang geraknya sempit. Warisan ini menegaskan bahwa emansipasi bukan hanya soal pembebasan, tetapi juga keberanian berpikir, bersuara, dan mengorbankan kenyamanan demi perubahan.

Peran Kritis Perempuan di Era Modern

Langkah kecil dalam merayakan setiap perempuan hebat di sekitar atau mengapresiasi diri sendiri, seperti yang diinisiasi melalui kampanye di Kompas.com, dapat berperan krusial. Amir Sodikin menekankan bahwa lanskap sosial telah bergeser, dengan dikotomi antara laki-laki dan perempuan yang semakin kabur. Pengakuan kini lebih didasarkan pada kemampuan dan prestasi.

Advertisement

Perempuan Indonesia saat ini menjadi motor penggerak dalam berbagai lini kehidupan. Ketelitian, pemikiran kritis, dan resiliensi menjadi kekuatan perempuan yang kian diakui.

“Selamat Hari Kartini. Menjadi Kartini hari ini berarti berani menantang diri dari apa yang dianggap sudah nyaman. Di tengah krisis dunia seperti saat ini, sikap kritis menjadi kunci untuk menghadapi tantangan sosial, ekonomi, dan politik. Tanpa sikap itu, dunia bisa kehilangan arah,” tegas Amir Sodikin.

Advertisement