Inter Milan berhasil mengamankan tiket ke final Coppa Italia 2025-2026 setelah menunjukkan kebangkitan luar biasa melawan Como dalam partai leg kedua semifinal di Stadion Giuseppe Meazza. Tim asuhan Cristian Chivu ini bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk akhirnya menang 3-2, mengembalikan semangat “pazza Inter” yang sempat meredup.
Dalam pertandingan yang dramatis tersebut, Como sempat unggul lebih dulu berkat gol dari Martin Baturina pada menit ke-32 dan Lucas Da Cunha di menit ke-48. Keunggulan 2-0 atas Inter Milan di kandang sendiri tentu menjadi pukulan telak bagi tim tuan rumah.
Namun, alih-alih menyerah, skuad Chivu justru menunjukkan ketenangan dan determinasi tinggi. Hakan Calhanoglu menjadi tokoh kunci kebangkitan Inter dengan mencetak dua gol balasan pada menit ke-69 dan ke-86, menyamakan kedudukan menjadi 2-2.
“Kami memiliki skuad yang telah bermain sangat baik sejak awal musim, jadi ketika mereka dipanggil, mereka menunjukkan apa yang bisa mereka lakukan,” ujar Chivu kepada Sport Mediaset, merujuk pada pemain yang masuk dari bangku cadangan.
Petar Sucic Jadi Pahlawan Kemenangan
Puncaknya, Petar Sucic, yang baru saja dimasukkan Chivu pada menit ke-60 menggantikan Piotr Zielinski, berhasil mencetak gol kemenangan bagi Il Nerazzurri pada menit ke-89. Gol tersebut memastikan kemenangan Inter Milan dengan skor akhir 3-2 atas Como.
“Mereka yang masuk dari bangku cadangan hari ini memahami momen tersebut dan apa yang perlu dilakukan, jadi (Andy) Diouf, Sucic, dan Pio Esposito semuanya melakukan bagian mereka dan menunjukkan keberanian,” tambah Chivu. “Ini adalah tim yang semuanya ingin bersaing hingga akhir.”
Dengan kemenangan ini, Inter Milan unggul agregat 3-2 atas Como, setelah pada leg pertama yang digelar di markas Como berakhir imbang tanpa gol 0-0. Chivu menyoroti bagaimana pasukannya mampu menunjukkan karakter pemenang dalam dua pertemuan melawan Como.
Menariknya, ini bukan kali pertama Inter Milan menunjukkan kebangkitan dramatis melawan Como. Pada pekan ke-31 Liga Italia, Inter juga sempat tertinggal 0-2 saat bertandang ke markas Como, Giuseppe Sinigaglia, namun berhasil bangkit dan memenangkan pertandingan dengan skor 4-3.
Kembalinya Spirit “Pazza Inter”
Kebangkitan demi kebangkitan ini seolah mengembalikan spirit “pazza Inter”, sebuah julukan yang melekat pada klub tersebut karena seringkali terlibat dalam pertandingan atraktif dengan hasil yang tak terduga. Istilah “pazza” dalam bahasa Italia berarti “gila”.
Di era kepelatihan Antonio Conte (2019-2021), label “pazza Inter” sempat dihindari karena Conte lebih mengedepankan stabilitas tim. Namun, di bawah asuhan Cristian Chivu, idiom tersebut kembali hidup.
“Kami menyadari apa yang dilakukan Como, dan kami berhasil mencetak banyak gol ke gawang salah satu tim dengan rekor pertahanan terbaik di Italia,” kata Chivu. “Para pemain ini sangat peduli dengan kebaikan Inter sehingga mereka berjuang sekeras ini untuk membalikkan keadaan.”
Chivu pun secara tegas mengaitkan kehebatan timnya dengan julukan legendaris tersebut. “Membalikkan ketinggalan 2-0 melawan Como dua kali dalam 10 hari, hanya Pazza Inter yang yang bisa melakukan itu,” pungkasnya.






