Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang sedianya berakhir pada Rabu (22/4/2026) menyisakan satu hari lagi, namun negosiasi kedua negara masih menemui jalan buntu. Iran bahkan belum mengirimkan delegasinya ke Islamabad, Pakistan, menandakan kebuntuan diplomasi yang dinilai berakar dari perbedaan gaya kepemimpinan Presiden AS Donald Trump dan otoritas Iran.
Trump dikenal dengan pendekatan diplomasi koersif, berupaya memaksa lawan tunduk seketika di bawah ancaman militer. Namun, selama enam minggu terakhir berhadapan dengan Iran, Trump mendapati dirinya berhadapan dengan lawan yang memiliki ketahanan luar biasa. Klaim Trump pada Jumat (17/4/2026) bahwa Teheran telah menyetujui semua tuntutan AS pun berakhir sia-sia, bahkan Trump sendiri mengakui di media sosial bahwa klaim tersebut hanyalah rekaan.
Benturan Gaya Diplomasi
Robert Malley, seorang negosiator berpengalaman yang terlibat dalam kesepakatan nuklir 2015, memberikan analisis tajam mengenai kontras karakter kedua pemimpin. “Trump impulsif dan temperamental, kepemimpinan Iran keras kepala dan gigih,” kata Malley, dikutip dari New York Times, Senin (20/4/2026).
Ia menambahkan, “Trump menuntut hasil segera, kepemimpinan Iran memainkan permainan jangka panjang. Trump bersikeras pada hasil yang mencolok dan menarik perhatian media, kepemimpinan Iran memperhatikan setiap detail.” Malley menilai Trump percaya bahwa kekerasan dapat memaksakan kepatuhan, sementara Iran siap menanggung penderitaan luar biasa demi mempertahankan kepentingan inti mereka.
Krisis Kepercayaan dan Eskalasi di Lapangan
Pejabat Iran mencatat bahwa Presiden Trump dua kali berturut-turut memerintahkan serangan terhadap Iran di tengah-tengah negosiasi diplomatik, yakni pada Juni 2025 dan Februari tahun ini. Bagi Teheran, tindakan ini merupakan bentuk pengkhianatan yang membuktikan Trump bukanlah mitra dialog yang dapat diandalkan.
Ketidakpercayaan ini memicu baku tembak pada akhir pekan lalu, di dekat Selat Hormuz. Kapal-kapal Iran melepaskan tembakan ke dua kapal kargo yang diklaim melanggar kendali ketat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Pada Minggu (19/4/2026), Angkatan Laut AS membalas dengan menembaki ruang mesin sebuah kapal kontainer besar berbendera Iran, yang kemudian disita.
Trump sendiri mencatat melalui media sosial bahwa kapal tersebut telah dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan pada 2020 karena riwayat aktivitas ilegal sebelumnya. “Kami memiliki kendali penuh atas kapal tersebut, dan sedang memeriksa apa yang ada di dalamnya!” tulis Trump.
Langkah-langkah agresif di lapangan ini dipandang sebagai upaya kedua belah pihak untuk mendikte jalannya perundingan, layaknya jenderal yang membentuk medan tempur. Iran berusaha menunjukkan bahwa meskipun tertekan, mereka tetap mampu mengganggu jalur perdagangan global di Selat Hormuz yang bernilai jutaan dolar AS. Sementara itu, pemerintahan Trump secara terang-terangan menunjukkan kesiapan mereka untuk menyulut kembali api peperangan jika meja perundingan tidak membuahkan hasil yang memuaskan bagi Washington.






