Money

Harga Minyak Naik, Mendag: CPO Ada, tapi Plastiknya Mahal

Advertisement

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa kenaikan harga minyak goreng kemasan atau premium disebabkan oleh mahalnya harga plastik sebagai bahan baku kemasan. Ia memastikan ketersediaan minyak sawit mentah (CPO) sebagai bahan baku utama minyak goreng tidak menjadi masalah.

Data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan per hari ini menunjukkan rata-rata harga minyak goreng premium secara nasional telah mencapai hampir Rp 22.000 per liter.

“Kalau kesediaan minyaknya enggak ada masalah, tetapi kan tadi faktor dari plastiknya,” ujar Budi Santoso saat ditemui di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Mendag menekankan pentingnya penyelesaian persoalan mahalnya harga plastik. Pihaknya terus menjalin komunikasi dengan pelaku industri plastik, yang menyatakan bahwa produksi tetap berjalan meskipun bahan baku impor mengalami kendala.

“Karena tadi saya bilang yang kebanyakan faktornya karena dari plastik. Nah ini yang plastik juga harus diselesaikan,” kata Budi Santoso.

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini berharap produksi plastik dapat berjalan lancar tanpa hambatan. Jika pasokan bahan baku dan produksi kembali normal, harga plastik di pasar diharapkan dapat menyesuaikan.

“Jangan sampai juga nanti distribusinya tetap mahal karena kalau produksi sudah normal, distributor juga harus menyesuaikan,” tutur Budi Santoso.

Advertisement

Kenaikan Harga Minyak Goreng

Berdasarkan data SP2KP Kementerian Perdagangan, harga minyak goreng kemasan premium per hari ini tercatat di angka Rp 21.796 per liter. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan pada 25 Maret lalu, di mana rata-rata harga minyak goreng kemasan premium berada di Rp 21.237 per liter.

Sementara itu, harga minyak goreng sawit curah per 21 April terpantau di angka Rp 19.474 per liter. Pada 25 Maret, harga minyak goreng curah masih berada di kisaran Rp 18.975 per liter.

Untuk minyak goreng merek dagang pemerintah, MinyaKita, rata-rata harganya per 21 April berada di angka Rp 15.942 per liter. Angka ini sedikit naik dari 25 Maret yang tercatat Rp 15.888 per liter.

Kesulitan produsen mendapatkan bahan baku menjadi penyebab utama mahalnya harga plastik. Plastik sendiri dibuat dari nafta, sebuah produk petrokimia yang berasal dari minyak bumi. Sekitar 70 persen pasokan nafta di pasar dunia berasal dari negara-negara Teluk.

Namun, konflik di kawasan tersebut menyebabkan penutupan jalur distribusi melalui Selat Hormuz, yang berdampak pada terputusnya rantai pasok nafta. Saat ini, industri plastik berupaya mendatangkan nafta dari negara lain seperti India, Afrika, dan Amerika Serikat.

Advertisement