Di tengah denyut nadi kota besar yang tak kenal lelah, banyak orangtua pekerja dihadapkan pada dilema pelik: menyeimbangkan tuntutan karier dengan kewajiban mengasuh anak. Daycare, bagi sebagian keluarga, hadir sebagai solusi realistis yang memungkinkan keduanya berjalan, meski seringkali dibayangi rasa bersalah dan kekhawatiran akan peran yang tergerus.
Melani (33) dan suaminya, Yozar (35), adalah potret nyata dari fenomena ini. Pasangan pekerja asal Depok yang saban hari berjuang menembus kemacetan Jakarta ini terpaksa menitipkan buah hati mereka yang berusia tiga tahun di sebuah daycare. Keputusan ini bukan tanpa pergolakan batin, terutama bagi Melani.
“Awalnya saya menolak. Dalam kepala saya, anak itu harus sama ibunya. Saya dulu berpikir, kalau anak dititipkan daycare, berarti ibunya nggak ngurus,” ujar Melani saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (18/4/2026).
Namun, realitas ekonomi memaksa idealisme tersebut terpaksa dilonggarkan. Melani menyadari, jika ia berhenti bekerja, kondisi finansial keluarga akan sangat terbatas. “Kalau saya resign, kita masih bisa hidup dari gaji suami, tapi akan berat banget. Tidak ada tabungan, tidak ada dana darurat. Kalau anak sakit, langsung kelimpungan,” tuturnya.
Akhirnya, daycare menjadi pilihan yang tak terhindarkan. “Saya sadar daycare itu bukan soal mau atau enggak. Tapi soal bertahan,” tegas Melani.
Keputusan ini tak lepas dari rasa cemas yang mendalam. Melani mengaku sempat dihantui ketakutan akan perlakuan buruk terhadap anaknya. “Takut banget. Saya sampai overthinking. Takut anak dicubit, anak dibentak, anak nggak dikasih makan,” ungkapnya.
Hari pertama di daycare meninggalkan jejak emosional yang kuat. Tangis pecah dari sang anak saat ditinggal, sementara Melani tak kuasa menahan air mata. “Badan ada di kantor, tapi pikiran saya di daycare,” kenangnya.
Daycare Membantu, Tapi Rasa Bersalah Tak Hilang
Demi memastikan keamanan dan kenyamanan anaknya, Melani dan Yozar melakukan riset mendalam terhadap beberapa pilihan daycare. Mereka memeriksa kebersihan, keamanan mainan, kenyamanan ruang tidur, hingga rasio pengasuh dan anak. Ketersediaan CCTV, prosedur penanganan anak sakit, bahkan pelatihan pertolongan pertama bagi pengasuh menjadi poin penting.
“Saya juga lihat cara pengasuh ngomong ke anak-anak. Kalau pengasuhnya ngomongnya keras, saya langsung mundur,” kata Melani.
Seiring waktu, sang anak mulai beradaptasi. Tangis perlahan berganti senyum, menikmati aktivitas dan pertemanan baru di daycare. Meski begitu, rasa bersalah tak serta-merta sirna.
“Rasa bersalah karena saya merasa waktu anak saya lebih banyak sama orang lain dibanding sama saya,” ujar Melani.
Ia mengaku kerap merasa sedih melihat anaknya lebih patuh pada pengasuh, memicu kekhawatiran akan jarak emosional yang kian tercipta. Namun, di sisi lain, daycare tetap menjadi penyelamat yang memungkinkannya bekerja dengan fokus. “Kalau nggak ada daycare, saya nggak tahu harus gimana. Saya nggak mungkin kerja sambil gendong anak,” ujarnya.
Yozar pun mengakui keputusan tersebut adalah keniscayaan. “Setuju. Mau gimana lagi. Kita kerja dua-duanya,” kata Yozar singkat.
Di balik semua itu, tekanan ekonomi tetap menjadi momok. Biaya daycare yang mencapai hampir Rp 2 juta per bulan, ditambah ongkos transportasi dan kebutuhan harian, membuat mereka merasa tak punya ruang bernapas. “Kadang saya heran, kita kerja keras tapi kok rasanya nggak ada napas,” keluh Melani.
Dilema serupa dirasakan Sesa (34), ibu dua anak yang bekerja sebagai admin finance di Jakarta Timur. Awalnya, ia ragu menitipkan anak pada orang lain.
“Saya tipe ibu yang merasa, masa sih anak gue dititipin ke orang lain?” kata Sesa.
Namun, keterbatasan kondisi keluarga, seperti sang mertua yang sudah sepuh dan tak sanggup menjaga setiap hari, membuat daycare menjadi pilihan paling realistis. Momen pertama menitipkan anak pun tak luput dari air mata, baik dirinya maupun sang anak. “Saya mikir, gue ibu jahat enggak sih?” tanyanya.
Kecemasan Sesa berpusat pada keamanan, terutama setelah maraknya kasus kekerasan di daycare yang viral. “Sampai malam saya enggak bisa tidur,” ujarnya.
Meskipun daycare membantu kelancaran kariernya, rasa bersalah tetap menghantui. Ia mengaku sedih melihat anaknya begitu dekat dengan pengasuh. Namun, Sesa perlahan menyadari, “Tapi lama-lama saya sadar, anak saya justru lebih happy.”
Bagi Sesa, biaya daycare yang mencapai sekitar Rp 2 juta per bulan memang besar, namun ia menganggapnya sebagai investasi agar tetap bisa bekerja dan menjaga kesehatan mentalnya. “Buat saya itu besar. Tapi saya pikir itu biaya supaya saya bisa tetap kerja dan tetap waras,” katanya.
Komentar negatif dari lingkungan juga menambah beban. Kalimat seperti “Ngapain punya anak kalau dititipin?” membuatnya merasa semakin bersalah. “Orang enggak tahu hidup di kota itu keras. Daycare itu kebutuhan, bukan gaya-gayaan,” tutur Sesa.
Daycare Jadi Alternatif di Tengah Krisis Pengasuhan
Martha Mulyadani, pengelola Trust DayCare di Jakarta Barat, mengonfirmasi bahwa mayoritas orangtua yang menggunakan jasa daycare adalah pasangan suami istri yang sama-sama bekerja. Tak jarang, daycare menjadi solusi darurat ketika ART berhenti bekerja atau keluarga tidak memiliki anggota yang bisa membantu.
“Mayoritas karena suami-istri sama-sama bekerja. Biasanya mereka awalnya pakai ART, tapi ada juga yang akhirnya ditinggal ART-nya atau merasa tidak cocok,” kata Martha saat ditemui Kompas.com, Senin.
Martha menambahkan, daycare menawarkan keuntungan berupa pemantauan melalui CCTV, sesuatu yang sulit didapatkan dari pengasuh pribadi. Trust DayCare, yang beroperasi sejak 2016, kini memiliki 12 karyawan dan merawat sekitar 38 anak, mayoritas berusia satu hingga dua tahun. Anak-anak yang dititipkan pun berasal dari berbagai wilayah, termasuk luar kota seperti Tangerang.
Selain pengasuhan, daycare juga berperan dalam membentuk kemandirian anak, seperti belajar makan sendiri, disiplin waktu, serta kemampuan sosial. Namun, Martha menekankan bahwa daycare tidak dapat menggantikan peran orangtua sepenuhnya. “Pola pengasuhan harus selaras antara daycare dan rumah. Daycare juga bukan satu-satunya tempat pendidikan anak. Harus ada kerja sama,” tegasnya.
Parental Burnout Dipicu Faktor Struktural
Guru Besar Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga, Tuti Budirahayu, menilai parental burnout pada orangtua perkotaan tidak hanya disebabkan oleh faktor individu, tetapi juga faktor struktural. Kelelahan ekstrem seringkali muncul ketika energi orangtua terkuras di tempat kerja, sementara tuntutan domestik tetap menanti di rumah.
“Orang tua merasa benar-benar kehabisan energi ketika sudah sampai rumah,” kata Tuti saat dihubungi Kompas.com.
Ia juga menyoroti risiko munculnya jarak emosional antara orangtua dan anak akibat minimnya interaksi. “Interaksi dengan anak menjadi kaku, mekanis, sering memberi perintah, melarang, dan anak cenderung menjauh dari orang tua,” ujarnya.
Perasaan bersalah muncul karena orangtua merasa tidak kompeten menjalankan peran mereka, meskipun bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga. Tuti menambahkan, perubahan struktur keluarga dari keluarga besar menjadi keluarga inti memperberat beban pengasuhan.
“Keluarga modern cenderung menjadi nuclear family dan lebih individualistik, di mana tanggung jawab pengasuhan anak menjadi beban individu (suami dan istri), bukan lagi keluarga besar,” jelas Tuti.
Dalam kondisi ini, daycare menjadi bentuk dukungan sosial yang dibeli, namun tidak semua orangtua mampu menjangkaunya. “Bagi keluarga yang mampu akan menggunakan berbagai jenis jasa pengasuhan. Itu semua membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” ujarnya.
Tuti juga menyoroti tekanan dari ekspektasi parenting modern dan media sosial. Gambaran orangtua ideal yang sering ditampilkan di ruang digital dapat menjadi bumerang bagi orangtua yang hidup dalam tekanan ekonomi dan jam kerja panjang.
“Orangtua sempurna dan ideal sulit untuk diwujudkan,” kata Tuti.
Menurutnya, parental burnout lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal seperti sistem kerja yang tidak fleksibel, ancaman kehilangan pekerjaan, serta minimnya dukungan keluarga. “Lebih dipicu oleh faktor eksternal atau struktural dan kultural,” pungkasnya.






