Lifestyle

7 Tips Meningkatkan Self-Esteem Anak Perempuan yang Rendah

Advertisement

Kecemasan mengenai self-esteem atau harga diri yang rendah pada anak perempuan dapat berdampak luas pada berbagai aspek kehidupan mereka, mulai dari kepercayaan diri hingga kemampuan bersosialisasi. Jika tidak ditangani dengan sigap, kondisi ini berpotensi membuat anak menarik diri dan menghambat perkembangan optimalnya. Penting untuk dipahami bahwa self-esteem yang buruk tidak muncul begitu saja. Orang tua memegang peranan krusial dalam mengidentifikasi penyebabnya dan mengambil langkah-langkah strategis untuk membangun kembali kepercayaan diri buah hati.

Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga, Farraas Afiefah Muhdiar, M.Sc., M.Psi., Psikolog, menekankan pentingnya melakukan evaluasi mendalam terhadap akar masalah yang menyebabkan penurunan self-esteem anak.

“Kalau self-esteem anak sudah terlanjur buruk, maka orang tua perlu helicopter view atau mengevaluasi penyebabnya. Self-esteem anak itu tidak datang tiba-tiba, tapi dari apa yang anak dengar dan alami,” jelas Farraas kepada Kompas.com, Selasa (21/4/2026).

Ia menambahkan bahwa sumber tekanan yang dapat memengaruhi self-esteem anak bisa berasal dari berbagai lingkungan terdekatnya. Mencari tahu sumbernya menjadi langkah awal yang krusial agar dapat segera dihentikan.

“Perlu dicari tahu agar bisa segera dihentikan, misalnya dari pengajarnya, asisten rumah tangga, atau anggota keluarga lainnya,” ujarnya. Dengan mengetahui sumber masalah, orang tua akan lebih mudah menentukan strategi perbaikan yang tepat.

Perbaiki Pola Pikir Negatif dan Ajarkan Kalimat Positif

Psikolog Anak dan Remaja, Fabiola Priscilla, M.Psi., menggarisbawahi pentingnya mengubah keyakinan negatif yang telah tertanam dalam diri anak. Pola pikir ini perlu diperbaiki secara bertahap agar anak tidak terus merasa rendah diri.

“Segera perbaiki keyakinan atau pola pemikiran bahwa anak perempuan merasa tidak berharga atau tidak bernilai,” ujarnya.

Proses ini dimulai dengan penerapan kata-kata yang lebih positif dalam percakapan sehari-hari. Anak diajak untuk melihat dirinya dari sudut pandang yang lebih sehat. Mengubah cara anak berbicara tentang dirinya sendiri merupakan langkah fundamental dalam membangun kembali self-esteem.

“Ajarkan anak untuk menemukan pengganti kata yang lebih positif. Misalnya, bukan ‘aku tidak bisa’ tapi ‘aku sedang belajar’. Setelah terbiasa dengan kalimat positif, iringi juga dengan pengalaman yang bermakna,” jelas Fabiola. Dengan kebiasaan ini, anak perlahan akan membangun keyakinan bahwa dirinya memiliki potensi untuk berkembang.

Berikan Apresiasi Tulus dan Ciptakan Lingkungan Mendukung

Farraas menekankan peran besar apresiasi dari orang tua dalam membangun kembali kepercayaan diri anak, namun ia mengingatkan bahwa apresiasi harus diberikan secara tepat.

“Gali juga konsep diri anak atau apa yang anak sukai lewat mengobrol bersama. Berikan anak apresiasi terhadap hal-hal kecil,” ujarnya. Pendekatan ini mengajarkan anak untuk menghargai dirinya sendiri berdasarkan usaha dan kemampuan yang nyata.

Advertisement

“Apresiasi yang tulus dari orang tua itu berarti untuk anak, tapi bukan melebih-lebihkan ya, tetapi sesuai faktanya,” tambahnya.

Kedua psikolog sepakat bahwa menciptakan ruang aman bagi anak untuk mengekspresikan perasaan adalah hal yang esensial.

“Pastikan anak selalu merasa didengarkan dan dihargai. Dengarkan secara tulus dan utuh tanpa dinilai. Terkadang anak hanya butuh didengar bukan diberikan solusi yang sebenarnya sudah diketahui,” imbau Fabiola. Pendekatan ini membuat anak merasa diterima, lebih terbuka, dan tidak merasa sendirian.

Lindungi dari Komentar Negatif dan Tegaskan Nilai Diri

Farraas menyoroti pentingnya peran orang tua dalam melindungi anak dari komentar negatif, terutama yang berkaitan dengan fisik.

“Apabila ada yang mengomentari fisik, misalnya kulit anak yang gelap di depan umum, orang tua bisa tegaskan di depan orang tersebut dan juga anaknya bahwa anak tetap berharga dan cantik,” saran dia. Sikap ini memberikan pesan kuat bahwa anak layak dihargai apa adanya.

Lingkungan yang positif juga menjadi faktor kunci dalam proses pemulihan self-esteem anak. Dukungan dari orang-orang terdekat dapat membantu anak merasa aman secara emosional.

“Hadirkan lingkungan keluarga, saudara, sahabat, atau komunitas yang mampu menguatkan anak, dan membuat anak aman secara emosional,” ujar Fabiola.

Apabila kondisi self-esteem anak sudah berdampak serius pada perilaku sehari-hari, Farraas mengingatkan agar orang tua tidak ragu mencari bantuan profesional.

“Jika orang tua melihat kondisi self-esteem rendah sudah berdampak pada perilaku anak yang menolak untuk ke sekolah, ikut satu aktivitas, atau menarik diri, maka jangan ragu untuk ke psikolog anak,” tandasnya.

Dengan langkah yang tepat dan konsisten, self-esteem anak perempuan dapat kembali dibangun, sehingga ia tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan tangguh.

Advertisement