Money

INDEF: Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Picu Inflasi dan Migrasi EV

Advertisement

JAKARTA, INDEF menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang terjadi pada 18 April 2026 berpotensi memicu inflasi dan mendorong masyarakat, khususnya kelas menengah ke atas, untuk beralih ke kendaraan listrik (EV). Dampak berantai dari kenaikan ini diprediksi akan terasa pada berbagai sektor ekonomi.

Ekonom dan Direktur Program INDEF, Esther Sri Astuti, menjelaskan bahwa bagi masyarakat kelas menengah, kenaikan harga BBM non-subsidi akan mengubah pola konsumsi. Salah satu pergeseran perilaku yang paling terlihat adalah potensi migrasi ke penggunaan kendaraan listrik.

“Kenaikan harga bensin non-subsidi secara terus menerus dapat mempercepat adopsi kendaraan listrik (EV) di kalangan masyarakat menengah ke atas sebagai alternatif yang lebih hemat,” kata Esther kepada Kompas.com, Senin (20/4/2026).

Namun, di sisi lain, kebijakan yang sama juga berpotensi mendorong sebagian konsumen untuk beralih ke BBM bersubsidi. “Meskipun ada pembatasan, kenaikan harga yang drastis dapat memicu tekanan pada akses BBM bersubsidi yakni Pertalite bagi masyarakat yang kesulitan menyesuaikan anggaran,” imbuhnya.

Esther menambahkan, agar adopsi kendaraan listrik dapat berjalan masif, infrastruktur pendukungnya perlu diperbanyak. “Tentu saja untuk adopsi kendaraan listrik harus disiapkan infrastrukturnya, misalnya charging area lebih banyak sehingga lebih mudah diakses pengguna kendaraan listrik,” ucapnya.

Lebih lanjut, untuk mendukung penggunaan perangkat listrik secara luas, termasuk kendaraan listrik, harga listrik itu sendiri perlu lebih terjangkau. Hal ini penting agar perabot rumah tangga dan kendaraan listrik dapat diadopsi oleh lebih banyak lapisan masyarakat.

Dampak Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi pada Ekonomi Makro

Kenaikan harga BBM non-subsidi, yang dipicu oleh gejolak geopolitik global, juga memberikan implikasi pada ekonomi makro. Esther Sri Astuti memaparkan bahwa kenaikan ini secara langsung berkontribusi pada peningkatan angka inflasi.

Peningkatan harga BBM akan berujung pada naiknya biaya logistik dan distribusi barang. Akibatnya, harga kebutuhan pokok dan berbagai komoditas lainnya diperkirakan akan ikut terkerek naik. Seiring dengan kenaikan harga barang, daya beli masyarakat cenderung menurun karena porsi pengeluaran untuk bahan bakar dan kebutuhan dasar akan semakin membesar.

Advertisement

Sektor industri dan logistik pun tidak luput dari dampak negatif. Beban operasional industri yang bergantung pada BBM non-subsidi, seperti sektor manufaktur dan pertambangan, akan mengalami peningkatan biaya produksi yang signifikan. “Industri yang bergantung pada BBM non-subsidi seperti sektor manufaktur dan pertambangan akan mengalami peningkatan biaya produksi yang signifikan,” ungkap Esther.

Kebijakan kenaikan harga BBM ini juga berpotensi memicu kenaikan tarif jasa, terutama pada sektor transportasi barang dan logistik berat. “Kenaikan harga Dexlite dan Pertamina Dex berdampak langsung pada biaya operasional angkutan barang dan kendaraan logistik berat,” kata Esther.

Rincian Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi

Kenaikan harga BBM non-subsidi mulai diberlakukan pada Sabtu, 18 April 2026. Kenaikan ini terutama menyasar beberapa produk unggulan PT Pertamina, yaitu Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.

Berdasarkan pantauan harga BBM terbaru yang dirilis oleh PT Pertamina Patra Niaga, lonjakan paling signifikan terjadi pada jenis Dexlite dan Pertamina Dex. Keduanya mengalami kenaikan hingga Rp 9.400 per liter dibandingkan tarif pada awal April 2026.

Di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, harga Pertamina Dex kini mencapai Rp 23.900 per liter, naik dari harga sebelumnya Rp 14.500 per liter. Sementara itu, Dexlite melonjak menjadi Rp 23.600 per liter, dari sebelumnya Rp 14.200 per liter.

Tidak hanya Dexlite dan Pertamina Dex, harga Pertamax Turbo juga mengalami penyesuaian. Harga jualnya kini mencapai Rp 19.400 per liter, yang berarti ada kenaikan sebesar Rp 5.600 dari posisi sebelumnya Rp 13.100 per liter.

Advertisement