Pendidikan Konservasi Tangkoko Gelar Science Camp “Jelajah Konservasi Generasi-Z”

Kegiatan ini digelar di pusat penelitian Macaca Nigra, Hutan konservasi Tangkoko, TWA Batuputih

Peserta Science Camp saat melakukan praktek lapangan di Kawasan Hutan Konservasi Tangkoko, TWA Batuputih. (Foto: Doc.MNP dan PKT).

BITUNG, (manadotoday.co.id) – Pendidikan Konservasi Tangkoko (PKT) menggelar kegiatan Science Camp di pusat penelitian Macaca Nigra, Hutan konservasi Tangkoko, Taman Wisata Alam (TWA) Batuputih, 12-25 Oktober 2020.

Nona Diko Koordinator program pendidikan PKT, menyampaikan, penyelenggaraan kegiatan Science Camp adalah salah satu bentuk sharing pengetahuan, motivasi dan tekat serta semangat bagi anak-anak Sekolah Menegah Atas (SMA) dan Sekolah Menegah Kejuruan (SMK), yang berada di seputaran wilayah Konservasi Hutan Tangkoko.

“Pendidikan untuk masyarakat lokal, khususnya bagi remaja dalam program Sains Camp, untuk mendapatkan pengetahuan dengan menggunakan pengamatan dan eksperimen untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi di alam dengan metode kegiatan di luar lingkungan sekolah,” ujar Nona.

Lanjutnya, pengembangan kapasitas program pendidikan PKT, diharapkan dapat membentuk karakter, khususnya remaja yang merupakan kader konservasi yang memiliki nilai-nilai ilmu pengetahuan, ilmuan masa depan, etika, peduli lingkungan serta pola pikir berkembang Generasi-Z yang inovatif dalam menyikapi permasalahan lingkungan.

Baca Juga:
1 of 493

“Masalah lingkungan yang terjadi di sekitar kita, seharusnya menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai makhluk sosial yang mempunyai kemampuan berpikir dan kesadaran lebih dari makhluk hidup lainnya,” ujarnya.

Dengan disahkannya UU OMNIBUS LAW Cipta Kerja pada tanggal 05 Oktober 2020, akibatnya Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup tidak lagi diperlukan sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan izin penyelenggaraan usaha.

“Dalam penyusunan Amdal, masyarakat yang diizinkan terlibat dalam penyusunan hanya mereka yang berdampak, tak ada lagi pemerhati lingkungan/masyarakat yang terpengaruh atas nama pembangunan berkelanjutan dan masih banyak lagi pasal-pasal tumpang tindih yang lahir pada masa pendemi Covid-19, dari kebijakan tertutup yang mengundang merosotnya tingkat kepercayaan masyarakat kepada Negara,” tegas Koordinator program pendidikan PKT.

Ia menambahkan, program ini adalah pilot program di mana pelaksanaan kegiatannya merupakan percontohan yang dirancang sebagai pengujian dalam rangka untuk menunjukkan keefektifan suatu pelaksanaan program dan mengetahui dampak pelaksanaan program.

“Sains Camp Program adalah program pendidikan Macaca Nigra Project. Dimana diketahui Macaca Nigra Project adalah stasion penelitian satwa liar di Tangkoko, khususnya Monyet Hitam Sulawesi,” tutupnya seraya menambahkan, Kami Menolak UU Omnibus Law Cipta Kerja, Jadilah solusi bukan polusi, kerusakan lingkungan adalah ide penjahat lingkungan.

Diketahui sebanyak 10 siswa dari SMK Negeri 4 Bitung, yang mengikuti Science Camp, dan sebagai pembicara dan tutor dalam pelaksanaan kegiatan tersebut: Manajer MNP, Rismawaty dan Meldy Tamengge serta para nara sumber lainnya mewakili; Balai Konservasi Sumber Daya Alam – Sulawesi Utara, Pusat Penyelamatan Tasikoki, Yayasan Selamatkan Yaki dam Sulut Semangat serta Bacarita PLANK.
(alo)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.