Toleransi Perkuat Nilai Prosesi Cap Go Meh di Kota Manado

Reporter : | 28 Feb, 2019 - 10:08 am WITA

Toleransi , ryan mamangkey, Cap Go Meh manado 2019, cap go meh

Toleransi Perkuat Nilai Prosesi Cap Go Meh di Kota Manado

Baju basah dengan keringat bercampur air hujan menempel di badan seorang bocah yang duduk di emperan toko di Kawasan Pecinan Kota Manado. Tepat disampingnya duduk seorang pria yang sibuk menikmati sebatang rokok. Tampaknya, pria dengan jenggot lumayan panjang itu datang dengan bocah tersebut.

Dengan kepala ditutupi kantong plastik agar terlindung dari rintik hujan yang turun menemani panas yang terik siang itu, mata bocah yang tampaknya berumur sekira lima tahun terlihat sibuk melihat ribuan orang yang berhimpitan di Kawasan Pecinan Kota Manado untuk melihat langsung jalannya prosesi Cap Go Meh, Selasa (19/2/2019).

Dari sorot matanya mungkin tergambar rasa heran, mengapa dari ribuan orang yang datang hanya sedikit orang yang memiliki mata sipit, padahal, prosesi tersebut digelar oleh etnis Tionghoa yang terkenal dengan film-film Kung-Fu-nya.

Tak lama, mungkin sekira 10-15 menit, bau hio semakin menguat, bunyi gendang, gong kecil serta simbal semakin terdengar nyaring, pertanda prosesi Cap Go Meh akan dimulai. Pria dengan jenggot lumayang panjang itu langsung membuang rokok yang belum habis dihisap, dengan sigap meraih tangan bocah yang duduk di sampingnya cepat-cepat mencari tempat yang nyaman untuk melihat aksi sadis namun penuh makna dari para Ence Pia (sebutan orang Manado untuk Tang Sen).

Ya, tidak bisa dipungkiri prosesi Cap Go Meh adalah salah satu iven primadona yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat Kota Manado bahkan Sulawesi Utara. Ribuan orang dari berbagai macam suku, ras dan agama rela berdesak-desakkan untuk melihat langsung prosesi umat Tri Dharma tersebut. Seakan-akan tidak ada sekat, memperkuat kelayakan Manado mendapatkan titel Kota Paling Toleran di Indonesia.

Wali Kota Manado G.S Vicky Lumentut dan Wakilnya Mor Bastiaan, dipelbagai kesempatan selalu mengatakan bahwa di kota ini seluruh agama yang dinyatakan resmi oleh undang-undang diberikan keleluasaaan untuk memeluk kepercayaannya masing-masing, begitu juga dengan suku, bebas melaksanakan ritualnya sesuai dengan aturan yang berlaku.

“Kota Manado ini bukan milik segelintir orang saja, tapi milik seluruh warga yang tinggal menetap di kota ini. Di Kota Manado tidak ada orang Bali, orang Gorontalo atau orang Jawa, tapi yang ada orang Manado dari Bali, orang Manado dari Gorontalo dan orang Manado dari Jawa. Kita semua tinggal di sini sebagai satu kesatuan, satu keluarga di ‘rumah besar’ kita, dan sikap toleransi sebagai perekatnya,”ungkap wali kota dibeberapa kesempatan.

Usai prosesi, saya coba mendekatati pria dan bocah itu, berbekal sebatang rokok untuk mencairkan suasana, saya bertanya asal dan hubungan keduanya.

“Ini anak saya, kami berdua dari Gorontalo, baru sekira dua bulan menetap di Kota Manado,”katanya sambil tersenyum.

Menurutnya, di tempat asalnya juga dilakukan hal serupa, namun tak semeriah di sini.

“Di Gorontalo juga ada (proses Cap Go Meh), namun di sini tampaknya lebih meriah, kostum yang dipakai juga bagus-bagus, anak saya suka lihatnya, meski sempat berapa kali tutup mata saat ada aksi tusuk-tusuk itu,”tuturnya, sambil melepaskan kantong plastik di kepala anaknya.

Diantara banyaknya orang yang datang, Nurdin nama pria yang memakai setelan putih dengan celana pendek itu juga ternyata memperhatikan banyaknya turis yang datang.

“Berapa kali saya melihat banyak orang bule (orang barat) yang lewat-lewat, juga ada beberapa yang saya pikir dari China, padahal di negara mereka juga pasti ada yang seperti ini tapi mereka lebih memilih di sini,”tutur pria yang mengaku beragama Islam itu sambil tertawa.

Yang membuatnya lebih kagum, dari ribuan orang yang datang ternyata didominasi oleh mereka yang buka dari etnis Tionghoa.

“Malahan yang saya perhatikan lebih banyak saya lihat dari agama kristen, yang muslim juga banyak, mungkin ini ya yang kerap kali saya baca di Facebook (medsos) kalau Manado itu toleran, lebih enak kalau begini, tidak ada yang namanya berbeda, lebih damailah… nyaman,”ucap Nurdin.(ryan)

Baca Juga :

Leave a comment