Kisah Kota Monowi dan Elsie Eiler Satu-satunya Penduduk di Kota Kecil Tersebut

Reporter : | 02 Feb, 2018 - 5:39 pm WITA

Monowi, Nebraska,  Elsie Eiler , walikota Monowi, kota unik

(foto: Andrew Filer/Wikimedia Commons)

MANADOTODAY.CO.ID – Menurut data Sensus AS tahun 2010, Monowi, Nebraska, hanya dihuni oleh satu orang, ya anda tidak salah baca, hanya satu. Monowi adalah satu-satunya kota di negara tersebut yang hanya memiliki satu penduduk.

Satu-satunya orang yang tinggal di Monowi adalah Elsie Eiler. Wanita berusia 84 tahun tersebut, memiliki banyak profesi, yaitu walikota, juru tulis, bendahara, pustakawan, bartender, dan beberapa profesi lainnya. Setiap tahun dia menggantungkan sebuah tanda di kedai iklan yang mengiklankan pemilihan walikota dan kemudian memberikan suara untuk dirinya sendiri. Undang-undang federal juga mengharuskannya untuk membuat program kota setiap tahun agar mendapatkan pendanaan dari negara, dan membayar pajak sebesar $ 500 supaya air dan listrik tetap berfungsi. Dia juga melengkapi dokumen yang diperlukan untuk menjaga status Monowi dan mencegahnya menjadi kota hantu.

“Ketika saya mengajukan permohonan ke negara bagian untuk mendapatkan izin menjual minuman keras dan tembakau setiap tahun, mereka mengirim izin ke sekretaris, yaitu saya. Jadi, saya ambil izin sebagai sekretaris, menandatangani itu sebagai panitera dan menerima izin sebagai pemilik bar.” katanya kepada BBC.

Kembali pada tahun 1930an, Monowi dulunya mempunyai populasi 150 orang, tiga toko kelontong, beberapa restoran, dan bahkan sebuah penjara. Eiler dibesarkan di sebuah peternakan di pinggiran kota dan bertemu dengan suaminya Rudy di sekolah dasar. Setelah lulus SMA, Rudy mendaftar di Angkatan Udara AS. Sementara dia bertugas dalam Perang Korea, Elsie pindah ke Kansas City untuk melanjutkan pekerjaan di sebuah maskapai penerbangan.

Elsie kemudian menikahi Rudy pada usia 19 tahun, dan mereka membesarkan dua anak di Monowi. Pada tahun 1971, pasangan tersebut memutuskan untuk membuka kembali kedai milik ayah Elsie. Saat kedai dibuka, populasi kota kecil tersebut mulai menurun. Setelah Perang Dunia ke-II, ekonomi mulai ambruk dan seluruh masyarakat berangsur-angsur mulai menghilang.

Pada tahun 1960, gereja mengadakan pemakaman terakhir untuk ayah Elsie, dan kemudian antara tahun 1967 sampai 1970, kantor pos dan satu-satunya toko kelontong ditutup. Sekolah ditutup pada tahun 1974. Pada pertengahan tahun 70-an, kedua anak Elsie pindah untuk mencari pekerjaan, dan pada tahun 1980 populasi kota tersebut turun drastis menjadi 18 jiwa. Dua puluh tahun Kemudian suaminya Rudy meninggal dunia pada tahun 2004 .

Meski hidup sendiri, Elsie mengatakan bahwa dirinya tidak kesepian. Enam hari seminggu dia membuka kedai pada jam 9:00 pagi dan menghabiskan 12 jam untuk melayani pelanggan tetapnya.

“Ini seperti satu keluarga besar. Ada pelanggan generasi keempat dan kelima yang datang. Rasanya sangat aneh ketika orang yang anda tahun saat masih bayi, membawa bayi mereka untuk ditunjukkan kepada saya.” kata Elsie.

Elsie memiliki lima cucu dan dua cicit dari dua anaknya. Yang paling dekat tinggal di Ponca, Nebraska, sekitar 90 mil jauhnya, tapi yang lain tinggal di Belanda.

“Saya tahu saya selalu bisa dekat dengan anak-anak saya atau tinggal bersama mereka kapanpun saya mau. Namun, selama saya bisa berada di sini, inilah tempat yang sangat saya ingin.”ungkap Elsie.

sumber: BBC.com

Baca Juga :

Leave a comment

Berita Pilihan

Advertisement
.