Awas, Stres Bisa Buat Otak Anda Lebih Cepat Tua

Reporter : | 19 Jul, 2017 - 3:39 pm WITA

Stres , efek Stres , dementia, otak cepat tua

(foto: Pixabay)

MANADOTODAY.CO.ID – Pengalaman yang membuat stres dapat membuat otak lebih cepat tua selama beberapa tahun, para ilmuwan menemukan.

Para ahli di Amerika (AS) menemukan bahwa bahkan hanya satu peristiwa stres besar di awal kehidupan mungkin berdampak pada kesehatan otak di masa depan.

Para peneliti memeriksa data dari 1.320 orang yang mengalami pengalaman stres selama masa hidup mereka, dan menjalani tes di bidang-bidang seperti pemikiran dan ingatan.

Pengalaman hidup yang menyedihkan – seperti seperti kehilangan pekerjaan, kematian anak, perceraian atau memiliki orang tua yang menyalahgunakan alkohol atau narkoba – terkait dengan fungsi kognitif yang lebih buruk di kemudian hari.

Ketika melihat secara khusus orang keturunan Afrika Amerika, tim tersebut mendapati bahwa mereka mengalami lebih dari 60 persen kejadian yang lebih berat dibandingkan orang kulit putih selama masa hidup mereka.

Peneliti mengatakan bahwa pada orang Afrika Amerika, setiap pengalaman stres setara dengan kira-kira empat tahun penuaan kognitif.

Penelitian yang belum dipublikasikan dalam jurnal peer-review, dipresentasikan di Alzheimer’s Association International Conference di London. Dipimpin oleh sebuah tim dari University of Wisconsin School of Medicine and Public Health

“Peristiwa stres yang difokuskan oleh para peneliti beragam … kematian orang tua, pelecehan, kehilangan pekerjaan, kehilangan rumah, jatuh miskin, tinggal di lingkungan negatif, perceraian.”kata Dr Maria Carrillo, kepala petugas sains untuk Alzheimer’s Association.

Bahkan menurut dia, pindah sekolah saja bisa dianggap sebagai peristiwa kehidupan yang membuat stres bagi beberapa anak.

“Kami tahu bahwa stres yang berkepanjangan dapat berdampak pada kesehatan kita, jadi tidak mengherankan penelitian ini menunjukkan peristiwa kehidupan yang penuh tekanan, juga dapat mempengaruhi ingatan dan kemampuan berpikir kita nantinya. Namun, tetap harus ditetapkan apakah kejadian kehidupan yang membuat sters ini dapat menyebabkan peningkatan risiko demensia.” kata Dr Doug Brown, direktur penelitian dan pengembangan di Alzheimer’s Society.

“Mempelajari peran stres itu rumit. Sulit untuk dipisahkan dari kondisi lain seperti kecemasan dan depresi, yang juga dianggap berkontribusi terhadap risiko demensia. Untuk mengungkap ini, dibutuhkan lebih banyak penelitian dalam skala waktu yang lebih lama. Jika anda mengalami stres atau khawatir dengan kesehatan anda, penting untuk mengunjungi dokter umum anda.”tambahnya.

Namun, para ahli percaya bahwa gaya hidup sehat dan diet sehat dapat membantu mengurangi risiko ini, bahkan bagi orang-orang yang mengalami kejadian stres.

Sumber: standard.co.uk

Baca Juga :

Leave a comment