Bupati JWS dan Ketua TP PKK Hadiri Pagelaran Budaya Katombuluan dan Sangihe Talaud

Reporter : | 01 Feb, 2017 - 11:10 am WITA

TONDANO, (manadotoday.co.id) – Bupati Minahasa Drs Jantje Wowiling Sajow MSi bersama isteri, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Minahasa DR Olga Sajow Singkoh MHum, disambut dengan adat Sangihe saat menghadiri acara pagelaran Budaya Katombuluan, dan Budaya Etnis Sangihe dan Talaud pada perayaan Adat Tulude, yang dilaksanakan Badan Musyawarah Masyarakat Tombulu (Paheluman Ne Tombulu), di Desa Poopoh Kecamatan Tombariri, Selasa (31/01).

“Bupati JWS yang juga selaku Ketua Umum Badan Musyawarah Masyarakat Tombulu bersama rombongan jajaran pejabat di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minahasa disambut dengan ritual adat Sangihe yang dipimpin salah satu Tokoh Katombuluan dan diikuti tarian penjemputan oleh Putri Pingkan dan Matindas (Putra dan Putri Sangihe dan Talaud, red), yang kemudian memasuki bangsal acara dan menduduki kursi kehormatan yang disediakan para tetua adat,” ucap kabag humas dan protokol Drs Moudy Pangerapan MAP.

Bupati JWS yang digelari Kolano Petor Un Tana dipersilahkan duduk di tempat duduk yang telah disediakan, kemudian Matindas mengambil bambu atau aweian berisi air yang diambil dari sumur atau Parigi Pingkan dan diserahkan kepada Pingkan. Pingkan kemudian menyampaikan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa seorang Kolana Petor telah diberkati-Nya, sambil membasuh kedua kaki Kolana Petor dan diusap-usap tiga kali kedua kaki dengan ungkapan kata Filosofi leluhur Minahasa, “Wahu Nae, Wahu Kero’an”, artinya basah kaki basah tenggorokan, basah kaki pertanda bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum.

Sesudah itu, Kolano Petor dipersilahkan berdiri dan menerima Tawaang dari Matindas, Tawaang yang diserahkan sebagai tanda bagi seorang Pemimpin yang akan menetapkan keputusan pada tanda batas sebagai simbol batas tanah yang ditetapkan sebagai aturan menurut peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Selanjutnya, acara ritual adat Tulude menjemput Kolano Petor selaku “Timade”. Usai disambut dengan ritual tersebut, Kolano Petor kemudian dipasangi baju dan topi adat serta pengalungan selendang kepada isteri Kolano Petor, kemudian diiring tarian mempersilahkan tamu kehormatan masuk bangsal sukacita dan naik panggung kehormatan.

Upacara kemudian dilanjutkan dengan panggilan acara Adat Tulude, yang ditandai dengan pemukulan  Tetengkoren. Acara ini ditandai dalam bentuk ibadah syukur yang didalamnya juga ada prosesi kue adat dibawa memasuki bangsal acara, di mana Kue Adat Tamo Makna Tulude dan Kue Adat Tamo masuk dengan diiringi Kapitang Bisara.

Sebelum JWS dan rombongan tiba dilokasi acara, upacara adat sudah dimulai lebih dahulu dengan persiapan sejak pukul 08.00 Wita. Dimana kelompok Kabasaran menjemput Pemeran Pingkan dan Matindas di salah satu lokasi di luar Desa Poopoh, kemudian diantar secara arak-arakan dan menuju Parigi Pingkan dan Matindas, secara adat ritual mengambil air sumur dimasukkan dalam bambu bentuk Aweian oleh Tonaas Umbanua atau Panendon Tu’a (Hukum tua, red) Ranowangko Deitje Kusoy dan diserahkan kepada Matindas, sesudah itu menuju ke lokasi Batu Opo Sumanti mengambil mengambil Pohon Kayu Tawaang dan diserahkan juga kepada Matindas.

Pingkan dan Matindas secara arak-arakan kemudian menuju Desa Poopoh, rombongan Pingkan dan Matindas dijemput tarian kabasaran. Rombongan Bupati JWS atau Kolana Petor tiba pada pukul 10.00 wita dan disambut secara adat.

“Ibadah syukur dipimpin sekretaris departemen pengembalaan Sinode GMIM pdt Teddy Kansil MTh dengan pembacaan alkitab terdapat dalam Hakim-hakim 3:6-7 , 10-14,” ucap Pangerapan. (Rom)

Baca Juga :

Leave a comment

Berita Pilihan

Advertisement
.