China Susun UU yang Larang Kekerasan di Pusat Rehabilitasi Kecanduan Internet

Reporter : | 09 Jan, 2017 - 6:12 pm WITA

Kecanduan Internet,  Rehabilitasi Kecanduan Internet, china

Para remaja yang masuk pusat rehabilitasi kecanduan internet (foto: Weibo)

MANADOTODAY.CO.ID – Selama dekade terakhir, para orangtua di China mengirim anak remaja mereka ke “boot kamp” untuk menyembuhkan kecanduan internet.

Tapi, bukannya disembuhkan, remaja-remaja ini malah mengaku kekerasan merajalela di kamp-kamp tersebut; terapi kejut listrik dan obat-obatan adalah beberapa “perawatan” yang diberikan. Bahkan pernah ada orang yang tewas di pusat-pusat rehabilitasi.

Karena hal itu, pemerintah China sekarang sedang menyusun undang-undang baru yang bertujuan untuk melindungi pasien dari kekerasan yang terjadi, South China Morning Post melaporkan.

UU cyberprotection, jika sudah berlaku, akan mencegah kamp melakukan tindak kekerasan. Hukum juga mengatur para pembuat game online dan kafe internet, yang mungkin harus memberlakukan jam malam pada anak-anak yang bermain, mencegah mereka duduk di depan komputer sepanjang malam. Game smartphone juga termasuk dalam rancangan undang-undang.

Satu dari lima dari 750 juta pengguna internet di negara itu berusia di bawah 19 tahun, dan China mengakui kecanduan internet sebagai gangguan klinis.

Terapi kejut listrik untuk mengobati kecanduan internet telah menjadi praktik kontroversial di China sejak tahun 2006. Praktek ini dilarang oleh Departemen Kesehatan China pada 2009, tapi masih terus berkembang.

Para pesien melaporkan disetrum lebih dari 135 kali dalam 100 hari di beberapa kamp, sementara mereka yang berperilaku buruk atau mencoba bunuh diri diberikan terapi sengatan listrik lebih banyak.

Tahun lalu, seorang remaja 16 tahun bernama Chen Xinran mengikat ibunya di kursi, sebagai pembalasan karena dia dikirim ke kamp kecanduan internet di Shandong.

Chen menulis pengalamannya dalam sebuah postingab blog, di mana dia menceritakan bagaimana dia diculik dan mengalami kekerasan, termasuk dipaksa untuk makan di depan lubang jamban dan dipukuli.

Setelah kisahnya menjadi viral, remaja lain mulai buka suara, mengklaim bahwa mereka dilarang untuk tidur dan diancam di kamp Shandong.

Sumber: Mashable.com

Baca Juga :

Leave a comment