China Jack the Ripper: Akhir Perjalanan Pembunuh Paling Ditakuti di China

Reporter : | 30 Agu, 2016 - 2:27 pm WITA

Ganzu , China Jack the Ripper, Gao Chengyong

Gao Chengyong saat ditangkap oleh polisi (foto: australscope)

MANADOTODAY.CO.ID – Pembantai dari Ganzu telah meneror para perempuan muda di China selama beberapa dekade.

Banyak yang takut untuk keluar rumah, khawatir mereka bisa menjadi korban berikutnya dari seorang pembunuh berantai yang menurut pihak berwenang bersifat “penyendiri”, “sabar” dan memiliki “kebencian” mendalam pada wanita.

Selama 14 tahun, ia mengungkapkan kebenciannya pada wanita mengenakan pakain merah. Dia menargetkan mereka yang tinggal sendirian, kemudian mengikuti mereka sampai ke rumah.

Dia dituduh memperkosa, membunuh dan memutilasi 11 wanita antara tahun 1988 sampai 2002. Salah satu korbannya adalah seorang bocah delapan tahun.

Dia berhasil lolos untuk waktu yang lama karena sangat berhati-hati, tapi tidak selamanya bisa melarikan diri.

Di dalam toko kelontong di provinsi Gansu, China, pada hari Senin, bersama istrinya, teror yang ditimbulkan oleh pria yang dikenal sebagai China Jack the Ripper akhirnya berakhir.

Polisi berhasil menangkap seorang pria 52 tahun bernama Gao Chengyong. Pria yang sudah menikah. Seorang ayah dua anak. Seorang pemilik toko kelontong. Pembunuh berantai.

Tahun yang ‘indah’ untuk Gao Chengyong

Pada tahun 1988, Gao Chengyong menyambut anak pertamanya ke dunia. Pada tahun yang sama, saat berusia 34 tahun, dia mengklaim korban pertamanya.

Polisi menuduh Gao mengikuti, memperkosa dan membunuh seorang wanita 23 tahun yang mengenakan pakaian merah. Dia ditemukan tewas di rumahnya dengan 26 luka tusukan.

Pada bulan November tahun yang sama, dia membunuh Cui Jinping, tapi ia tidak puas dengan hanya menikamnya sampai mati. Menurut laporan pada saat itu, dia memotong tangan dan payudara Jinping.

Ibu korban menemukan tubuhnya, tetapi bagian tubuhnya yang lain tidak pernah ditemukan.

Jumlah korban menumpuk antara tahun 1998 sampai 2002. Lalu tiba-tiba tidak ada lagi pembunuhan. Tidak petunjuk bagi polisi untuk mengejar pelaku.

Pada tahun 2004, petugas forensik meneliti kasus terkait korban ke-11. Mereka merilis pernyataan serta mengatakan akan memberi hadiah sebesar $ 30,000 (Rp 397 juta) bagi siapa saja yang bisa memberikan informasi.

“Tersangka memiliki penyimpangan seksual dan membenci wanita. Dia tertutup dan tidak ramah, tetapi sabar. ” bunyi pernyataan dari petugas.

Pamornya naik ketika orang-orang mulai membandingkan dirinya dengan pembunuh berantai era Victoria di London timur ini, Jack the Ripper. Kejahatan yang dia lakukan termasuk lima korban yang dimutilasi tidak pernah terselesaikan sampai sekarang.

Untuk polisi, secercah harapan muncul ketika petunjuk dari salah satu kerabat Gao sampai ke telinga mereka.

Pengakuan

Gao tinggal di sebuah kota kecil dan karena itu, ia berhasil menghindari pemeriksaan sidik jari yang dibutuhkan oleh warga China yang mengajukan pembuatan KTP.

Dia telah meninggalkan jejak DNA di sejumlah TKP namun polisi tidak bisa menghubungkannya dengan tersangka apapun. Semua berubah tahun ini ketika paman Gao ditangkap karena kejahatan kecil. Menurut China Daily, DNA paman Gao dikumpulkan dan diperiksa.

Dari situ, polisi menemukan paman Gao memiliki hubungan dengan pembunuh, dan polisi menargetkan Gao.

New York Times melaporkan anak Gao terkejut ketika mendengar ayahnya telah mengaku.

“Saya tidak tahu harus berkata apa, atau bagaimana menghadapinya,” katanya.

Pengakuannya telah mengakhiri tugas polisi dan kekhawatiran para wanita di provinsi Ganzu selama bertahun-tahun.

Baca Juga :

Leave a comment