Penelitian: Pemain Game Online Lebih Mungkin Dapatkan Nilai Tinggi di Sekolah

Reporter : | 09 Agu, 2016 - 10:14 pm WITA

Game Online, manfaat Game Online, video game, game

(foto: Pixabay)

MANADOTODAY.CO.ID – Remaja yang bermain video game lebih mungkin mendapatkan nilai yang lebih baik di sekolah, sebuah penelitian menemukan.

Penelitian, yang dirilis oleh Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), menemukan bahwa siswa yang bermain game online setiap hari, lebih baik dalam pelajaran matematika, ilmu pengetahuan dan membaca.

“Siswa yang bermain game online hampir setiap hari, mencetak 15 poin di atas rata-rata dalam pelajaran matematika dan 17 poin di atas rata-rata dalam ilmu pengetahuan,” kata rekan penulis studi Albert Posso dari RMIT kepada News Limited.

“Ketika Anda bermain game online, Anda memecahkan teka-teki untuk pindah ke tingkat berikutnya dan melibatkan penggunaan beberapa pengetahuan umum dan keterampilan dalam matematika, membaca dan ilmu pengetahuan yang telah diajarkan di sekolah,” katanya.

“Guru harus mempertimbangkan menggabungkan video game populer yang tidak mengandung unsur kekerasan selama proses belajar,” kata Posso.

Posso menggunakan data dari Program for International Student Assessment (PISA) untuk menganalisa kebiasaan online remaja Australia berusia 15 tahun dan kemudian membandingkannya dengan hasil akademik.

Posso mengatakan, data menunjukkan bahwa game online bisa membantu remaja mengembangkan kemampuan untuk memecahkan masalah.

“Kadang-kadang (pemain) harus memahami beberapa prinsip kimia bahkan mereka benar-benar harus memahami ilmu pengetahuan,” ungkap Posso kepada ABC News.

“Beberapa psikolog berpendapat bahwa game online memiliki manfaat bagi perkembangan kognitif.”

Penelitian ini juga menemukan bahwa siswa yang menggunakan media sosial setiap hari menerima nilai 20 poin di bawah rata-rata dalam pelajaran matematika daripada mereka yang tidak menggunakan media sosial.

Posso mengatakan hubungan antara penggunaan media sosial yang berlebihan dan hasil akademis yang buruk dapat dikaitkan dengan kurangnya waktu belajar.

“Anda tidak benar-benar akan memecahkan masalah saat menggunakannya (media sosial),” kata Posso.

Penelitian ini diterbitkan dalam International Journal of Communication.

Baca Juga :

Leave a comment