Tembak di Tempat!!, Cara ‘Sadis’ Pemerintah Filipina Basmi Narkoba

Reporter : | 12 Jul, 2016 - 7:14 pm WITA

Narkoba, Pengedar Narkoba, Filipina , Rodrigo Duterte

Rodrigo Duterte (foto: Wikipedia)

MANADOTODAY.CO.ID – Sosok seorang mayat yang dipercaya merupakan pengedar narkoba ditemukan tergeletak dengan tulisan ‘Pusher Ako’ menutupi badannya di Filipina setelah presiden mendesak masyarakat untuk ‘pergi dan bunuh’ para pengedar.

Mayat para pengedar narkoba yang ditembak mati di Manila menjadi semakin umum setelah polisi mengobarkan perang berdarah atas narkotika.

Pengacara top pemerintahan menyerukan polisi untuk membunuh para penjahat narkoba kelas kakap sebagai langkah untuk membela perang brutal Presiden Rodrigo Duterte atas kejahatan dari kritikan.

Polisi memastikan telah membunuh lebih dari 110 tersangka sejak Duterte memenangkan pemilihan umum pada Mei, menjanjikan penumpasan kejahatan yang akan merenggut ribuan nyawa.

Setelah informasi resmi jumlah korban yang tewas diumumkan, dan mayat-mayat lain yang tidak dikonfirmasi dibunuh oleh polisi dengan tanda yang menyatakan mereka merupakan pengedar narkoba, pengacara hak asasi manusia dan beberapa anggota parlemen menyatakan keprihatinan tentang perang melawan kejahatan sudah di luar kendali.

Menanggapi kritikan, Jaksa Agung Jose Calida mengadakan konferensi pers pada hari Senin di markas polisi nasional untuk menuntut legalitas pembunuhan polisi dan untuk mendorong lebih banyak kematian dari orang-orang yang diduga terlibat dalam perdagangan narkoba.

“Bagi saya, itu tidak cukup, “ungkap Calida terkait pembunuhan yang terjadi sejauh ini dikutip dari MainOnlie.

“Berapa banyak pecandu narkoba atau pushers yang ada di Filipina? desa kami hampir jenuh (dengan narkoba).” tambahnya.

Duterte, yang menjabat pada 30 Juni, telah berulang kali memperingatkan bahwa tindakan tegas diperlukan untuk menghentikan Filipina menjadi negara narkoba.

Duterte yang meruapakn mantan pengacara dan jaksa, mendesak penegak hukum untuk membunuh orang-orang yang mereka percaya terlibat dalam perdagangan narkoba, serta penjahat lainnya.

Dalam salah satu insiden tunggal yang paling mematikan, polisi dilaporkan menewaskan delapan orang pecandu di sebuah kota kecil di selatan Filipina.

Seperti dalam kasus lain, polisi bersikeras mereka terpaksa menembak karena mereka melakukan perlawanan.

Salah satu pengacara hak asasi manusia Jose Manuel Diokno, memperingatkan pekan lalu bahwa Duterte cenderung ‘menelurkan ledakan nuklir kekerasan yang di luar kendali dan menciptakan sebuah bangsa tanpa hukum.

Baca Juga :

Leave a comment