Kisah Guru Afghanistan yang Bertaruh Nyawa Distribusikan Buku Pada Anak-anak Korban Perang

Reporter : | 29 Apr, 2016 - 1:20 am WITA

Guru Afghanistan, Saber Hosseini,Afghanistan, kisah inspiratif

Saber Hosseini (foto: odditycentral.com)

MANADOTODAY.CO.ID – Di negara yang sedang dilanda perang, anak-anak sering menjadi korban, kehilangan orang tua, sahabat dan bahkan sekolah. Namun, seorang pria bernama Saber Hosseini ingin membawa perubahan dengan mengajar anak-anak di kota Bamiyan, Afghanistan, dan mengubah sepedanya menjadi perpustakaan keliling untuk mengunjungi desa-desa terpencil.

“Saya memiliki ide untuk proyek ini sejak enam bulan lalu. Saya berbicara tentang hal itu kepada teman-teman di kalangan sastra, yang menyumbangkan uang dan beberapa teman-teman mereka di luar negeri untuk memberi sumbangan. Saya mulai dengan 200 buku cerita untuk anak-anak, dan pergi ke desa-desa terpencil di seluruh provinsi Bamiyan. Kemudian saya merekrut relawan. Sekarang kami memiliki 20 anggota, dan mengoleksi sekitar 6.000 buku “Sebagian besar buku-buku ini diimpor dari Iran.

Hosseini mengungkapkan bahwa ia memilih menggunakan sepeda untuk proyek perpustakaan kelilingnya karena sejumlah alasan. Banyak relawan tidak mampu membeli mobil dan sebagian besar desa-desa di provinsi itu hanya dapat diakses dengan sepeda. Tapi ada juga arti simbolis dari pilihannya. “Taliban menggunakan sepeda untuk melancarkan serangan bom – jadi saya ingin mengganti kekerasan dengan budaya,” katanya saat berbicara dengan The Observers.

Hosseini memenuhi sepedanya setiap akhir pekan dengan buku dan peri ke desa-desa terpencil, yang sebagian besar warganya bahkan tidak pernah mencicip kursi sekolah.

BACA JUGA:

Kisah Inspiratif Pengusaha Buta yang Berhasil Bangun Perusahaan Bernilai Miliaran Rupiah

Kisah Wanita yang Sadar Sedang Hamil Saat Sudah Melahirkan

Sadis, Profesor Paksa Siswa Minum Minuman Keras Agar Lulus Ujian

‘Pay as You Trash’, Salah Satu Dari Tiga Cara Unik Korea Selatan Atasi Limbah Makanan

Seperti Bidadari, Simak Peserta Kontes Kecantikan Transgender Terbesar di Dunia

Belum Sampai Pertengahan, Tahun 2016 Sudah ‘Rampok’ Banyak Bintang Berbakat Dunia

“Banyak anak-anak yang sebenarnya sudah duduk di kelas tiga dan empat,” katanya kepada Business Insider. “Namun pada kenyataannya, mereka tidak pernah belajar membaca dan menulis.

Hosseini tidak hanya sekadar mendistribusikan buku untuk anak-anak – ia juga berbicara dengan mereka tentang topik-topik seperti perdamaian, toleransi, dan mengapa mereka harus menjauhi narkoba.

“Suatu waktu, saya berbicara dengan anak-anak di sebuah desa tentang senjata, menggunakan slogan ‘katakan tidak untuk senjata dan ya untuk buku,'” kenangnya.

“Ada kisah lagi saat saya pergi ke desa, anak-anak telah mengumpulkan semua senjata mainan plastik dan menyerahkannya kepada saya – tapi mereka punya satu syarat: mereka ingin desa mereka menjadi yang pertama untuk menerima pengiriman buku sehingga mereka bisa menjadi yang pertama memilih. Ini adalah saat paling menyenangkan dalam hidup saya! ”

Sayangnya, Hosseini dipaksa untuk bekerja dengan anggaran yang terbatas dan selalu tidak bisa mendapatkan jenis buku yang diminta anak-anak – terutama komik tentang Batman yang mereka lihat di TV.

Pekerjaannya juga tidak tanpa resiko – ia kadang-kadang menerima ancaman telepon yang memperingatkan dia agar hanya mendistribusikan buku-buku agama atau dia akan menerima konsekuensi. Istrinya, yang juga seorang guru juga mendapat ancaman, siswa pernah memperingatkannya bahwa beberapa kerabatnya di Taliban berencana untuk membunuhnya.

“Meskipun dengan kesulitan-kesulitan ini,” kami ingin terus maju, “kata Hosseini. “Anak-anak ini hidup pada kehidupan yang stres – mereka hidup dalam masyarakat yang penuh kematian dan kekerasan, dan orang tua mereka juga sering menyiksa mereka. Jadi kami ingin tetap memberikan sedikit kebahagiaan dan ketenangan dalam hidup mereka melalui buku-buku. “

Baca Juga :

Leave a comment