Tarian Tradisional Kite Murik, Cara Leluhur Mitra Buka Lahan Baru

Reporter : | 10 Feb, 2016 - 4:27 pm WITA

Tarian Tradisional ,Kite Murik,Kampung Liwutung, Meng Kuhu,RATAHAN, (manadotoday.co.id) – Satu lagi tarian tradisonal yang ada di Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra). Tarian Kite Murik adalah tarian yang melambangkan semangat para leluhur dalam kegiatan mapalus untuk membuka suatu hutan untuk dijadikan lahan untuk menanam padi.

Tarian ini diperagakan oleh empat pasangan muda-mudi yang melambangkan bagaimana cara nenek moyang melakukan pekerjaan menanam.

Menurut Tua Kampung Liwutung Meng Kuhu, dulunya para leluhur bersama masyarakat yang ada membangun sebuah kesepakatan bahwa hutan yang telah dibuka dijadikan kebun adat.

“Semakin banyak masyarakat di Liwutung berkumpul dan disepakati oleh tiap-tiap suku untuk membuka lahan baru atau biasa disebut barintis,” jelas Kuhu.

Pria lanjut usia ini melanjutkan, ketika para leluhur sepakat dan melakukan barintis, para leluhur melaksanakan seremonial-seremonial adat. Mulai dari pembukaan kebun, menanam sampai panen dengan menggunakan budaya mapalus yang masih ada sampai sekarang ini.

“Sebelum menanam para leluhur melaksanakan seremonial adat yang disebut Ima Tuntun Kite Makinawi. Artinya, meminta restu lewat berdoa kepada Tuhan untuk kiranya memberkati benih-benih yang ditanam agar memberikan hasil yang terbaik,” tambah Opa Meng.

Pada waktu itu, benih yang paling banyak ditanam adalah padi, cengkih, kelapa dan jagung. Dengan semangat mapalus, para leluhur Muwokar irik umak maka umpak wia en, artinya mengurus kebun sampai otele kite manipo atau waktu panen.

Pada saat itu juga, para leluhur menyiapkan tempat berupa lumbung-lumbung, gubuk atau sabuah untuk menampung hasil panen tanpa lupa untuk kite mapakamang si yuwok fomamey kawiya en artinya mengucap syukur kepada Tuhan untuk hasil yang diperoleh.

Tarian ini dikreasikan oleh pemuda-pemuda di Desa Liwutung antaranya Meygever Onsu SPd, Junaedy Angkouw SE, Mardy Kawahe, Stovel Lengkey, SPd, Christy Umboh, Juniarty Angkouw, Yuliana Angkouw, dan Theofany Angkouw. (ten)

Baca Juga :

Leave a comment