Kota-kota Ini Mungkin Akan Jadi ‘Kota Mati’ Akibat Pemanasan Global

Reporter : | 29 Okt, 2015 - 5:07 pm WITA

MANADOTODAY – Sejumlah kota di kawasan Teluk Persia mungkin mungkin akan jadi kota mati pada akhir abad akibat pemanasan global jika manusia tidak membatasi emisi gas rumah kaca, menurut penelitian baru.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Climate Change, memproyeksikan bahwa pada akhir abad, gelombang panas di Doha, Abu Dhabi dan Bandar Abbas menyebabkan suhu di mana secara fisik manusia tidak dapat bertahan hidup selama periode waktu yang berkelanjutan sekitar tahun 2100.

Ambang, diperkirakan sekitar 170ºF, suhu di mana panas dan kelembaban mencegah manusia untuk menjalankan fungsi alami mendinginkan tubuh.

“Gelombang panas yang parah tersebut diprediksi terjadi hanya sekali setiap dekade atau setiap beberapa dekade,” kata penulis studi Elfatih A.B Eltahir, seorang profesor di Massachusetts Institute of Technology dikutip dari businessinsider.com.

Bahkan tanpa gelombang panas, warga daerah tersebut harus mempersiapkan diri akan suhu ekstrim baru yang akan menggantikan suhu normal di daerah tersebut. Di beberapa kota di seluruh wilayah, suhu pada musim panas bisa melebihi 140ºF (60ºC).

Gelombang panas yang ekstrim diperkirakan dalam penelitian ini akan mengganggu aktivitas warga serta industri di wilayah tersebut. Salah satunya, pekerja tidak akan mampu untuk tinggal di luar untuk waktu yang lama, mempengaruhi sejumlah usaha, termasuk industri minyak yang sebagian besar dijalankan di daerah-daerah tersebut. Gelombang panas juga akan mempengaruhi jutaan umat Islam yang menunaikan ibadah haji ke Mekah setiap tahun.

Gelombang panas yang mematikan telah mempengaruhi banyak daerah di seluruh dunia. Lebih dari 2.300 orang tewas di India awal tahun ini akibat gelombang panas. Para peneliti di belakang studi baru ini mengatakan gelombang panas yang mereka pelajari “secara signifikan lebih merusak.”

Gelombang panas ekstrim yang diperkirakan dalam penelitian ini mungkin bisa dihindari jika negara-negara di seluruh dunia mengambil tindakan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca mereka, para peneliti studi mengatakan.

Penelitian ini datang hanya beberapa minggu sebelum konferensi di mana para pemimpin dari seluruh dunia berharap mengumumkan kesepakatan global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan menjaga suhu rata-rata dari kenaikan lebih dari 3,6 ° F (2 ° C) pada tahun 2100.

Baca Juga :

Leave a comment