Depresi Ayah Dapat Mempengaruhi Anak, Bahkan Sebelum Mereka Lahir

Reporter : | 28 Jul, 2015 - 10:29 pm WITA

parenting, keluarga, tips keluarga

(foto: pixabay)

ManadoToday – Anak-anak yang ayahnya mengalami depresi selama kehamilan lebih mungkin untuk menunjukkan masalah emosional dan perilaku saat mereka berusia 3 tahun, penelitian menunjukkan.

Temuan ini berasal dari studi yang meneliti lebih dari 30.000 anak-anak Norwegia. Ketika ibu mereka hampir setengah jalan kehamilan, ayah mereka menyelesaikan kusioner tentang kesehatan mental yang menilai gejala kecemasan dan depresi. Para peneliti juga mengumpulkan informasi kesehatan mental dari orang tua mulai dari pra dan pasca kelahiran dan perkembangan emosi dan perilaku anak-anak saat berusia 36 bulan.

Tiga persen dari ayah yang memiliki tekanan psikologis tingkat tinggi, anak-anak mereka juga memiliki masalah emosional dan perilaku yang lebih tinggi – bahkan setelah para peneliti memperhitungkan faktor kontribusi lain, seperti umur, pendidikan, dan status perkawinan, dan kesehatan mental ibu.

“Studi ini menunjukkan bahwa beberapa risiko masalah emosional, perilaku, dan sosial anak di masa depan dapat diidentifikasi selama kehamilan,” kata peneliti Anne Lise Kvalevaag, PsyD, seorang mahasiswi di Universitas Bergen dikutip dari webdm.com.

Para peneliti yang laporannya diterbitkan dalam jurnal Pediatrics, mengutip beberapa penjelasan yang mungkin dapat dihubungkan dengan tekanan psikologis prenatal ayah dan masalah emosional dan perilaku pada anak usia muda:

– Anak-anak mungkin telah mewarisi kerentanan genetik untuk masalah tersebut dari ayah mereka.

– Calon ayah (depresi) mungkin telah membawa dampak negatif bagi kesehatan mental ibu yang sedang hamil

– Depresi prenatal ayah mungkin hanya memprediksi dia akan tertekan setelah bayi lahir.

“Ayah yang memiliki masalah kesehatan mental selama periode prenatal cenderung terus mengalami tekanan selama masa bayi anak, yang secara langsung dapat mempengaruhi perkembangan anak saat berusia muda,” kata psikolog Elizabeth Harvey, PhD, dari Universitas Massachusetts, Amherst.

Baca Juga :

Leave a comment