Anak yang Terkena Bully Bertambah Tua Lebih Cepat

Reporter : | 15 Jul, 2015 - 1:39 pm WITA

Bully, parenting, keluarga, anak

(foto: pixabay)

ManadoToday – Bekas luka emosional dan fisik yang didapat dari tindakan penindasan atau bullying atau jenis lain dari kekerasan dapat berdampak lebih dalam dari yang dibayangkan pada anak.

Penelitian menunjukkan bahwa DNA pada anak-anak yang mengalami kekerasan, mengalami kerusakan yang biasanya terkait dengan penambahan usia.

“Anak-anak yang mengalami kekerasan ekstrem pada usia muda memiliki usia biologis yang jauh lebih tua dari anak-anak lain,” kata peneliti Idan Shale seorang peneliti di bidang psikologi dan neuroscience di Duke Institute for Genome Sciences & Policy di Durham, N.C dikutip dari webdm.com.

Anak-anak yang terkena bullying menua lebih cepat dari anak-anak lain

Untuk melihat apakah kekerasan pada remaja mempengaruhi kerentanan terhadap penuaan, penulis penelitian berfokus pada telomere, atau strip kecil bahan genetik yang terlihat seperti ekor pada ujung kromosom manusia. Pemendekan telomere merupakan indikator penuaan sel.

Para peneliti menganalisis sampel DNA dari anak kembar saat mereka berusia 5 dan 10 tahun dan membandingkan panjang telomer dengan anak yang mengalami tiga jenis kekerasan: kekerasan dalam rumah tangga antara ibu dan pasangannya, sering dibully, dan penganiayaan fisik oleh orang dewasa. Ibu juga diwawancarai ketika anak-anak berusia 5, 7, dan 10 tahun untuk membuat catatan kumulatif paparan kekerasan.

Anak-anak yang mengalami kekerasan secara kumulatif menunjukkan percepatan pemendekan telomer mulai dari usia 5 sampai 10 tahun. Terlebih lagi, anak-anak yang terkena berbagai bentuk kekerasan memiliki telomer yang memendek lebih cepat, penelitian menunjukkan.

“Anak-anak yang mengalami kekerasan tampaknya memiliki tingkat penuaan yang lebih cepat,” kata Shalev.

Apakah perubahan ini reversibel atau tidak masih belum jelas. Shalev dan rekannya berencana untuk meneliti anak-anak dalam waktu yang cukup lama untuk melihat apa yang terjadi di kemudian hari. Temuan mereka dipublikasikan dalam Molecular Psychiatry.

Baca Juga :

Leave a comment