Koalisi Kewilayahan Dinilai Berpeluang Jadi Pemenang Pilkada

Reporter : | 11 Jun, 2015 - 11:13 am WITA

Koalisi Partai politik, pilkada minsel, minahasa selatan, Yubel Pandey, Dr Ferry Daud Liando SIP

Dr Ferry Daud Liando SIP MSi

AMURANG, (manadotoday.co.id) – Koalisi antar Partai politik (parpol) yang bertujuan saling memberikan dukungan suara pada saat pemilihan kepala daerah (Pilkada), belakangan ini dinilai sejumlah pengamat politik, bukan lagi menjadi faktor penentu kemenangaangkan di Pilkada. “Saat ini, koalisi yang bisa menjadi penentu kemenagan di Pilkada adalah koalisi kewilayahan. Artinya, calon yang memiliki peluang besar memenangkan Pilkada, bukan dari satu wilayah yang sama, namun pasangan calon dari dari dua wilayah yang berbeda,” ujar Yubel Pandey, salah satu tokoh pemuda asal Kecamatan Tatapaan Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel).

Semisal kata Pandey, pada pilkada 2010 lalu di Kabupaten Minsel, dimana Christiany Eugenia Paruntu mewakili wilayah Amurang berpasangan dengan Sonny Tandayu mewakil Minahasa Selatan bagian atas, berhasil menumbangkan dominasi Gemmy Kawatu dan Felly Runtuwene yang notabene berasal dari satu wilayah, sehingga berhasil keluar sebagai jawara.

“Asumsinya jelas, di pilkada sebagian besar warga pasti akan memilih figur atau calon yang mewakili daerahnya bukan lagi partai yang mengusung. Nah ini boleh jadi parameter pasangan calon yang ingin menang di Pilkada Minsel, nanti,” pungkasnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh pengamat politik dan pemerintahan Sulawesi Utara Dr Ferry Daud Liando SIP MSi. Menurutnya koalisi antar parpol belakangan tidak berpengaruh besar dalam Pilkada. “Selain koalisi kewilayahan yang juga ideal adalah koalisi etnik atau golongan kepercayaan,” kata Liando.

Ia mencontohkan saat pasangan Gubernur Sinyo Harry Sarundajang (SHS) dan Fredy Sualang, menjadi pemenang pada Pemilihan Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) pada tahun 2015. Manakala SHS yang berasal dari golongan KGPM berpasangan dengan Sualang yang berasal dari GMIM. “Periode kedua SHS tahun 2010, faktor penentu kemenangan, yakni kewilayahan. Dimana SHS Minahasa berpasangan dengan Djouhari Kansil yang dari Nusa Utara,” paparnya.

Contoh lainnya kemenangan pasangan calon di Pikada yang karena fakctor etnik atau golongan kepercayaan diuraikan Liando yakni, Kota Bitung dimana Hanny Sondakh Katolik dan Cina, menggandeng Lomban yang GMIM dan Minahasa.

Di kabupaten Bolmong Timur Sehan Landjar yang Muslim menggandeng Meidy Lensun yang Kristen, Kabupaten Bolmong Salihi Mokodongan Muslim berpasangan dengan Yanni Tuuk yang Kristen, sementara di Sitaro Tony Supit yang etnis Cina menggandeng Salindeho yang pribumi, sehingga keluar sebagai pemenang di Pilkada.

“Nah berdasarkan hal inilah kemudian dapat disimpulkan factor kewilayahan dan etnis serta golongan kepercayaan jadi penentu kemenangan di pilkada belakangan ini. Bukan karena koalisi parpol,” terangnya.

Pun demikian Liando juga menilai koalisi antar parpol pada pilkada di Kabupaten Minsel, tidak akan berpengaruh lebih terutama dalam pengumpulan suara. “Yang berpengaruh dan memiliki peluang besar menang di Pilkada yakni kewilayahan, etnik dan golongan kepercayaan. Dan ini sudah terbukti pada Pilkada di sejumlah daerah di Sulut,” imbuhnya.

Di Kabupaten Minsel terbagi dari 3 zona mayoritas yaitu zona Minsel bawa meliputi Kecamatan Tumpaan, Tatatapaan, Sultra dan Tareran, zona Amurang meliputi Amurang Raya, Tenga dan Tombasian dan zona Minsel bagian atas (Minsela) yakni Kumelembuai, Motoling raya, Ranoyapo, Tompasobaru, Maesaan dan Modoinding.

“Dengan demikian jika terjadi kombinasi antara figur Amurang dan figur Minsela berpeluang besar menang di Pilkada, begitupun jika figur Amurang berpasangan dengan Minsel bagian bawa, atau figur Minsela berpasangan dengan Minsel bagian bawa juga mempunyai kans yang sama menang di Pilkada yang akan dilaksanakan 9 Desember 2015 mendatang,” pungkasnya. (lou)

Baca Juga :

1 comment

  1. April mengatakan:

    Sebuah penilaian yg terlalu sektarianism… Dr penilaian ini maka setidaknya dpt ditarik dua kesimpulan yg sangat mendiskreditkan. 1. Bahwa seolah-olah visi-misi yg diemban para kandidat ketika ikut dlm pilkada tdk berperan sama sekali dlm menjaring para pemilih dan karenanya tdk perlu punya visi-misi utk ikut pilkada cukup punya etnis dan agama yg sama dgn mayoritas pemilih maka pasti terpilih. Jd org bodohpun bisa ikut bertarung dlm pilkada walaupun nantinya tdk bisa memimpin dan membangun sulut. 2. Bahwa seolah-olah, rakyat/masyarakat yg ada di Sulut adalah masyarakat yg bodoh yg memilih figur hanya krn satu daerah atau satu agama dan tidak memiliki kemampuan untuk mengkritisi visi-misi yg ditawarkan para calon.

    Harusnya media sekelas Manado Today mengambil pendapat dr pengamat lain agar ada balance dlm pemberitaan & tdk disesatkan oleh pendapat satu orang saja…

Leave a comment