Cara Menangani Anak yang Menderita Sindrom Muntah Siklik

Reporter : | 24 Mei, 2015 - 11:33 pm WITA

Sindrom Muntah Siklik, Muntah Siklik, obat Muntah Siklik, sindrom

(foto: pixabay)

ManadoToday – Sindrom muntah siklik adalah penyakit yang menyebabkan mual dan muntah yang parah dan berlangsung selama berhari-hari. Penyakit ini umumnya dimulai antara usia 3 dan 7 tahun. Pada orang dewasa hal ini sering dikaitkan dengan peningkatan risiko migrain.

Untuk gejala Sindrom muntah siklik menyebabkan mual dan muntah yang parah, mual dan muntah kadang-kadang sering terjadi 12 kali per jam. Pada anak-anak biasanya berlangsung hanya satu atau dua hari, tetapi pada orang dewasa dapat berlangsung hampir satu minggu. Mual dan muntah biasanya dimulai saat larut malam atau pada pagi hari.

Orang yang menderita sindrom muntah siklik terlihat pucat dan kelelahan, menderita sakit kepala, demam, pusing, diare, sakit perut. Bahkan beberapa orang juga sensitif terhadap cahaya.

Penyebab sindrom muntah siklik belum diketahui, tetapi serangan muntah dapat dipicu oleh pilek, alergi atau masalah sinus, karena stres emosional. Makan makanan tertentu seperti cokelat atau keju, atauh bahkan makan berlebihan. Cuaca panas, kelelahan fisik atau menstruasi dan mabuk juga bisa menjadi pemicu.

Banyak anak-anak yang memiliki sindrom muntah siklik memiliki riwayat keluarga yang menderita migrain atau mulai mengalami migrain ketika mereka semakin tua.

Untuk perawatan dan obat, tidak ada obat untuk sindrom muntah siklik. Serangan yang parah mungkin memerlukan rawat inap untuk pemberian cairan intravena. Obat anti-mual dan obat penenang juga dapat diberikan melalui intravena.

Dalam banyak kasus, jenis obat yang digunakan untuk migrain sering membantu menghentikan atau bahkan mencegah muntah siklik. Obat-obat ini termasuk antidepresan trisiklik, seperti amitriptyline dan nortriptyline, triptans, seperti sumatriptan (Imitrex) dan zolmitriptan (Zomig), dan analgesik, seperti ibuprofen (Advil, Motrin dll). (artikel dkutip dari healthcaremagic)

Baca Juga :

Leave a comment